
Dengan tangan bergetar, Elena memungut satu persatu tablet tersebut. Jika tablet kuning tersebut di buang dan tempatnya diisi dengan tablet warna putih, maka tablet warna putih pasti memiliki tempatnya tersendiri.
Elena mulai mencari botol bekas di dalam plastik sampah, berharap menemukan sebuah petunjuk. Nihil, dia tidak menemukan sesuatu. Mulai membereskan kekacauan, memasukan semua sampah ke dalam plastik besar sebelum Merrik mencari dirinya.
Dia mencuci tangannya setelah itu memeriksa barang-barang yang ada di dapur, masih mencari sesuatu yang bisa di jadikan petunjuk. Masih tidak menemukan apapun, dia mencoba mencari ke tempat lain, beralih ke ruang tamu, masih Nihil.
Elena kembali ke kamar, Merrik masih duduk manis di atas ranjang dengan laptop di pangkuannya. Elena duduk di meja riasnya, di atas meja terdapat serangkaian skincare miliknya yang memang di siapkan oleh Merrik. Memulai aktivitas skincare-nya, Elena berusaha untuk bersikap biasa saja, tidak ingin Merrik mengetahui kecurigaannya.
Mata Elena tertuju pada laci meja riasnya, Elena tidak pernah menggunakan laci tersebut karena perlengkapan skincare dan makeup-nya tersedia di atas meja rias. Elena membuka laci tersebut. Menemukan sesuatu di dalamnya. Sebuah botol vitamin, botol vitamin yang sudah tidak asing baginya, botol yang isinya setiap hari dia konsumsi. Secara perlahan memutar botol tersebut. Menebak-nebak apa warna isi dari botol tersebut. Elena membelalakkan matanya setelah melihat isi nya berwarna putih. Elena bangkit dan menghampiri Merrik. "Kak, vitamin ku habis. Aku menemukan ini di laci meja. Kenapa tidak bilang kalau Kakak sudah membeli yang baru?" Elena menunjukan botol vitamin tersebut.
Merrik terdiam sejenak melihat apa yang Elena bawa. Dia memang sudah mengetahui pil KB Elena habis beberapa hari yang lalu. Dia membeli baru dan seperti sebelumnya, mengganti isi vitamin tersebut. Namun, entah mengapa ia enggan memberikannya pada Elena, terlebih setelah ia tahu bahwa mengkonsumsi obat pencegah hamil dalam jangka waktu yang lama akan merusak tubuh. "Saat itu kamu protes untuk meminumnya, dan meminta untuk mengkonsumsinya seminggu sekali, jadi kupikir lebih baik hentikan saja konsumsinya jika itu bisa membuatmu lebih baik."
Ingin sekali Merrik mengatakan yang sesungguhnya pada Elena, namun di urungkan, Elena adalah gadis yang baru tumbuh, anak remaja yang masih labil. Merrik takut jika Elena mengetahui kejahatannya maka dia akan ditinggalkan oleh Elena.
"Aku tidak keberatan kok Kak! Aku yakin apapun yang Kakak lakukan padaku adalah hal yang terbaik untukku." Elena tersenyum penuh makna. Lalu ia duduk samping Merrik, Merrik langsung menutup laptop-nya. Elena membuka botol tersebut dan mengambil satu butir tablet berwarna putih. "Ini vitamin C kenapa tablet-nya berwarna putih? Biasanya untuk vitamin C berwarna kuning." tanya Elena pada Merrik yang sebenarnya pertanyaan itu untuk dirinya sendiri.
"Mana aku tau, itu 'kan dari pabriknya."
'Bohong!' batin Elena.
"Owh, aku akan meminum satu." Elena mulai memasukan butir pil KB tersebut ke mulutnya namun di hentikan oleh Merrik. "Tidak usah di minum."
"Kenapa? Bukannya Kakak yang sudah memberi aturan aku harus meminumnya setiap hari?"
"Kalau kamu tidak nyaman tidak usah minum."
"Kenapa? Dulu juga Kakak paksa aku meminumnya. Kenapa sekarang tidak usah meminumnya?"
Merrik belum siap untuk jujur pada Elena, dia masih mencari alasan untuk Elena. "Ternyata tubuhmu kuat, tidak perlu vitamin lagi untuk mengimbangi ku." Alasan yang dibuat secara asal oleh Merrik.
__ADS_1
"Kalau aku sudah tidak boleh meminumnya lebih baik Kakak yang meminumnya! Bukankah Kakak bilang akan meningkatkan gairah jika di minum pria? Aku ingin tau seperti apa Kakak jika sedang meningkat gairahnya?"
Apa kamu berani meminumnya Kak?
Elena menyodorkan pil tersebut ke depan mulut Merrik, dulu Merrik menolak untuk mengkonsumsi obat tersebut. Elena ingin tau apakah sekarang dia akan menolaknya. Di luar dugaan Elena, Merrik mengambil obat tersebut dan memasukannya ke dalam mulutnya dan menelannya. "Aku sudah meminumnya, sekarang tinggal menunggu gairahku meningkat agar kamu bisa melihatnya sendiri!" ucap Merrik mengedipkan matanya, dia sudah tidak ingin meracuni Elena lagi.
Elena semakin bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa isi vitamin tersebut berbeda? Kenapa Merrik meminumnya? Masih dalam lamunannya, Merrik sudah menarik dirinya jatuh keranjang. Merrik seperti binatang liar yang menuntaskan hasratnya tanpa lelah.
Keesok paginya Elena bangun terlebih dahulu, membuat sarapan untuk Merrik. Mereka sarapan pagi bersama seperti sebelum-sebelumnya. Setelah itu Elena sibuk di meja belajarnya. "Kamu sedang apa hari minggu seperti ini?" tanya Merrik.
"Mengerjakan tugas kuliah, besok di kumpulkan."
"Tidak usah di kerjakan, besok kamu tidak perlu kuliah!"
"Kenapa?" tanya Elena bingung, dia mencari cara untuk keluar dari apartemen, dia ingin mencari tau tentang tablet putih yang dikonsumsinya.
Merrik menghampirinya, menunjuk ke arah bibir Elena dan juga lehernya. "Masih banyak bekas percintaan kita. Kalau sudah hilang baru kamu boleh kuliah lagi."
"Iya."
"Apa? Kak, jangan seperti itu. Aku tidak bisa hanya terkurung di dalam apartemen!"
"Kenapa kamu protes? Selama sebelum kuliah kamu tidak pernah keberatan hanya sendirian di dalam apartemen?"
"Bukan begitu Kak, aku hanya ...."
"Aku akan cuti, menemanimu di sini."
"Memang Kakak sudah dapat ijin cuti?"
__ADS_1
"Aku sudah bilang bahwa bosku baik."
Semakin Elena berpikir, apa yang dikatakan Michele adalah benar. Dia baru menyadari bahwa dirinya masuk dalam penjara Merrik. Tidak ada kebebasan untuknya, hanya boleh mematuhi aturan yang Merrik buat.
Mereka melakukan kegiatan berdua di dalam apartemen, hanya sekedar menonton film bersama sambil berpelukan dan kadang di bumbui dengan ciuman manis. Elena ingin mendapatkan kepercayaan Merrik, ia bertekad untuk mencari tau tentang obat tersebut. Dia merasa harus menyenangkan Merrik terlebih dulu. Elena naik ke pangkuan Merrik, menciumnya terlebih dulu, Merrik menyambutnya. Menyenangkan Merrik dengan kesukaannya.
"Kakak mandilah. Aku buatkan makan siang untuk kita." Ucap Elena setelah dinas siangnya melayani Merrik.
Baru masuk ke dalam kamar mandi bel berbunyi. "Biar aku yang buka pintu, Kakak mandi saja."
"Mungkin orang yang akan membersihkan apartemen."
Merrik masuk kamar mandi, Elena membuka pintu. "Maaf Nona, aku Wiwi yang akan membersihkan apartemen ini."
"Maaf, apartemennya sudah di bersihkan. Kamu pulang saja."
"Tapi Nona, aku sudah di bayar."
"Tidak apa-apa, kamu pulanglah."
Elena menutup pintu, mengetuk pintu kamar mandi. "Kak, aku keluar sebentar yah? Hanya beli garam di mini market bawah apartemen."
Merrik menjawab tanpa membuka pintu kamar mandi. "Nanti aku antar, sebentar lagi. Siapa yang tadi datang? Kalau orang suruhanku, minta saja dia yang beli."
"Bukan, hanya tamu tetangga sebelah, salah alamat. Aku hanya sebentar, sekalian buang sampah Kak, sudah sangat bau."
Tanpa persetujuan Merrik, Elena keluar apartemen, tidak lupa membawa sampah dan juga botol vitamin yang di berikan Merrik. Dia berjalan menuju ke sebuah apotik di area bawah apartemen. "Maaf. Aku ingin tau, ini obat apa?"
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
Jangan lupa beri Age 👍❤️🌹 vote n komennya😊
Salam sehat untuk semua, 🥰🥰🥰