Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 48 Arka


__ADS_3

...🌹🌹🌹🌹Happy Reading 🌹🌹🌹🌹...


...Seperti biasa Age mau ingetin untuk dukung Age dengan cara like, masukan ke daftar favorit, bintang 5, vote , gift dan komentar ya 😊...


...Mohon maaf jika banyak maunya, karena satu like saja sangat berarti 😊...


...Terima Kasih 🥰🥰🥰...


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


Dua keluarga menghabiskan waktu malam mereka dengan harmonis. Amel sesekali melihat ke arah Arka yang terkadang mencuri pandang ke arah Elena. Menyesali kelalaiannya yang mengakibatkan Elena di culik dan harus berurusan dengan Merrik. Seandainya hal itu tidak terjadi mungkin Elena saat ini sedang menikmati masa mudanya, mencoba banyak hal baru dan bukannya membesarkan anak seorang diri. Meskipun Amel tidak pernah menyesali adanya Melena diantara keluarga mereka. Hanya saja melihat Elena hatinya sedikit sedih. Saat melihat ekspresi Arka yang mengetahui Melena adalah anak Elena, disana ada keraguan di mata Arka. Mungkin dia tulus menyukai Elena namun Arka sedikit menjaga jarak dengan Elena, kemungkinan dalam benak Arka, Elena sudah menikah, dia tidak mungkin merebut istri orang.


Melena cukup dekat dengan Arka. Pembicaraan Melena bisa diseimbangkan oleh Arka. Esti yang melihat pun begitu senang, melihat Arka bisa akrab dengan Melena. Dia berharap Arka menemukan jodohnya, anaknya selalu mementingkan pekerjaan hingga lupa memikirkan pasangan. Dia seorang Ibu, dia bisa melihat anaknya ada ketertarikan pada Elena.


Makan malam berakhir mereka akan berpisah malam ini. “Om, kita nanti akan bertemu lagi?” tanya Melena.


“Tentu, kita akan bertemu kembali.” Arka bicara dengan sangat yakin.


“Kapan bertemu lagi?” tanya Melena.


“Tergantung Princess Melena saja, maunya kapan bertemu dengan Om?”


“Besok boleh? Besok ‘kan hari minggu, Mel masih libur sekolah.”


“Kalau Mommy-mu mengijinkan, Om akan datang ke rumahmu, kita akan ke taman bermain.”


Melena langsung menoleh ke arah Elena. “Mommy boleh yah?” Pinta Melena.


“Om Arka pasti sibuk, nanti perginya bersama Mommy saja ya?” bujuk Elena.


Melena hanya menunduk, dia merupakan anak yang patuh, setiap perkataan Elena akan di turutinya. Arka melihat kekecewaan di wajah Melena. “El, aku besok tidak sibuk, biar aku mengajak Melena pergi bermain.”


Elena terlihat ragu, dia tidak ingin Mel terlalu dekat dengan Arka, Elena tidak ingin bergantung pada pria manapun. Namun, dia tidak tega melihat Melena. “Baiklah, Melena boleh ikut Om Arka.”


“Asik.” Melena mengungkapkan kebahagiannya, dia langsung berlari ke pelukan Arka.


“Om antar Melena pulang ya? Biar besok Om tidak cari-cari alamat rumah Melena,” ijin Arka.


“Mau, mau!” ucap Melena.


“Maaf merepotkanmu!” ucap Elena.


Mereka semua keluar dari restoran sampai di parkiran. “Kamu sedang apa?” tanya Amel.


“Aku ikut pulang!” ucap Elena.


“Kamu pulang bersama Arka, sekalian tunjukan jalan kerumah.” Perintah Amel.

__ADS_1


“Bukannya, bisa mengikuti dari belakang.” Elena enggan harus bersama Arka, dia masih belum terbiasa dekat dengan seorang pria. Satu-satunya pria yang dekat dengannya hanyalah Merrik.


“Anakmu ada di sana! Kamu temani sekalian Melena.”


“Baik.” Elena menuju ke arah mobil Arka. “Boleh aku ikut masuk?”


“Tentu!” ucap Arka tersenyum.


Elena naik ke kursi penumpang di belakang namun di hentikan oleh Melena yang duduk di kursi penumpang depan. “Mommy duduk di depan saja, biar Melena yang duduk di belakang.” Melena berpindah tempat dari kursi depan ke kursi belakang tanpa keluar dari mobil.


“Kita duduk bersama saja di kursi belakang.”


“Tidak mau, Melena mau bobo, kalau Mommy duduk di belakang nanti sempit.”


“Eleanor, duduklah di depan.” Arka berucap sebelum Elena membalas ucapan dari Melena. Mau tidak mau Elena beralih ke bangku depan.


“Ku dengar tim design sudah menyelesaikan rancangannya?” tanya Arka.


“Iya, sedang persiapan produksi.”


“Pasti sangat sibuk setelah harus mengubah design?”


“Begitulah.”


“Tidak habis pikir bagaimana mungkin bisa ada penyusup yang masuk dalam perusahan El Sunshine. Setauku Bastian sangat selektif memilih karyawan, masih kebobolan juga.”


“Entahlah.” Elena melihat Melena yang tertidur melalui kaca spion depan. “Kamu sudah lama bekerja sama dengan Pak Bastian?” tanya Elena.


“Cukup nyaman,” jawab Elena singkat.


“Bastian masih tertutup di kantor?”


“Apa?”


“Kamu ‘kan kepala designer, kemungkinan bertemu dengan Bastian pasti lebih sering. Apakah dia masih dingin dengan wanita?”


“Maksudnya?”


“Dia sangat tertutup, jika ada perihal apapun akan melalui Jakson terlebih dulu baru setelah itu Jakson akan menyampaikan pada Bastian.”


“Oh, ya seperti itu juga.”


“Akupun kenal dengannya tidak banyak tau tentang kehidupan pribadinya, yang aku tau dia sudah beristri namun tidak pernah di bawa ke acara apapun. Dia selalu sendiri.”


“Bagaimana kamu tau dia memiliki istri?”


“Dia sendiri yang bilang kalau dia sudah beristri. Bisa kamu lihat dia tidak pernah melepas cincin pernikahannya.”

__ADS_1


Elena terdiam mendengar cerita Arka. Dion bilang Merrik tidak menikah lagi namun bilang ke Arka sudah memiliki istri. Apakah Elena yang dimaksud Merrik sebagai istrinya? Dan cincin di jari Merrik, apakah itu cincin yang akan digunakan saat acara lamaran waktu itu? Merrik kecelakaan saat akan mengambil cincin pesanannya. Pikiran Elena berkelana ke masa lalu. Namun harus di hentikan oleh Arka. “Kamu single parent bukan?”


Elena mendongak, menjawab ragu. “Iya.” Arka tersenyum pada Elena.


“Kenapa tersenyum?”


“Maaf bukannya aku tidak berempati. Tapi, jujur setidaknya aku akan meneruskan rencanaku.”


“Rencana apa?” tanya Elena bingung.


“Rencana mengejarmu! Setidaknya, kamu bukan istri orang, jadi aku tidak bisa disebut perebut istri orang!” ucap Arka sambil tertawa.


“Arka, aku ….”


“Jangan berkata apapun dulu, biar aku usaha dulu.”


“Aku hanya tidak ingin memberimu harapan.”


“Tidak apa, ini aku yang mau! Tidak tau kedepannya seperti apa.” Arka menghembuskan nafasnya pelan. “Oh ya, jadi wajah blesteran-mu itu dari Ayahmu, yah?” Arka mengalihkan obrolan.


“Iya, Kamu juga memiliki Ayah orang luar, tapi kenapa wajahmu tidak mirip Ayahmu?"


“Jangan di tanya! Aku benar anak kandungnya. Hanya saja aku lebih condong mirip si Nyonya Esti, hanya tinggi badanku saja yang ikut Tuan Richard.”


“Kau ini memanggil Ayah dan Ibumu, Nyonya dan Tuan.” Elena cukup terhibur dengan Arka.


“Karena wajahku yang lokal, jadi aku memutuskan memanggil Ayah dan Ibu! Dulu aku memanggil Ayahku dengan sebutan Daddy.”


“Tadi aku menahan tawa saat Om Richard yang bule di panggil Ayah oleh mu!”


“Mau bagaimana lagi, Ayahku juga suka dipanggil Ayah. Dulu Ibu pernah bercerita, saat mengandungku dia sangat berharap memiliki anak yang bule, eh ternyata yang keluar anak lokal!” kekeh Arka.


“Jadi Ibumu menyesal melahirkanmu?” ejek Elena dengan bercandaan.


“Tidak sampai tahap menyesal, namun dia menyesali kalau cintanya lebih besar dari Ayahku.”


“Apa maksudnya?”


“Ada yang bilang pada Ibuku. Jika anak yang lahir terlihat lebih mirip dengan salah satu orangtuanya, itu adalah bukti bahwa cintanya yang paling besar, karena wajahku yang mirip dengan Ibuku, jadi yang lebih besar cintanya adalah Ibuku dibanding Ayahku!" Jelas Arka.


“Jadi Daddy-ku cintanya lebih besar dari Mommy-ku?” tanya Elena.


“Bisa jadi, karena kamu mirip Om Steven.”


“Mana ada hal seperti itu! Itu hanya mitos.”


Mereka menghabiskan perjalanan dengan obrolan ringan yang membuat tertawa. Elena melirik ke Melena yang wajahnya perpaduan dirinya dan Merrik. Sedikit tersugesti dengan kata-kata Arka. Siapa diantara mereka yang cintanya lebih besar?

__ADS_1


Di kota lain, Merrik hanya bisa memandang photo-photo Elena dari ponselnya, menahan kerinduan di tengah kesepian malam. Bagai fatamorgana di padang pasir, Elena begitu nyata di dekatnya namun hanya bagaikan sebuah ilusi yang tidak dapat direngkuh.


Salam Age Nairie 🥰🥰🥰


__ADS_2