Keluarga Yang Tak Dirindukan

Keluarga Yang Tak Dirindukan
Penasaran


__ADS_3

Dalam perjalanannya menuju tempatnya bekerja, Rendra hanya diam dan tenggelam dalam pikirannya dia sedang memikirkan kejadian tadi di jalan. Sesampainya dia di kantor dia langsung membanting tubuhnya di kursi kebesarannya.


"Kenapa Satya menolong Rani? Apa hubungan mereka sebenarnya?" Satya berbicara sambil memijat kepalanya yang terasa sakit.


Satya membenarkan posisi duduknya agar lebih tegak kemudian menautkan kedua tangannya di atas meja sebelum berkata, "Jika dipikir kembali, tidak mungkin kan seorang Satya yang merupakan salah satu orang terpenting dalam dunia bisnis mau menolong orang asing seperti Rani, apalagi dia terkenal karena sifatnya yang dingin kepada siapapun."


"Ahh apa mereka memang saling mengenal sebelumnya? Jika benar, lalu kenapa Rani tidak cerita denganku?" Lanjut Rendra sambil mengetuk-ngetuk jarinya di meja kerja dia sudah merasa sangat frustasi.


Rendra kemudian mengeluarkan handphone dari sakunya dia hendak menghubungi Rani.


"Tidak, lebih baik ku tanyakan langsung saja nanti sepulang kerja. Iya akan ku tanyakan langsung agar lebih jelas." Katanya kepada dirinya sendiri lalu meletakkan benda pipih itu di atas meja kerja.


***


"Baik anak-anak pelajaran kali ini cukup sampai disini kita lanjutkan Minggu depan, jangan lupa tugasnya untuk dikerjakan jika ada yang tidak mengerjakan akan Ibu beri tugas tambahan. Selamat siang dan selamat beristirahat." Jelas Ibu guru kepada murid-murid kelas 11 SMA yang langsung disambut dengan sorakan protes oleh para murid-muridnya.


"Kai yuk ke kantin!" Ajak salah satu siswa yang merupakan teman Kai.


"Yuk gue juga udah laper banget." Keluh Kai sambil mengelus-elus perutnya pertanda lapar. Dan mereka berdua pun lekas pergi menuju kantin sekolah.


"Eh Kai, gimana kalo ntar pulang sekolah lo main ke rumah gue, kita ngerjain tugas bareng gitu biar gampang." Ucap teman Kai sambil merangkulkan tangannya di pundak Kaisar.


"Ngerjain tugas bareng apa gue yang ngerjain terus elo cuma nyalin Ga?" Tanya Kai yang melirik ke arah Yoga sambil menyipitkan matanya.

__ADS_1


"Hahaha lo ngintip kepala gue ya? Sampe bisa pas bener gitu nebaknya." Yoga menimpali dengan tertawa terbahak-bahak.


Kaisar hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya yang satu ini. Dia sudah hafal benar dengan tingkah dan perilaku Yoga sehingga dia sudah tidak kaget lagi dengan apa yang dilakukan anak itu. Sesampainya mereka berdua di kantin, keduanya langsung menghampiri mbak kantin untuk memesan makanan.


"Selamat siang mbak Wati yang wajahnya ginuk-ginuk dan manis seperti gulali." Goda Yoga sambil mengedipkan mata berulang kali kepada mbak kantin yang bernama Wati.


"Ah mas Yoga bisa aja Wati gak manis kok biasa aja." Jawab Wati sambil menundukkan kepala malu-malu.


"Elalalah kalo Wati malu-malu gitu tambah manis bisa-bisa gue kenyang cuma liat Wati doang." Lanjut Yoga yang langsung di sambut pukulan oleh Kaisar.


"Mau makan apa mau ngegombal? Gue tinggal nih lama-lama etdah jedeg gue!" Ucap Kaisar sambil melotot ke arah Yoga.


"Ampun mas, kalo cemburu jangan keras-keras juga mukulnya dong Yoga kan jadi atit." Rengek Yoga semakin menjadi dengan suara yang dibuat manja seperti cewek.


"Mbak Wati, biasa mie ayam sama es jeruk satu, gak pake lama ya!" Lanjut Kaisar yang menoleh ke arah Wati kemudian dia pun langsung pergi menuju meja kantin tanpa memperdulikan Yoga lagi.


"Baik mas." Jawab Wati.


"Eh tunggu kok gue ditinggalin sih Kai! Gue juga sama pesan mie ayam satu tapi minumnya es teh ya mbak." Ucap Yoga sambil berjalan menyusul Kaisar yang sudah lebih dulu pergi menuju meja kantin.


"Iya mas Yoga." Jawab Wati lagi yang kemudian dengan sigap tangannya menyiapkan pesanan Kaisar dan Yoga yang sudah menjadi langganannya sejak lama.


"Eh Kai asem lo malah ninggalin." Keluh Yoga yang langsung duduk di depan Kaisar.

__ADS_1


"Untung lo gak kenapa-kenapa gue tinggalin." Ejek Kaisar.


"Etdah lu pikir ini di Himalaya apa sampe gue kenapa-kenapa ditinggalin elo." Timpal Yoga dengan suara keras yang mengakibatkan semua siswa-siswi menoleh ke arahnya.


"Dah ah berisik lo bisa diem kagak gak malu apa diliatin semua orang lihat noh." Jawab Kaisar ketus sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.


"Kapan gue punya malu?" Jawab Yoga sambil meletakkan jari telunjuk di dagunya sebagai tanda berfikir.


"Emang dasar bocah satu ini ya, minta di sunat lagi!" Kaisar menimpali dengan memukul kepala Yoga menggunakan sendok yang diambilnya dari atas meja.


"Hahaha dah ah, gue mau ngomong serius nih. Kali ini gue traktir lo silahkan makan seadanya aja." Ucap Yoga yang sudah melipat tangan di depan dada dengan gaya sombongnya.


"Heleh enak aja seadanya, mau makan banyak lah kapan lagi dibayarin. Lo kan jarang bayarin gue kecuali ada maunya doang."


"Eh gue ralat ya. Gue itu sering bayarin lo, lo lupa apa gue banyak maunya." Cerocos Yoga.


"Eh iya gue lupa." Jawab Kaisar, dan keduanya pun tertawa terbahak-bahak.


"Ini mas pesanannya sudah siap." Wati datang dengan membawa nampan berisi mie ayam dan minuman, yang langsung diletakkannya dengan hati-hati di atas meja tempat Kaisar dan Yoga berada.


"Eh iya mbak makasih ya." Jawab Kaisar dan Yoga bersamaan. Tanpa pikir panjang lagi keduanya langsung menyantap makanan yang sudah disiapkan untuk keduanya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa klik like dan favorit ya🐣🐣🐣


__ADS_2