
Merrik menatap Lala penuh dengan iba. “Aku tidak pernah membuangmu karena aku tidak pernah memungutmu.”
Wajah Lala langsung pucat pasi. “Kamu yang memberitahu penyakitmu padanya?”
“Dia menyadarinya.”
“Bohong! Pasti kamu yang memberitahunya, dia adalah orang utama yang tidak akan pernah kamu memberitahu dari pada orang lain.”
“Tidak, aku tidak berbohong! Dia sendiri yang mengetahuinya. Sama seperti dirimu yang mencaritahu sendiri tentangku.”
“Hahaha, sepertinya dia sangat berusaha keras padamu! Lalu, kenapa dia meninggalkanmu jika tidak keberatan dengan keadaan mu dan sekarang malah kembali lagi!” ucap Lala dengan air mata, namun juga dengan senyuman yang menyedihkan.
“Dia tidak pernah meninggalkanku, aku lah yang mengusirnya selama ini.”
“Kau hanya membuat alasan untuknya!” protes Lala.
“Lala, ada hal antara aku dan Elena yang tidak dapat di mengerti oleh orang lain.”
“Apa aku orang lain untukmu? Bagaimana dengan perasaanku padamu? Apa kau mengerti perasaanku?” tanya Lala berurai air mata.
Merrik menghembuskan nafasnya pelan, dengan merasa bersalah berkata, “Maafkan aku, aku sangat mencintai Elena. Aku rasa kamu mengetahuinya dengan pasti, karena terlalu mencintainya terkadang aku bisa bertindak impulsif, gegabah dalam membuat keputusan. Aku hanya memikirkan kebahagiannya, merasa dengan penyakitku akan membuatnya tidak bahagia maka aku putuskan untuk berpisah dengannya. Berbeda jika berhadapan denganmu, aku bisa dengan tenang menghadapimu, kebersamaan kita benar-benar hanya sebatas melihat hasil dari pengobatan. Ini perbedaan antara cinta dan tidak, aku …,” Merrik menatap sendu pada Lala, bagaimanapun gadis ini sangat membantunya di beberapa tahun Merrik menjalani pengobatan, disaat dia tidak bisa bercerita pada siapapun, gadis ini mencari tahu sendiri dan akhirnya menjadi teman Merrik. “Terima kasih telah menemaniku menjalani pengobatan selama ini, carilah kebahagianmu sendiri.” Merrik selalu menganggap Lala adalah adiknya, namun dia tidak bisa bilang pada Lala karena Elena pun tidak menyukai jika Lala berada di dekatnya.
“Apa maksudmu? Kamu juga menginginkan aku keluar dari perusahaan?” Pandangan mata Lala menjadi buram karena banyaknya air mata yang menggenang.
“Bukankah kamu ingin melanjutkan kuliahmu ke jenjang yang lebih tinggi lagi? Kamu bisa menggunakan uang ini untuk melanjutkan kuliah S2-mu dan bisa untuk biaya hidupmu selama mengemban ilmu.” Merrik memberikan selembar cek, entah berapa banyak angka nol yang tertera pada cek tersebut.
“Ini semua pasti permintaannya ‘kan? Dia membenciku!” teriak Lala.
“Tidak, ini murni adalah keinginanku.”
“Kenapa? Kenapa tega padaku?”
“Aku hanya ingin membuat nyaman istriku, aku tidak ingin membuat perasaannya buruk jika kamu masih ada di sekelilingku.”
“Apa kamu akan membuat orang lain yang dekat denganmu untuk menjauh darimu karena istrimu merasa tidak senang?”
“Ya,” jawab Merrik pasti. “Selama ini, hanya kamulah yang dekat denganku.”
“Tidak, aku tidak mau! Kebersamaanku denganmu lebih banyak daripada kebersamaannya padamu! Kenapa kamu tidak bisa melihat dari waktu kita bersama? Kenapa kamu memilih dengannya yang jelas-jelas kebersamaan kalian hanya hitungan bulan?”
__ADS_1
“Ini lah cinta, meskipun kebersamaan ku dan Elena hanya hitungan bulan bahkan hanya dalam waktu yang singkat. Namun, hati kami yang terlalu dalam mencintai.”
Lala menangis, air mata tidak hentinya berderai, dia tidak mau menerima cek dari Merrik, berdiri dan berlari keluar dari restoran. Siang yang cerah namun menjadi siang yang mendung untuk Lala. Merrik hanya bisa menatap kepergian Lala.
Keesok paginya, saat Elena akan masuk ke dalam lift, berpapasan dengan Lala, ia dikejutkan dengan Lala yang memeluk kardus berisi barang-barangnya. Lala memandangnya dengan sinis, tatapan penuh kemarahan.
"Kenapa membawa barang-barang?” tanya Elena. Ia tidak tahu bahwa Lala berhenti bekerja. Merrik tidak memberitahu dirinya.
“Tidak usah pura-pura!”
“Pura-pura?” tanya Elena heran.
“Aku yakin kamu lah yang meminta Direktur Bastian untuk memecatku ‘kan?”
“Tidak, aku tidak melakukan apapun.”
“Cih, dasar munafik! Elena, aku akan buktikan bahwa kehadiranmu di hidup Bastian hanyalah membawa masalah untuknya! Tunggu saja tanggal mainnya!” Setelah berkata Lala pergi meninggalkan perusahaan.
Menatap punggung Lala yang semakin mengecil, Elena semakin heran dengan perkataan Lala. Namun, ia tidak akan mempermasalahkannya. Elena pergi ke tempat Merrik, ingin mengetahui dengan jelas. “Ada apa dengan Lala?” tanya Elena.
“Tidak ada apa-apa.”
“Dia hanya ingin melanjutkan kuliahnya.”
“Merrik jangan bohong padaku! Kita sudah sepakat untuk tidak berbohong!” tegas Elena.
Merrik mengangkat alisnya. “Tadi kamu panggil aku apa?”
“Apa?” tanya Elena bingung.
“Kamu memanggil namaku langsung!” ucap Merrik menatap Elena.
“Maaf, Pak Merrik.”
“Apa aku setua itu?”
“Lalu aku harus panggil apa?”
Merrik menatap Elena intens. “Aku rindu kamu memanggilku Kak Merrik.” Tatapan sayang Merrik jelas terpancar.
__ADS_1
Elena hanya mengulum senyum, bak remaja yang sedang jatuh cinta. “Tidak mau, ini di kantor.” Elena teringat lagi pada Lala. Kamu belum bilang padaku apa yang sesungguhnya terjadi?”
“Dia benar akan melanjutkan kuliah, aku lah yang memberhentikannya! Aku tidak ingin kamu menjadi tidak nyaman akan keberadaannya di dekatku.”
Elena menutup mulutnya. “Kamu serius karena itu memberhentikannya?”
“Ya, aku tidak ingin kamu merasa tidak nyaman.”
...***...
Pada jum’at malam ada pelelangan perhiasan bersejarah, Merrik membawa Elena menghadirinya. Tidak ada yang curiga mengapa Elena yang di bawa, karena semua orang tahu bahwa Elena sebagai kepala designer. Para perusahaan perhiasan banyak menghadiri pelelangan tersebut. Begitupun dengan perusahaan kompetitor, Jewel Bright. Sang presdir, Jimmy menghampiri Merrik. “Selamat malam Direktur Bastian,” sapa Jimmy.
“Malam, Direktur Jimmy,” ucap Merrik.
“Ku dengar produk barumu akan rilis, kenapa sampai sekarang masih belum ada kabar?” tanya Jimmy dengan nada menyindir.
“Kami hanya sedang mempersiapkan produk yang sangat spesial, jadi memerlukan persiapan yang matang.”
“Oh, seperti itu. Baiklah, semoga produkmu berhasil!” ucap Jimmy dengan sindiran.
“Ya, terima kasih! Bagaimana hasil penjualan produk barumu? Aku dengar kamu bahkan tidak bisa menjelaskan arti dari produk barumu itu?” tanya Merrik santai.
Jimmy langsung pucat, bagaimana mungkin ia tahu arti dari perhiasan yang ia keluarkan, ia mendapatkannya dari Riska, karyawan Merrik yang berkhianat. “Sesuatu yang di awali dengan hal yang buruk maka akan menghasilkan sesuatu yang buruk pula!” ucap Merrik dengan sedikit berbisik pada Jimmy.
“Lebih baik kamu pikirkan saja perusahaanmu sendiri karena orang yang berada dekat denganmu bukan berarti dia setia!” ucap Jimmy dengan memandang Elena yang ada di sampingnya. Entah tatapan untuk mengintimidasi Merrik ataukah terpesona pada kecantikan Elena.
Merrik menatap Jimmy tajam, bukan karena kata-kata yang terlontar namun karena menatap istrinya intens. “Lebih baik kamu jaga tatapanmu!” ancam Merrik. Dia sangat tidak suka Elena di tatap lelaki lain.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Jangan lupa untuk tap like, love, vote, fav, ditunggu juga komentarnya.. 😊😊😊😘😘🥰
Semoga sehat selalu 😘🥰😘
Salam Age Nairie 🥰😘🥰🥰
Age membawa rekomendasi novel temen Age nih.. punya Author Yayuk 😊 cus kepoin 😊
__ADS_1