Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 75 Tongseng


__ADS_3

Merrik tidak pantang menyerah, dia tidak akan mengambil hati setiap perkataan dari Amel, saat pagi hari dengan tidak tahu malu masuk ke dalam mobil Amel untuk ikut mengantar Melena sekolah. “Kamu sedang apa?” tanya Amel saat Merrik duduk di kursi penumpang samping sopir.


“Ikut mengantar Melena,” jawab Merrik tersenyum.


Amel langsung menoleh pada Melena. “Hari ini Grandma tidak mengantar Mel ke sekolah ya, biar Daddy mu yang mengantar.”


Melena hanya mengangguk dan Amel keluar dari mobil, dia tidak ingin lama-lama melihat Merrik. Akhirnya, Merrik lah yang mengantar Melena sekolah. Setibanya di sekolah semua mata tertuju pada Melena yang datang dengan digandeng oleh Merrik. Bisik-bisik samar terdengar di telinga Merrik dan Melena.


‘Jadi itu, Ayahnya, ganteng juga!’


‘Aku pikir dia anak yatim.’


‘Bapaknya ganteng, jadi di umpetin!’


‘Patas si Melena cantik, Ayahnya ternyata ganteng, Mommy-nya juga cantik.’


Melena yang mendengarnya merasa bangga, tidak pernah menduga jika seperti ini rasanya memiliki Ayah, saat ada acara Ayah dan anak pun yang datang Steven dan yang sering antar jemput adalah Amel. Sekarang dia melangkah dengan percaya diri memamerkan Daddy-nya.


Saat di gerbang sekolah ada guru yang menjaga di gerbang sekolah. Seorang guru wanita lajang dengan usia lebih dari 30 tahun. Dia menatap ke arah Melena dan Merrik. “Nanti yang jemput Mel, Daddy ‘kan?” tanya Melena.


“Tentu, Daddy banyak waktu untuk Melena,” jawab Merrik pasti.


“Maaf, Anda Ayahnya Melena?” tanya guru wanita berkaca mata itu.


“Iya, saya Daddy-nya.”


“Oh, baru pertama kali melihat soalnya!” ucap sang guru malu-malu.


“Iya, karena sebelumnya saya selalu sibuk.”


“Owh begitu.”


Melena yang melihat guru-nya seperti mencari perhatian pada Daddy-nya merasa geram. Dia langsung menarik tangan Merrik. “Daddy cepat pulang, nanti jemput Mel lagi saat jam pulang sekolah!”


“Oke.” Merrik menoleh ke sang guru. “Saya permisi dulu,” ujar Merrik datar.


Merrik meninggalkan sekolah Melena dan kembali lagi ke rumah kediaman Steven. Hanya ada Amel di rumah, Merrik dengan tidak tahu malunya mengikuti kemana Amel pergi. “Biar kubantu Mom!” ujar Merrik saat melihat Amel mengangkat pot bunga. Amel langsung memberikan pot tersebut dan meninggalkan Merrik sendiri tanpa sepatah kata pun.


Merrik dengan senang hati merapihkan pot bunga tersebut. Setelah selesai, dia melihat Amel yang sibuk di dapur. “Masak apa Mom?” tanya Merrik. Lagi-lagi hanya diam jawaban yang diberikan Amel. Merrik hanya memperhatikan Amel memasak. Dia melihat Amel mengeluarkan daging kambing dan menyiapkan panci presto, dia berencana membuat tongseng untuk suaminya dan mengantarkan ke kantor suaminya. Amel jarang ke kantor Steven, namun dia ingin meminimalisir pertemuannya dengan Merrik, jadi berencana ke kantor Steven.

__ADS_1


“Kenapa tidak di rendam dulu saja dengan nanas, daging kambingnya Mom? Akan menjadi empuk dan rasanya lebih enak daripada harus di presto!” ujar Merrik.


Amel masih tetap diam, tidak menggubris apa yang Merrik katakan dan memilih mengambil bahan-bahan lainnya. Merrik melihat Amel mengambil kol. “Apakah mau membuat tongseng?” tanya Merrik lagi.


Tanpa sadar Amel menjawab Merrik. “Ya.”


Merrik langsung mengambil daging kambing tersebut dan mengambil sebilah pisau dan mulai memotong daging kambing tersebut. “Selain di rendam dengan nanas, memotong dengan secara horizontal saat serat daging vertikal akan membuat lembut daging kambing tersebut.”


Amel melihat cara Merrik memotong daging tersebut. “Bagaimana kamu tahu tentang itu?” tanya Amel. Dia tidak mengira bahwa Merrik bisa memasak.


“Aku sering mendaki gunung saat kuliah, meskipun tidak terlalu sering. Kami memakan dan memasak yang ada di hutan. Selain itu, aku biasa hidup sendri saat sekolah hingga terbiasa untuk memasak sendiri,” jelas Merrik.


Merrik melanjutkan memotong daging dan dia menggepuknya, setelah itu memarut nanas muda. Beruntung di dapur Amel lengkap bahan makanan. Merrik merendam daging kambing tersebut ke dalam parutan nanas, tidak butuh waktu lama hanya tiga menit lalu mengangkatnya.


Amel membiarkan Merrik yang memasaknya, cukup takjub melihat kelihaian Merrik dalam memasak namun itu semua tidak cukup meluluhkan hati Amel.


Setelah selesai memasak, Amel bergegas ke kantor Steven dan Merrik memenuhi janjinya menjemput Melena.


Setibanya di kantor Steven, Amel langsung mensajikan tongseng di hadapan suaminya yang kebetulan sudah memasuki jam makan siang. “Tumben, kamu ke sini?" tanya Steven.


"Mengantar makanan untukmu, sekalian menghindar dari tamu yang tidak tahu malu itu!" ujar Amel.


"Merrik," ucap Amel datar.


"Wow, ternyata kalian sudah seakrab itu sampai masak bersama."


"Bukan akrab, tapi dia yang terus mengikuti bagai anak bebek saja!" ejek Amel.


"Dia bisa masak, enak juga masakannya."


"Dia bilang dulu hidup sendiri jadi sering masak untuk dirinya sendiri."


"Tidak akrab tapi kalian sudah ngobrol sedekat itu." Goda Steven.


"Apanya yang dekat! Dia saja yang nyerocos tanpa henti. Heran aku sama El, kenapa bisa suka pria seperti itu!"


Flashback Off


...***...

__ADS_1


Elena cukup terkejut melihat Merrik berada di rumahnya, Merrik sudah menganggap rumah Steven seperti rumahnya sendiri, dia tidak peduli dengan Amel yang mendiamkan dirinya dan bahkan menyindirnya untuk pergi, dengan alasan Melena, dia masih bertahan di rumah Amel.


Elena menghindari Merrik saat di rumah, ia masih memegang janjinya pada Amel untuk tidak berhubungan dengan Merrik.


Mereka makan malam bersama, tampak harmonis di depan Melena. "Daddy dan Mommy tidur bareng Mel ya?" tanya Melena di depan semua orang.


Merrik baru mau menyetujui permintaan Melena. Namun, Amel terlebih dahulu berbicara. "Ranjang kamu 'kan kecil kalau semua tidur di ranjang Melena nanti ambruk ranjangnya," jelas Amel.


"Kalau begitu bisa di kamar Mommy saja tidurnya," jawab Melena.


Elena hanya terdiam, tidak mau menanggapi karena takut salah bicara.


"Ranjang Mommy kurang kuat untuk di tiduri oleh tiga orang, Mel sama Daddy dulu tidurnya, nanti Daddy ganti ranjang Mommy yang lebih besar besok," terang Merrik.


Melena menghembuskan nafasnya pelan menandakan kecewa namun dia tidak mempermasalahkan lebih lanjut.


Merrik menidurkan Melena, rasa haus menghinggapinya setelah mendongengkan Melena, secara tidak sengaja bertemu dengan Elena di dapur. "Kamu bisa bertahan tinggal dengan Mommy?" tanya Elena.


"Demi dirimu dan Melena!" ucap Merrik.


"Teruslah berusaha." Elena hendak pergi meninggalkan Merrik, namun lengannya di tahan oleh Merrik. "Ada apa?"


"Kamu tidak rindu?" tanya Merrik.


"Rindu," jawab Elena menunduk.


Merrik mengangkat dagu Elena, perlahan dia mulai mencium bibir manis istrinya, niat hati hanya memberikan ciuman singkat sebagai ucapan selamat malam, namun ciuman tersebut semakin menuntut, Merrik tetaplah Merrik, tidak puas hanya sebuah ciuman singkat, dia mulai mellumat dan memperdalam ciuman mereka, hingga akhirnya terdengar suara menggema di dapur dan cahaya lampu menusuk ke mata yang tiba-tiba menerangi dapur yang sebelumnya gelap.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" ucap Amel bergelegar.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


...Jangan lupa dukung Age dengan cara like, love,vote, gift nya.. Di tunggu komentarnya 😊😊😊😊😊😊...


...Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘...


Cus kepoin novel teman Age dibawah ini 👇


__ADS_1


__ADS_2