
Rose langsung memeluk Merrik, meskipun bukan Ibu kandung, dia tulus menyayangi Merrik. Ia tahu hari ini pasti akan datang. Dia pun langsung memeluk Elena setelah melepas pelukannya pada Merrik. Gadis lugu yang sudah di sakiti oleh anaknnya telah memaafkan Merrik, Rose sangat bersyukur akan hal itu. Dia merasa kebahagian akan muncul di keluarganya. Penantian panjangnya akhirnya terwujud, berkumpul dengan suami dan anaknya, dan kini ada menantunya.
Ricci tiba saat jam makan malam, seperti yang Merrik duga, orang tuanya memaafkannya meskipun Merrik tidak bercerita terperinci tentang mengapa dirinya dan Elena berpisah. Penyakit Merrik tetap lah menjadi rahasia dan hanya beberapa orang saja yang tahu.
Merrik pun bercerita tentang Melena pada orang tuanya, mereka memiliki respon yang baik dan berencana untuk menemuinya juga.
Hari semakin larut, Elena dan Merrik pamit pulang, mereka kembali ke apartemen Elena karena letaknya dekat dengan kantor El Sunshine.
"Pulanglah!" ujar Elena saat mereka tiba di unit apartemen Elena.
"Kenapa aku harus pulang? Aku mau tinggal di sini."
"Tidak bisa! Jika Mommy tahu dia pasti akan marah denganku, aku sudah berjanji padanya akan menuruti semua permintaan nya, karena itu aku tidak menolak saat di jodohkan dengan Arka."
"Sekarang 'kan Arka sudah membatalkan perjodohan, tidak perlu khawatir lagi!"
"Masalahnya aku tidak akan bersama mu jika belum mendapat restu, dan sekarang aku sudah melanggarnya. Aku tidak ingin kehilangan kepercayaan orang tuaku."
Merrik berpikir sejenak. "Baiklah, kita dapatkan restu dulu, besok aku tidak akan menemuimu sebelum meluluhkan hati Mommy Amel!" ujar Merrik, lalu beralih masuk ke dalam apartemen.
"Hei, kenapa masuk? Bukannya kamu bilang tidak akan menemuiku?"
"Kamu tidak dengar kata-kata ku? Aku bilang besok, bukan hari ini! Lagipula ini sudah larut, aku takut pulang malam sendirian!" teriak Merrik asal memberi alasan, berlalu dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah mandi Merrik langsung berbaring ke ranjang milik Elena, giliran Elena yang membersihkan diri. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan mulai aktifitas mandinya. Saat Elena keluar dari kamar mandi, dia di kejutkan oleh Merrik yang sedang menunggunya di depan kamar mandi. "Kenapa kamu di sini? Menakuti ku saja!" protes Elena.
"Aku membawakan ini!" Merrik mengangkat sebuah paper bag. "Gunakan!" ucap Merrik serius. Setelah itu mendorong Elena masuk kembali ke kamar mandi.
Elena kembali masuk ke dalam kamar mandi, heran mengapa Merrik membawa paper bag. "Apa-apaan ini!" Dia mengangkat pakaian yang ada di dalam paper bag. Kelakuan menyebalkan Merrik kembali lagi yang meminta Elena menggunakan pakaian sesuai dengan keinginannya. Elena yakin, Merrik membelinya saat dia bekerja, dia lupa Merrik seorang pengangguran saat ini.
Elena mendengus, namun ia pun tidak tega jika menolak permintaan Merrik, dia mulai menggunakan pakaian berwarna hitam tersebut. Elena menguncir rambutnya ke atas dan dengan lantang ke luar dari kamar mandi. Dia bukan gadis pemalu lagi, dia berjalan penuh percaya diri menghampiri Merrik yang sudah menunggunya.
Merrik menatap penuh damba pada Elena. Ya, hanya Elena yang bisa membuatnya tergila-gila, gadis yang dulu polos kini bertranformasi menjadi gadis yang lantang. Merrik tidak pernah mempermasalahkan perubahan yang terjadi pada diri Elena.
__ADS_1
Elena semakin mendekat, dia tidak membiarkan Merrik menyerangnya namun dialah yang akan pegang kendali. "Kau diam lah, biar aku yang bekerja!" bisik Elena di telinga Merrik. Setelah itu, dia mulai mencium Merrik lembut, menyentuh rambut hitam Merrik dengan sesekali merremass-nya.
Merrik menikmati setiap sentuhan dan tindakan yang di lakukan oleh Elena. Ia tersenyum, ada rasa lega di hatinya, mereka melakukan atas dasar cinta, tidak ada lagi kepalsuan di dalamnya, Merrik tidak perlu berkamuflase seperti bunglon dan Elena, dia mulai berani mengekspresikan dirinya saat mereka bercinta, tidak ada lagi Elena yang polos dan malu-malu. Elena bebas melakukan apapun pada Merrik.
Merrik bersumpah bahwa dialah yang akan mengelilingi wanitanya, tidak akan pernah menyakiti nya lagi.
"Mengapa kamu sering memintaku memakai pakaian aneh? Apa kamu memiliki kelainan? Ataukah kau sedang berfantasi? Membayangkan orang lain yang sedang bercinta denganmu?" tanya Elena saat dia menyelesaikan dinas malamnya, pertanyaan yang sejak dulu ingin dia tanyakan. Hanya saja, dulu ia malu untuk bertanya namun saat ini mereka memiliki kebebasan berbicara.
Merrik hanya terkekeh mendengar pertanyaan Elena. "Tidak tahu aku punya kelainan atau tidak. Tapi, aku tidak pernah membayangkan orang lain atau pun karakter lain saat kita bercinta, yang ada di otakku hanya dirimu! Yang aku ingat, awal mula ada keinginan itu adalah saat pertama kali kita berbelanja di mall, tiba-tiba saja melihat lingerie, aku hanya berpikir kamu pasti lucu memakainya dan ternyata benar, kamu seolah memiliki sejuta pesona, dari situlah aku jadi ingin kamu memakai berbagai macam kostum, terkadang kamu akan tampak lemah, kadang menantang dan kadang liar." Ingatan Merrik menerawang ke masa lalu, mengingat kembali Elena yang lugu dan polos, cinta seorang gadis remaja yang dibutakan oleh cinta. Dia mengingat kembali saat dirinya mengatakan Elena wanita jallang di depan orang tuanya, Elena yang mendengar juga pada saat itu, bukannya marah melainkan mengemis cinta padanya. Mengingat kebrengssekannya dulu. Merrik memeluk erat diri Elena. Mereka akan berbicara terbuka satu sama lain. "Maafkan aku yang tidak tahu diri ini!" Merrik mengecup kepala Elena.
"Kalau begitu, jangan pernah menyakiti ku lagi!"
"Aku janji, tidak akan pernah menyakiti mu!"
"Dalam bentuk apapun!" tambah Elena.
"Aku tidak akan mengatakan hal yang menyakitkan lagi!"
"Bukan hanya perkataan, melainkan fisik juga!"
Elena memutar bola matanya malas, Merrik memang tidak pernah memukulnya. "Maksudku termasuk kekerasan di atas ranjang!" cibir Elena.
"Mana ada!"
Elena langsung bangkit dan duduk, dia sudah tidak malu berhadapan dengan Merrik dalam keadaan polos. "Lihat ini!" Elena menunjukkan tanda merah dan bahkan ada yang kebiruan.
Merrik tersenyum, dan ikut menunjukan bekas yang sama di tubuhnya dan bahkan ada bekas cakaran. "Kalau begitu ini perbuatan siapa?"
Elena menatapnya, tidak percaya jika itu perbuatannya. "Sudah lupakan!" ujarnya.
Merrik menarik Elena dalam dekapannya. "Ini tidak bisa di bilang kekerasan, ini sebagai bukti tanda cinta kita."
"Itu hanya pembenaran atas apa yang kita perbuat!" Elena berpikir sejenak. "Apa orang lain juga seperti kita?"
__ADS_1
"Mana aku tahu! Aku hanya melakukan denganmu dan tidak ingin tahu tentang orang lain."
"Bukan, maksudku, meskipun tidak pernah melakukan dengan orang lain, biasanya lelaki suka menonton film begituan."
"Tidak hobby! Ngapain nonton begituan jika kamu sudah mengalihkan duniaku!" ujar Merrik jujur.
"Dasar gombal!"
"Sudah, jangan membicarakan hal yang tidak penting lagi, mau tidur atau mau lanjut lagi. Aku masih sanggup nih."
"Tidak mau, kalau keseringan nanti bosan, kalau sudah bosan takutnya kamu malah jajan lagi, cari pengalaman baru!"
"Kenapa berpikiran seperti itu? Aku tidak akan pernah bosan denganmu!"
"Mana aku tahu benar atau tidak! Kalau cintaku sudah terbukti, aku bisa menerima keadaanmu bagaimanapun dirimu! Tapi, aku tidak tahu jika aku yang mengalami penyakit seperti mu, kamu bisa menerima ku atau tidak, mengingat kamu seperti binatang buas jika sedang bercinta!"
Merrik semakin mengeratkan pelukannya "Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan membuktikan padamu bahwa hanya kamu yang ada di hatiku." Merrik memang tidak berjanji di depan Elena, namun ia berjanji pada dirinya sendiri akan selalu mencintai dan tidak akan meninggalkannya apapun keadaannya.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kak
like ๐
Fav โค๏ธ
komen โ๏ธ
Gift ๐นโ
Terima kasih ๐๐๐
Salam Age Nairie ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐๐๐
cus kepoin novel temen Age di bawah ini ๐
__ADS_1