
Hari-hari berjalan dengan sangat sibuk, rancangan sudah rampung. Elena dan Merrik bekerja dengan profesional, Elena belum memikirkan bagaimana cara membantu Merrik. Merrik semakin jauh darinya, sedikit obrolan saat mereka bersama, itupun hanya obrolan tentang pekerjaan selebihnya hanya obrolan basa basi antar rekan kerja. Belum ada kesempatan untuk Elena membantu Merrik.
Tidak terasa hari jum’at pun tiba, Minggu kemarin Elena tidak pulang. Minggu ini ia harus pulang, sudah sangat rindu dengan Melena dan juga orang tuanya. Setelah bekerja Elena langsung melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya. “Hallo, anak Mommy!” Elena memeluk Melena begitu tiba di rumah. Memeluk dengan erat melepas kerinduan.
Amel datang menghampiri. “Bersih-bersih dulu sebelum memeluk Melena.”
“Baik Mom.” Elena melepas pelukan pada Melena. “Mommy pergi mandi dulu yah.”
Mereka makan malam bersama, Elena menceritakan semua hal yang terjadi. Namun, dengan menghilangkan bagian tentang Merrik. Elena belum sanggup menceritakan Merrik pada orang tuanya.
“El, mau kapan kamu memberikan Ayah untuk Melena?” tanya Amel setelah menidurkan Melena.
“Mom, aku belum terpikirkan!” jawab Elena.
“Sudah saatnya kamu memikirkan dirimu dan Melena. Kamu tidak tau apa yang dirasakan Melena, terlebih saat acara hari Ayah di sekolahnya. Semua murid di temani oleh ayah masing-masing sedangkan Melena ditemani oleh Steven, Kakeknya.”
“Aku tau Mom, hanya saja ….”
Amel memotong perkataan Elena. “Hanya saja kamu masih trauma dengan laki-laki? Tidak semua pria itu brengsek. Kamu lihat Ayahmu, dulu aku sempat ragu untuk menikah dengannya. Katanya orang bule itu memiliki pergaulan bebas, aku takut akan masa lalunya. Namun, kamu lihat Ayahmu begitu setia denganku.” Amel menghembuskan nafasnya pelan. “Atau kamu masih mencintai pria brengsek itu?” tanya Amel menelisik Elena. Dia bahkan tidak bersedia menyebutkan nama Merrik.
Elena mendelik. “Ah? Aku hanya belum siap saja menjalin hubungan.”
“Lupakan pria brengsek itu dan cobalah membuka hatimu pada pria lain. Mommy tau sebenarnya banyak laki-laki yang ingin mendekatimu!” Elena hanya tertunduk, ia memang masih menyimpan perasaan untuk Merrik dan berencana membantu kesembuhan Merrik. Namun, jika untuk kembali pada Merrik dia akan berpikir seribu kali, yang kemungkinan hasilnya untuk mereka bersama hanya 1% sedangkan untuk membuka hati pada pria lain, Elena masih belum menginginkannya, pengalamannya bersama Merrik membuat dirinya sulit untuk mempercayai laki-laki.
“Mom, kenapa kita rapi sekali? Memang mau makan dengan siapa?” tanya Elena.
“Kita akan bertemu dengan keluarga sahabat Daddy-mu. Mereka sudah lama tidak berjumpa, jadi malam minggu ini, selagi ada kesempatan merencanakan makan malam bersama.” Jelas Amel.
“Owh.” Mereka pergi ke suatu restoran. Elena menggandeng Melena masuk ke dalam restoran dan sudah ada dua orang seumuran dengan Steven dan Amel yang menunggu di dalam restoran.
“Hai, Richard. Sudah lama sekali tidak bertemu denganmu.” Steven memeluk teman bulenya erat. Mereka satu tempat asal. Begitu pula dengan Amel dan Esti yang saling berpelukan. Setelah memeluk Ricard, Steven menjabat tangan Esti. Istri Richard. “Apa kabar?” tanya Steven.
“Baik!” jawab Esti.
__ADS_1
“Perkenalkan, ini putri kami Eleanor dan ini cucu kami Melena.” Amel memperkenalkan Elena dan Melena pada Richard dan Esti.
Esti memeluk Elena. “Kamu tumbuh menjadi wanita yang cantik.” Melepas pelukan dan menoleh pada Amel. “Aku ikut senang akhirnya kamu menemukan putrimu yang hilang.”
“Ya, setelah penantian panjang, akhirnya kami berkumpul kembali.” Jelas Amel dengan senyum di wajahnya.
“Ini pasti Melena? Cantik sekali,” ucap Esti. Amel sudah menceritakan secara garis besar pada Esti tentang apa yang terjadi pada Elena di telepon sehari sebelum pertemuan ini.
“Salam kenal Nenek!” ucap Melena.
“Jangan panggil aku Nenek. Panggil aku Oma saja ya?” ucap Esti. Bukan maksud merendahkan panggilan nenek, hanya saja di keluarganya menggunakan sebutan oma.
“Baik, Oma.” Melena memenuhi keinginan Esti.
“Ayo, kita mulai saja makan malamnya, tidak usah menunggu anakku, dia janji akan datang tapi sampai saat ini masih belum tiba!” ucap Esti.
“Mungkin dia sibuk dengan pekerjaannya,” ucap Amel.
“Iya, memang sangat sibuk. Dia jarang menemui kami di Australia, saat kami tiba di sini pun dia tetap jarang berkunjung.”
Mereka makan malam dengan hangat, pembicaraan-pembicaraan tentang masa lalu Steven dan Richard disertai dengan tawa. “Amel! Eleanor begitu mirip dengan Steven yah? Matanya hijau dan rambutnya cokelat.”
“Iya, itu karena Steven menyumbang lebih banyak daripada aku!” ucap Amel sambil tertawa.
“Grandpa menyumbang apa ke Mommy, Grandma?” tanya Melena bingung.
Amel bingung untuk menjawab Melena. “Menyumbang mata hijau untuk Mommy-mu.”
“Mata Melena kenapa hitam? Tidak seperti Mommy yang bermata hijau?” tanya Melena polos.
Elena terdiam mendengar perkataan Melena, matanya mengikuti mata Merrik. “Itu kerena kamu mirip dengan Grandma. Lihat, mata kita sama-sama hitam bukan? Tapi lihat rambut Melena, sama dengan warna rambut Mommy yang berwarna cokelat.” Amel menjelaskan secara sederhana.
Melena tidak bertanya lagi, dia melanjutkan makanannya. “Anakku belum juga tiba!” gerutu Esti, melihat ponselnya belum ada kabar dari anaknya.
__ADS_1
“Tidak apa!” sela Amel.
“Dia janji akan datang!” ucap Esti. Memasukan kembali ponselnya ke dalam tasnya.
“Maaf aku terlambat, Bu.” Arka mencium pipi Esti.
“Akhirnya kamu datang juga!” ucap Esti memukul lengan Arka.
“Aku sudah janji, pasti aku tepati.” Arka beralih ke Richard dan memeluknya. “Anak Ayah akhirnya datang. Ayah pikir kamu lupa orang tuamu!” sindir Richard.
“Mana mungkin aku lupa Ayah dan Ibu.” Jelas Arka.
Elena melihat interaksi Arka dan orang tuanya, tidak menyangka bahwa anak dari teman orangtuanya adalah rekan bisnis Merrik yang saat itu jelas-jelas menyatakan akan mengejar Elena.
Arka melepas pelukannya pada sang Ayah dan memberi salam pada Amel dan Steven. Pada saat matanya mengedar, pandangannya jatuh pada Elena. “Eleanor!” ucap Arka dengan mata membulat.
“Hai,” ucap Elena.
“Kalian saling kenal?” tanya Amel.
“Eleanor bekerja di tempat rekan bisnis ku!” jelas Arka.
Arka langsung duduk di depan Elena, melihat ke samping Elena ada seorang gadis kecil. “Ini, adikmu?” tanya Arka.
Elena mengelus rambut Melena. “Dia anakku!” ucap Elena dengan masih menatap Melena.
Arka terdiam saat mendengar penuturan Elena. Dia tidak menyangka gadis semuda Elena memiliki anak berusia lebih dari lima tahun. Bisa dibayangkan berapa umurnya saat mengandung. Pikiran Arka menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi pada Elena. Apakah Elena melakukan kesalahan di masa lalu? Ataukah memang sudah memiliki suami? Setau Arka, Elena belum menikah. Arka tersenyum pada pada Melena, “Hai, gadis cantik. Siapa namamu?” tanya Arka.
“Melena, Om!” jawab Melena.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
...Jangan lupa like, love , vote and komentarnya 😊 Terima kasih... 🙏🙏🙏...
__ADS_1
...Salam Age Nairie 🥰🥰🥰...