
Arka hanya bisa tersenyum mengejek saat mendengar penuturan Merrik, tidak menyangka pergerakan Merrik begitu cepat. Ada rasa lega di hatinya saat mengungkapkan perasaan nya pada Elena, sekarang saatnya melupakan Elena dan memulai hidup yang baru.
Ia melangkah untuk boarding, di depannya ada seorang Nenek yang kesulitan dalam membawa tas dan kopernya. Arka membantunya. "Biar aku bantu Nek," tawar Arka.
"Terima kasih," ucap sang Nenek. Arka mengambil alih tas dan koper kecil milik sang Nenek, dia merasa tidak perlu bertanya mengapa kopernya tidak di masukan saja ke bagasi dan malah di bawa ke cabin pesawat.
"Nenek sendiri saja?" tanya Arka.
"Iya, aku mau mengunjungi anakku."
Arka mengobrol dengan Nenek tersebut, tanpa di sadari Arka, ada seseorang yang melihatnya dari kejauhan. Arka berpisah dengan Nenek tersebut. Dia berjalan lurus, namun tiba-tiba dari sisi samping ada yang menabraknya. "Sorry," ucap seorang perempuan berperawakan bule. Rambut pirang kecoklatan dengan kulit putih namun sebagian wajahnya tertutup kaca mata.
"It's Ok!" ucap Arka menatap sekilas perempuan itu, lalu berlalu meninggalkan wanita tersebut sambil bergumam. "Dasar ganjen!" gumam Arka, dia berkata bukan asal bicara, dia yakin wanita tersebut sengaja menabraknya untuk mencari perhatian, karna jalan yang lebar tidak mungkin bisa asal menabrak orang.
"Hei, apa kau bilang?" ucap wanita tadi dengan melepas kaca matanya yang menampilkan mata yang hijau.
Arka menoleh terkejut namun ia bisa mengontrol mimik wajahnya, dia pikir wanita tersebut tidak mengerti bahasanya namun ternyata ia salah. "Tidak, aku tidak bilang apa-apa!"
"Tadi kau bilang aku ganjen!" ujar wanita tersebut.
"Oh, kau sudah sadar! Baguslah kalau tahu diri." Arka tida memperdulikan wanita itu dan terus berlalu.
Wanita pirang itu mengejar Arka. "Hei, bukannya seharusnya kamu meminta maaf atas perkataan mu tadi?" cecar wanita itu.
Arka menoleh. "Aku minta maaf? Yang benar saja, jelas-jelas jalan nya lebar. Apa namanya kalau bukan keganjenan menabrakku untuk mencari perhatian. Sekarang kau marah-marah karena maksudmu itu diketahui oleh ku 'kan?" cecar Arka.
Wanita itu terdiam sejenak, apa yang di katakan oleh Arka tidak ada yang salah, ia tertarik saat melihat Arka menolong seorang Nenek namun yang wanita tersebut tidak menyangka adalah Arka begitu angkuh. "Dasar pria angkuh!" Wanita tersebut berlalu meninggalkan Arka, dia sudah tidak peduli lagi dengan Arka.
Mereka menaiki pesawat, wanita tadi duduk di kursinya dekat jendela, dia menutup matanya untuk beristirahat. Tak di duga, ternyata bangku sebelahnya adalah Arka. Arka berdecak setelah melihat wanita tadi ada di sebelahnya sedang memejamkan matanya. "Kenapa sial sekali hari ini!" gumam Arka. Dia duduk di bangkunya dan ikut memejamkan matanya.
...***...
__ADS_1
Matahari dengan malu memancarkan cahayanya, selain memang masih pagi, didukung pula dengan cuaca yang mendung. Malu-malunya sang mentari seolah sedang merajuk pada Elena yang tidak menyapanya seharian penuh karena tidak keluar dari apartemen nya, bahkan untuk membuka tirai jendela pun tidak Elena lakukan hanya untuk sekadar menyapa sang produksi cahaya secara gratis.
Elena bersiap untuk kembali bekerja, hari ini dia menggunakan pakaian yang tertutup, kaos lengan panjang model turtle neck yang dengan sempurna menutupi leher jenjangnya. Itu sangat membantu menutupi bekas percintaan gilanya dengan Merrik seharian penuh. Dia padukan kaos ketat tersebut dengan blazer hitam dan celana panjang.
"Aku antar kamu ke kantor, mulai saat ini aku akan menjadi sopirmu!" ujar Merrik.
"Merrik, apa tidak sebaiknya, tetap kau saja yang menjadi CEO?" tanya Elena.
Merrik meletakan dengan keras sendok di atas meja, Elena terkejut dengan sikap Merrik, dengan marah Merrik berkata, "Pertama, Perusahan itu sudah menjadi milikmu, tanpa Arka yang memberikan memang itu ku persembahkan untuk mu, karena itu namanya El Sunshine. Dan yang kedua, jangan hanya memanggilku nama!" Merrik tidak suka jika Elena hanya memanggil namanya saja, lebih tepatnya dia suka dengan panggilan Kakak kepadanya, entah mengapa Merrik suka di panggil Kakak. Baginya, saat Elena memanggilnya Kakak, Elena tampak seperti gadis polos yang tunduk pada dirinya.
Elena berdecak, hanya panggilan saja dia bisa marah! "Baiklah aku tidak akan memanggil namamu saja! Aku akan memanggilmu Paman!" ucap Elena mengejek, lalu berdiri untuk meninggalkan Merrik sendiri.
Merrik mengejarnya. "Apa aku setua itu?" protes Merrik.
"Dih, tidak sadar diri! Dosa apa aku bisa menikah dengan tua bangka seperti mu!"
Elena sudah sangat berani pada Merrik, dia tidak perduli lagi jika mengejek Merrik.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Elena gugup.
"Membuktikan padamu!" Merrik menyodorkan wajahnya untuk mencium Elena namun ditahan dengan tangan Elena.
"Sudah-sudah aku percaya padamu, ayo kita berangkat." Elena lebih memilih mengalah daripada harus berurusan panjang dengan Merrik.
Merrik mengantar Elena sampai kantor, Elena teringat akan Mommy-nya, entah mengapa Mommy-nya tidak menghubunginya, dia yakin bahwa Mommy-nya pasti tahu tentang peluncuran produk baru dan juga berita dirinya menjadi CEO. Entah tahu dari media atau kah Arka yang bercerita. "Kak, bagaimana dengan Mommy? Aku sudah melanggar janjiku padanya untuk tidak berhubungan denganmu sebelum mendapat restu!" ujar Elena setelah mobil berhenti di El Sunshine.
"Akan aku pikirkan. Sepulang kerja aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
Elena hanya mengangguk, dia akan serahkan semua pada Merrik. "Aku pergi dulu." Baru akan membuka pintu, dia sudah di tarik lagi oleh Merrik dan Merrik memberikan ciuman sebelum Elena keluar. "Kebiasaan, kaca mobilmu bisa di lihat dari luar!" protes Elena.
"Kalau begitu besok aku akan membuat gelap kacanya!" ujar Merrik santai.
__ADS_1
"Ish."
...***...
Sepulang kerja, Merrik memenuhi janjinya, dia mengajak Elena pergi ke suatu tempat. "Dimana ini?" tanya Elena.
"Kau akan tahu setelah masuk."
Mereka datang ke sebuah rumah mewah, tempat Merrik di besarkan. Merrik mengetuk pintu, bisa saja dia langsung masuk namun dia enggan menerobos karena sudah terlalu lama dia tidak berkunjung atau hanya menanyakan kabar orang tua nya, selama ini dia hanya menanyakan kabar dari Dion. Pintu terbuka, Rose terkejut, memandang orang yang bertamu. "Merrik, Elena!" ucap Rose tercekat, matanya langsung berkaca-kaca, ada rasa bahagia di hatinya.
Merrik memang memilih datang ke orang tuanya terlebih dahulu, Seperti menyelesaikan ujian sekolah, dia akan menyelesaikannya dari soal yang mudah terlebih dulu. Ia yakin Ayah dan Ibu tirinya pasti akan memaafkan nya dengan mudah. Satu persatu Merrik akan menyelesaikan masalah nya. Setelah itu, ia akan beralih ke soal yang lebih sulit yaitu mertuanya.
Terimakasih masih setia dengan kisah Merrik dan Elena ๐๐๐
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kak
like ๐
Fav โค๏ธ
komen โ๏ธ
Gift ๐นโ
Terima kasih ๐๐๐
Salam Age Nairie ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐๐๐
cus kepoin novel temen Age di bawah ini ๐
__ADS_1