Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 43 Panggilan Bapak


__ADS_3

"Eleanor." Suara Merrik tiba-tiba terdengar menggema di ruangan, di samping Merrik berdiri Jakson.


Elena menoleh saat namanya di sebut. "Ya, Pak."


"Ikut saya ke kantor."


"Baik."


"Nona Riska ikut juga." Jakson menambahkan.


"Apa? Saya, Pak?" tanya Riska ragu-ragu.


"Iya. Apa kurang jelas?" tanya Jakson lagi.


"Baik, Pak!" jawab Riska.


Mereka berempat datang ke kantor Merrik. Merrik duduk di kursinya, Elena dan Riska berdiri di depan Merrik. Jakson berdiri di samping Merrik.


"Apa dia orangnya?" tanya Merrik pada Elena, menunjuk Riska dengan dagunya.


"Saya belum ada bukti apapun, Pak!" ucap Elena.


Dia tidak akan asal menuduh orang. Walaupun dia yakin siapa pelakunya.


Perhiasan yang dikeluarkan oleh Jewel Bright memang sangat mirip dengan design milik perusahaan El Sunshine. Namun, ada beberapa detail yang Elena dan Daniar tambahkan kemarin.


Sebelum rancangan itu mereka tambahkan, ada sisi yang menggunakan ukiran dari rancangan Riska yang belum Elena dan Daniar sempurnakan dan tidak ada selain Elena, Daniar dan Riska yang mengetahuinya. Dan yang membuat Elena yakin bahwa pelakunya adalah Riska, karena Elena sempat melihat Riska memfoto design tersebut. Saat di tegur, Riska bilang akan menghapusnya. Semua karyawan tahu bahwa tidak boleh mendokumentasikan rancangan apapun. Perhiasan yang dikeluarkan Jewel Bright adalah perhiasan design terakhir saat mereka bertiga rancang terakhir kali.


"Apa maksudmu?" tanya Riska memprotes.


"Sudah. Jakson, langsung saja!" ujar Merrik memotong pembicaraan Riska.


"Kami sudah mengetahui bahwa kamulah yang memberikan rancangan perusahaan kita pada pihak kompetitor. Ini adalah buktinya," papar Jakson.


Jakson memberikan berkas pada Riska. Bukti-bukti saat dia menyerahkan design pada salah satu karyawan Jewel Bright dan juga bukti mutasi tabungan Riska. Terdapat transfer dana dalam jumlah yang tidak sedikit dari seseorang yang bekerja di Jewel Bright.


"Pak, Bastian. Aku bisa jelaskan, aku terpaksa Pak." Riska mencoba menjelaskan. Namun, Merrik sudah tidak ingin mendengar apapun.


"Jakson, lakukan sesuai prosedur tentang kebocoran rahasia perusahaan." Perintah Merrik.


"Baik, Pak." Jakson mempersilakan Riska untuk keluar ruangan. Dia dan Riska langsung menuju ke bagian HRD yang otomatis akan diteruskan ke bagian divisi corporate legal yang akan mengangani masalah hukum baik internal maupun eksternal. Termasuk dalam kasus kebocoran data rahasia perusahaan.


Setelah kepergian Jakson dan Riska, tinggallah Merrik dan Elena di dalam ruangan. "Apa saya sudah boleh pergi?" tanya Elena.


"Belum," jawab Merrik.


"Ada keperluan lagi, Pak?"


"Apa kamu akan berdiri saja di sana? Duduklah."


Elena menghembuskan nafasnya pelan. Dia duduk di depan Merrik. "Apa ada yang perlu di bicarakan lagi, Pak?"


"Sekarang apa rencanamu? Kita tidak mungkin mengeluarkan design sebelumnya!"


"Aku dan team akan membuat design baru lagi, Pak!" jawab Elena.


"Berapa lama?" tanya Merrik.


"Tiga minggu, untuk satu set perhiasan."

__ADS_1


"Terlalu lama. Kita sudah mengiklankan akan mengeluarkan produk baru bulan depan. Jika tiga minggu lagi baru selesai design-nya lalu kapan proses produksinya?"


"Akan saya usahakan secepatnya. Pak."


"Aku minta kepastian waktunya!"


"Baik Pak, Dua Minggu."


"Satu Minggu."


"Apa Pak?"


"Kamu keberatan?"


"Terlalu cepat. Pak!"


"Sepuluh hari. Tidak bisa di tawar lagi."


Elena sempat ragu, namun ia akan buktikan pada Merrik bahwa dia memiliki integritas dalam bekerja. "Baik, Pak Bastian."


"Kita sepakati seperti itu."


"Apa saya sudah boleh keluar?"


"Ya." Merrik harus merelakan Elena keluar dari ruangannya. Elena bangkit dari duduknya dan mulai melangkah untuk keluar. "Tunggu." Suara Merrik menghentikan langkahnya.


"Ada apa, Pak?" tanya Elena.


"Apa kamu ada design lain?" tanya Merrik yang tidak rela Elena pergi.


"Tentu saja ada, aku sudah menunjukannya saat presentasi tempo lalu. Namun, Anda menolaknya."


"Baik. Pak." Elena benar-benar pergi dari ruangan Merrik. Merrik hanya bisa menatap punggung Elena yang menghilang dibalik pintu.


Setelah tiga puluh menit, pintu di ketuk. Merrik tersenyum. "Masuk." Merrik sudah menantikan Elena datang kehadapannya. Namun, semua sirna setelah yang masuk adalah Daniar.


"Siang, Pak. Eleanor bilang Bapak butuh design sebelumnya. Aku datang membawakannya." Daniar memberikan draft kepada Merrik dengan senyum mengembang.


"Terima kasih. Ke mana Eleanor?"


"Ada di ruangannya. Dia memintaku membawakan draft untuk Anda."


Merrik melihat draft di tangannya dan matanya tertarik pada sebuah kalung sederhana namun tampak sangat indah. "Siapa yang membuat ini?"


"Kolaborasi para perancang, Pak."


"Hanya kalung saja? Tidak satu set?" Merrik menolehkan kepalanya pada Daniar.


"Boleh saya lihat?" tanya Daniar.


Merrik memberikan draft pada Daniar. Daniar melihatnya. "Maaf, sepertinya ini draft yang terselip. Ini bukan rancangan yang kami buat untuk produk baru, sepertinya ini milik Eleanor pribadi."


"Panggil dia ke sini," titah Merrik.


"Baik, Pak."


Daniar pergi meninggalkan ruangan Merrik. Dia menyampaikan perintah Merrik pada Elena. "Eleanor. Pak Bastian memanggilmu!"


"Apa? Bukannya sudah kamu berikan draf-nya?"

__ADS_1


"Iya. Tapi dia ingin bertemu denganmu."


"Kenapa lagi sih?" gumam Elena.


"Akhir-akhir ini Pak Bastian terlibat langsung dalam proses rancangan, padahal dulu hanya melalui Jakson." Imbuh Lani salah satu asisten Elena yang sudah cukup lama bekerja di El Sunshine.


"Aku ke sana dulu." Elena pergi menemui Merrik lagi. Dirinya bagai setrikaan yang mondar mandir namun tidak melicinkan suasana hati yang kusut.


"Bapak mencari saya?" tanya Elena setelah berada dalam ruangan Merrik.


"Iya. Ada yang ingin aku diskusikan. Duduklah."


Elena duduk di depan meja Merrik. "Ada apa, Pak?"


"Ini design buatanmu?" tanya Merrik sembari menyodorkan draft pada Elena.


Elena menerima dan melihatnya. "Oh, Maaf, Pak. Ini bukan rancangan yang saya buat untuk produk baru, Pak."


"Lalu, buat apa ini?"


"Hanya membuat untuk pribadi, Pak. Untuk produk baru, rancangannya masih dalam tahap diskusi terlebih dahulu dengan tim. Bapak bisa lihat draft sebelumnya saat presentasi tempo lalu. Sebelah sini, Pak." Elena menunjukan rancangan-rancangan sebelumnya.


"Aku tertarik dengan design ini. Kamu bisa kembangkan menjadi satu set perhiasan."


"Emm, rencananya itu hanya untuk pribadi, Pak. Saya belum berpikir untuk disebarkan."


"Kalau begitu, sekarang pikirkanlah!"


"Jika Bapak suka dengan konsep seperti itu, akan saya buatkan yang lainnya, Pak. Namun, tidak dengan yang ini."


"Kalau boleh tau, tema dari kalung ini apa?"


"Kepalsuan harapan, Pak!" ucap Elena yakin.


Merrik hanya diam mendengar penuturan Elena. Seperti tidak asing di telinganya. Apakah dia sedang menyindir nya? "Bisa kamu jelaskan detail-nya?"


"Bapak bisa perhatikan lebih seksama. Bapak akan melihat suatu keindahan di bagian depan. Namun, saat Bapak lihat di bagian belakang, akan terlihat suatu kepalsuan dari keindahan tersebut. Bagian belakang tidak sehalus di bagian depan dan dibuat dengan ukiran yang sedikit kasar, Pak."


Bapak, Pak. Berulang kali Elena menjelaskan dengan panggilan yang menurut Merrik tampak menjadi lebih tua. Meskipun tidak di pungkiri mereka memiliki selisih umur 10 tahun.


"Bisakah kamu tidak memanggilku Bapak!" Pertanyaan yang lebih menuju ke kata perintah. Merrik terganggu dengan panggilan Elena menyebut Bapak. Meskipun semua karyawan memanggil nya seperti itu. Namun, jika Elena yang memanggilnya Bapak berhasil membuat ketidaknyamanan di hatinya.


Elena membulatkan matanya. "Maaf, tidak bisa, Pak. Anda atasan saya dan saya bawahan Anda!" ucap Elena tegas.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Masih suasana lebaran, mau ucapin Mohon maaf lahir batin 🙏🙏🙏


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kak


like 👍


Fav ❤️


komen ✉️


Gift 🌹☕


Terima kasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2