
Hari minggu begitu cerah, Arka menepati janjinya untuk pergi ke taman hiburan dengan Melena. Dia datang jam delapan. "Hallo Om." Melena berlari ke arah Arka.
"Hallo Princess Melena. Apakah sudah siap?" tanya Arka.
"Sudah, Mommy boleh ikut yah?" Pinta Melena.
"Tentu saja," ucap Arka pasti.
Amel dan Elena keluar dari dalam rumah. "Arka, Tante nitip El dan Mel yah?" ucap Amel.
"Pasti Tante," ujar Arka tersenyum.
Arka, Elena dan Melena masuk ke dalam mobil dengan formasi yang sama seperti semalam. "Maaf ya merepotkan mu, Mommy memaksaku untuk ikut dengan kalian!" ujar Elena.
"Tidak apa. Semakin banyak orang akan semakin asik." Arka berbicara dengan fokus ke kemudi. Mereka sampai di tempat tujuan. Elena takjub dengan pemandangan permainan di depannya. Masa mudanya hilang, dia tidak pernah ke taman hiburan di alam terbuka, saat masih kuliah pun dia hanya menyibukkan diri dengan belajar dan mengasuh anak, dulu Merrik sempat menjanjikan untuk pergi ke taman hiburan. Namun, itu semua tidak pernah terlaksana. Kini, dia pergi dengan laki-laki lain.
Mereka bertiga asik bermain di taman hiburan, dipandang orang lain mereka bagaikan sebuah keluarga yang harmonis. Elena melihat senyum Melena yang terlihat sangat tulus. Setiap ekspresi anak kecil adalah sebuah kejujuran. Tidak dapat dibohongi, tidak seperti manusia dewasa yang bisa merubah ekspresi wajah yang sedih bermetamorfosis menjadi bahagia. Begitu pula sebaliknya.
Arka mengabadikan liburan mereka dengan berfoto bersama, keceriaan di wajah Elena dan Melena tergambar dengan jelas. Elena mencoba berbagai wahana yang tersedia, tertawa dan menjerit dengan bebas.Arka melihat itu membuat dirinya pun bahagia. "Keluarga yang sempurna!" ucap seorang wanita yang berpapasan dengan mereka. Arka tersenyum, Elena yang mendengar pun ikut tersenyum namun bukan senyum bahagia melainkan senyum miris.
"Mel, ayo kita pulang. Ini sudah menjelang malam?" bujuk Elena.
"Tidak mau. Melena masih mau main." Tolak Melena.
"Baik, kita main sekali lagi setelah itu kita pulang. Mel, belum makan malam bukan?" ujar Arka.
"Tapi setelah pulang nanti tidak bisa bertemu dengan Om lagi." Rajuk Melena.
"Tentu kita akan sering bertemu lagi. Om akan sering-sering mengunjungi Melena."
"Om, janji ya?" Melena menyodorkan jari kelingkingnya pada Arka.
"Tentu." Arka menyambut jari Melena, menyodorkan jari kelingking nya untuk di kaitkan pada jari tangan Melena.
Mereka memutuskan untuk naik kincir-kincir untuk permainan terakhir mereka. Melihat keindahan malam dari atas kincir. Belum juga kincir bergerak sampai atas, Melena sudah terlelap di pangkuan Arka. Elena menatap keindahan kota. Arka menatap keindahan wanita di depannya. Elena merasa ada yang melihatnya, dia menjadi salah tingkah. "Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Elena.
"Maaf, aku hanya tidak mau menyia-nyiakan pemandangan indah di depanku!" ucap Arka.
__ADS_1
"Apa?"
"Tidak apa."
Mereka hanya terdiam sampai akhirnya kincir turun dan mengharuskan mereka keluar dari kincir-kincir. "Biar aku saja yang menggendong, kamu pasti lelah." Elena menawarkan diri untuk menggantikan Arka menggendong Melena.
"Tidak perlu, aku saja yang menggendong. Kamu juga pasti lelah bukan! Lagi pula Melena tidak berat, menggendongmu saja aku masih sanggup!" ucap Arka tersenyum.
Elena hanya tersenyum canggung. "Ayo kita pulang."
"Ayo."
"Kamu besok kerja berangkat dari rumah?" tanya Arka saat sudah di dalam mobil.
"Iya."
"Berangkat jam berapa? Kita berangkat bersama saja. Kamu seorang wanita, mengemudi sendiri cukup melelahkan."
"Tidak apa, aku masih bisa berkendara. Lagi pula senin pagi dan jum'at sore saja perjalanan jauhnya. Aku tinggal di apartemen selama hari kerja."
Arka mengantar Elena dan Melena pulang, setibanya di rumah, Arka menggendong Melena masuk ke rumah. Elena mengantar Arka menuju ke kamar Melena. "Tidurkan saja di sini!" Tunjuk Elena pada ranjang bertema princess.
Arka meletakkan Melena di atas kasur. "Aku ganti pakaian Melena dulu," ujar Elena.
"Baik." Arka keluar dari kamar Melena. Saat keluar ada Amel di luar pintu. "Mau minum teh dulu?" tanya Amel.
"Boleh Tante."
Amel menyediakan teh untuk Arka, mereka duduk di ruang tamu. "Bagaimana liburannya?" tanya Amel.
"Menyenangkan," jawab Arka.
"Besok kamu bekerja?"
"Iya, kemungkinan besok aku akan datang ke tempat El bekerja. Kebetulan perusahaan ku dan perusahaan El bekerja menjalin kerja sama."
"Apa kamu menyukai El?" tanya Amel to the point.
__ADS_1
Arka cukup terkejut dengan penuturan Amel yang tanpa basa basi. "Apa terlihat jelas?" ucap Arka tertawa ringan.
"Anakku pernah terluka, aku kehilangan dirinya saat masih kecil, dan aku baru menemukannya di usia El tujuh belas tahun. Namun, saat aku bertemu dengannya dia sudah menikah secara siri dengan seorang laki-laki. Pria yang hanya memanfaatkan dirinya sebagai pemuas nafsu tanpa berniat menikahinya secara resmi. Dirinya dibuang seperti sampah oleh lelaki itu, karena itulah El menjadi trauma menjalin hubungan dengan laki-laki." Jelas Amel, dia merasa tidak perlu menutupi masa lalu Elena, dia menginginkan laki-laki yang tulus dengan Elena dan tidak mempermasalahkan masa lalu anaknya itu.
Arka mendengar secara seksama cerita Elena. "Aku tidak keberatan dengan masa lalu Elena!" Tegas Arka.
"Tante mengatakan ini padamu agar kamu tidak ada penyesalan dikemudian hari jika memang kamu ingin mengejarnya."
"Apa tante izinkan saya untuk mengejar Eleanor?"
Amel tersenyum. "Tentu aku mengizinkan, aku yakin kamu tidak akan menyakiti nya."
Elena keluar dari kamar Melena, melihat Arka yang masih ada di ruang tamu bersama Ibunya. "Kamu belum pulang?" tanya Elena.
"Ibu yang memintanya di sini. Arka akan menginap di sini!" ujar Amel.
"Apa!" ucap Elena terkejut. Arka pun terkejut namun dia senang Amel merestuinya.
"Ini sudah larut, kasian jika harus pulang malam-malam, lagi pula kita tidak kekurangan kamar. Besok dia juga akan ke tempatmu bekerja, kalian bisa berangkat bersama!"
Keesok paginya Elena mengikuti Arka masuk ke dalam mobil Arka. Semua itu atas paksaan Amel. Mereka pergi ke tempat tujuan yang sama. Tibalah di gedung besar bernama El Sunshine. Arka turun dari mobil membukakan pintu untuk Elena dan memberikan kunci pada petugas parkir untuk parkir valet.
Elena dan Arka masuk bersama dengan dilihat para karyawan. Begitu pula dengan Merrik yang kebetulan ada di lobby. Merrik sudah sering menggunakan lift karyawan akhir-akhir ini, hanya sekedar berharap bertemu dengan Elena secara tidak sengaja. Dan hari ini, harapannya terwujud, dia bertemu dengan Elena di lobby menuju lift namun disampingnya ada seorang pria yang jelas-jelas menyatakan akan mengejar wanitanya tersebut.
"Hai, Bastian!" Sapa Arka.
"Hai," jawab Merrik.
"Pagi, Pak!" ucap Elena.
"Pagi." Merrik menatap Elena dan Arka secara bergantian. Mereka masuk ke dalan lift bersama.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
...Jangan lupa dukung Age dengan cara like, love,vote, gift nya.. Di tunggu komentarnya 😊😊😊😊😊😊...
...Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘...
__ADS_1