Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 42 Yang tersakiti itu aku, bukan dia!


__ADS_3

Elena keluar ruangan Merrik, dia menuju lift biasa para karyawan lewat. Saat pintu lift terbuka, berhadapan dengan Dion yang akan keluar dari lift.


Dion terkadang datang menemui Merrik untuk minta pendapat, bagaimanapun Merrik adalah atasannya dulu, sekaligus temannya. Meskipun kini dia bekerja di bawah Ricci, Merrik tetap memantau perusahaan Ayahnya. "Elena!" ucap Dion.


"Kak, Dion."


"Kamu kembali?"


"Ya, tidak! Maksudku aku tidak sengaja bekerja di sini, aku tidak tau ini perusahaan Merrik." Elena sudah tidak memanggil Merrik dengan sebutan Kakak lagi.


"Oh begitu. Bisa kita bicara?" tanya Dion.


"Aku harus bekerja, Kak."


"Hanya sebentar."


"Baiklah."


Elena dan Dion pergi ke cafe dekat kantor. Mereka duduk di pojok dengan dinding kaca yang bisa melihat keluar. Dion memesan minuman untuk mereka berdua. "Bagaimana kabarmu?" tanya Dion.


"Seperti yang Kakak lihat, Baik." Elena mengambil minumannya dan mulai meminum menggunakan sedotan.


"Apa kamu berencana kembali pada Merrik?"


Elena tersedak minumannya, mengambil tisu dan membersihkan bibirnya. "Apa kata Kakak?"


"Apa kamu datang kembali untuk rujuk dengan Merrik?"


"Tidak, aku hanya secara tidak sengaja bekerja di kantornya. Aku tidak tau dia mendirikan perusahaan perhiasan."


"Apa kamu sudah tidak mencintainya?"


"Kak, jika bertemu denganku hanya membicarakan hal ini lebih baik kita akhiri saja."


"Maaf, aku hanya ingin tau. Bukan maksudku untuk mencampuri urusan kalian, hanya saja aku tidak tega dengan Merrik."


"Yang tersakiti itu aku, bukan dia! Dia yang membuangku seperti sampah. Dan satu hal lagi, dia menyakiti hati orang tuaku. Mana ada orang tua yang tidak tersakiti melihat anak perempuannya hanya digunakan untuk kesenangannya saja. Dulu, aku pikir apa yang dilakukannya adalah hal yang wajar. Semakin dewasa aku baru menyadari bahwa tindakannya sangat memalukan," keluh Elena.


Elena teringat kembali saat bersama Merrik, saat Merrik selalu menolak untuk meresmikan pernikahan, saat Merrik memberinya obat pencegah kehamilan dan saat Merrik mengajarinya berbagai hal di atas ranjang dengan segala macam jenis kostum. Elena yakin itu semua hanya untuk kesenangan nya semata tanpa ada rasa cinta untuk nya.


"Tapi Merrik juga menderita, setelah kepergianmu dia semakin tertutup, kesehariannya hanya digunakan untuk bekerja. Dia bahkan berseteru dengan Ayahnya!" ujar Dion.


"Apa? Omong kosong! Bagaimana mungkin dia menderita, sedangkan dia bisa bersama wanita yang dicintainya, terlebih sekarang mereka telah menikah!"

__ADS_1


"Siapa yang menikah?" tanya Dion.


"Bukankah dia sudah menikah dengan Kak Clara?" tanya Elena.


"Menikah dengan Clara?" tanya Dion bingung.


"Ya," jawab Elena ragu. Rumor yang beredar Merrik telah menikah dan Elena melihat sendiri di jari manis Merrik melingkar cincin pernikahan.


"Merrik tidak menikah. Clara memang sudah menikah dan memiliki anak. Namun, dia menikah dengan Pras kekasihnya."


Elena semakin bingung dengan perkataan Dion. "Apa maksud Kak, Dion?"


"Yang aku dengar dari Clara, Merrik memintanya datang ke rumah sakit dan membuat drama seolah mereka kembali bersama. Namun, itu semua hanya sebuah kepalsuan."


"Lalu kenapa dia membuangku seperti barang bekas?" tanya Elena.


"Itu juga yang ingin ku tau. Saat kepergianmu, Merrik memintaku untuk terus mencari informasi tentangmu. Namun, sepertinya Ayahmu menutup semua informasi."


"Maksud Kakak, Orang tuaku tahu jika Kak Merrik mencariku?"


"Ya."


Elena menghela napas. "Bukankah apa yang dilakukan oleh orangtuaku suatu hal yang wajar?"


"Kamu benar, aku hanya heran dengan apa yang dilakukan oleh Merrik. Dia masih mencintaimu Elena. Dia bilang padaku, dia melepasmu karena ada kemungkinan tidak bisa berjalan lagi. Tapi kamu bisa lihat bukan, kalau Merrik bisa berjalan normal sekarang."


"Tidak, aku yakin dia masih mencintaimu. Tidak mungkin dia mencarimu hanya sekedar ingin tau keadaanmu seperti penguntit. Terlebih lagi, dia sering ke desamu dan menginap di rumahmu."


Elena sempat tertegun, bagaimana mungkin Merrik ke rumahnya yang di desa. Apakah benar Merrik masih mencintainya? Tidak, jika masih mencintainya tidak mungkin memilih untuk berpisah! Jika alasannya tidak bisa berjalan, nyatanya saat ini dia berjalan dengan normal.


Jika kemungkinan itu benar, seharusnya Merrik langsung menemuinya saat sudah bisa berjalan. Elena rasa bukan itu alasannya. Orang tua mereka semua sudah memberi restu, sudah tidak ada penghalang apapun diantara mereka. Orang tua mereka bukan alasan Merrik meninggalkan nya. Selain karena tidak ada cinta, tidak ada alasan lagi bagi Merrik meninggalkannya. "Tapi kenyataannya seperti itu Kak. Tidak ada cinta."


Elena tiba-tiba teringat perkataan Lala yang telah menolong Merrik. "Kak Dion kenal dengan Lala?"


"Sekertaris Merrik?" tanya Dion.


"Ya. Siapa dia?"


"Aku tidak mengenal pasti, yang aku tahu Merrik pernah menolongnya, semua biaya pendidikannya ditanggung semua oleh Merrik."


"Apa hubungan mereka?"


"Yang aku tau hanya sebatas bos dan sekretaris. Kenapa?"

__ADS_1


"Tidak apa. Hanya bertanya."


"Aku harap kalian bisa rujuk."


"Itu tidak mungkin! Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku pamit dulu Kak."


Elena pergi meninggalkan Dion, ada rasa ingin tau tentang Merrik, tetapi ada rasa untuk tidak terlibat lagi dengan pria itu. Berjalan terus hingga tanpa sadar sudah sampai di ruangannya. Suasana ruangan sedikit berbeda setelah kedatangannya, rekan kerja saling berbisik. "Eleanor, tidak di sangka kamu bisa melakukan ini!" ucap Daniar menghampiri Elena.


"Apa maksudmu?" tanya Elena bingung.


"Kamu 'kan yang membocorkan design perusahaan kita?" ujar Daniar dengan suara naik satu oktaf.


"Tidak, jangan asal menuduh! Ini semua sedang di selidiki, penyusupnya pasti akan ketahuan. Apa kamu punya bukti hingga menuduhku?"


"Yang menyimpan design itu hanya kamu, dan kamu selaku kepala designer. Yang lain tidak berhak menyimpannya, jadi siapa lagi kalau bukan kamu?" ujar Daniar.


"Hanya berdasarkan itu kamu menuduhku?"


Elena memijat kepalanya, entah apa yang dipikirkan Daniar hingga menuduhnya tanpa bukti. "Daniar, Pak Bastian sedang menyelidiki pelakunya. Jadi jangan asal menuduh dulu. Kita tunggu saja hasilnya. Lagi pula aku sudah tau pelakunya, aku hanya sedang menunggu bukti."


Daniar agak bimbang, hatinya bilang Elena tidak mungkin melakukannya. Namun, Riska bilang kemungkinan terbesar pelakunya Elena atau dirinya sendiri. Daniar hanya melindungi dirinya sendiri jika ada yang menuduhnya, meskipun ia tidak bersalah. Terkadang yang benar bisa menjadi salah dan yang salah bisa menjadi benar. Dunia kerja begitu kejam, saling fitnah untuk melindungi diri sendiri bisa saja terjadi.


"Kalau bukan kamu siapa lagi? Kemungkinan hanya kamu dan Daniar, karena kalian lah yang memegang design tersebut!" ucap Merry salah satu designer yang berdiri di samping Riska.


Elena memejamkan matanya sedetik. "Aku tegaskan sekali lagi, kita tunggu kabar selanjutnya, kasus ini sedang di selidiki. Jadi, kuminta jangan seperti orang yang tidak memiliki etika kerja yang menuduh sembarangan! Aku yakin kalian adalah orang-orang berpendidikan yang akan menyelesaikan masalah dengan cara yang bijak dan bukan saling memprovokasi tanpa bukti seperti ini. Kita orang-orang yang memiliki adab dan etika. Gunakanlah otak kalian untuk berpikir jernih. Bukan saling berteriak seperti anjing yang saling mengonggong."


Merrik melihat dari pintu masuk, melihat bagaimana cara Elena menyelesaikan masalah. Gadisnya sudah menjadi wanita dewasa. Andaikan dulu, pasti Elena akan menangis. Dia menghampiri Elena. "Eleanor."


Elena menoleh, memutar bola matanya, baru dua jam lalu bertemu dengannya, saat ini harus bertemu lagi. "Iya, Pak."


"Ikut saya ke kantor."


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


...Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ☺️...


...Age Nairie mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri....


...Kepada hati yg pernah saya sakiti entah itu sengaja ataupun tidak, kepada amanah ataupun janji yg pernah saya lalaikan, mohon di maafkan segala perkara. Jika berat, izinkan saya untuk mengetahui cara untuk mendapat maaf dari teman² readers 🙏🙏🙏...


...Mohon maaf yg sebesar-besarnya🙏...


...Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin☺️🙏...

__ADS_1


...Sekian dan Wassalamu'alaikum....



__ADS_2