
"Sekarang Mama istirahat ya." Ucap Kaisar sambil menyelimuti tubuh wanita paruh baya itu, dia sudah selesai menyuapi Anika.
Anika meraih tangan Kaisar saat pemuda itu masih memasangkan selimut ke tubuh Anika.
"Kai, ada yang mau Mama omongin." Ucap Anika tiba-tiba.
Kaisar menghentikan pekerjaannya lalu menatap Anika sekilas sebelum menjawab, "Lupakan kalo Mama mau ngomongin soal Papa."
"Bukan itu nak, ada hal lain yang perlu Mama bicarain." Jawab Anika sambil berusaha untuk duduk.
Kaisar yang melihat itu segera membantu Anika dengan hati-hati.
"Mama mau ngomongin apa?" Tanya Kaisar sambil duduk di sisi tempat tidur Anika.
Anika meraih tangan Kaisar dan digenggamnya dengan begitu erat sebelum mulai berbicara.
"Sebelumnya Mama minta maaf karena telah menyembunyikan hal sebesar ini darimu." Anika berbicara dengan menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap mata putranya itu.
"Mama nyembunyiin apa sampai harus minta maaf gini?" Kaisar masih menanggapi dengan santai.
__ADS_1
"Mama... Mama..." Anika berkata dengan terbata-bata dia mulai meneteskan air mata.
Kaisar yang melihat itu segera mendongakkan kepala Anika agar tidak menunduk lagi lalu mengusap air mata yang keluar dari mata Mamanya.
"Nggak papa Ma, Kaisar janji Kaisar nggak akan marah." Ucap pemuda tersebut dengan begitu lembut. Anika yang mendengar itu bukannya merasa lebih tenang justru semakin terisak.
"Ma-maafin Mama, Mama udah bohong sama kamu, Mama nggak kecapean ataupun stres sampai dirawat di rumah sakit. Tapi Mama sakit kanker rahim..." Meski dengan terbata-bata akhirnya Anika mampu mengeluarkan apa yang ingin dia sampaikan kepada Kaisar.
Mendengar itu Kaisar membelalakkan matanya karena begitu terkejut, "Kanker?!"
Anika menganggukkan kepalanya, "Iya, maafin Mama nak, Mama nggak bermaksud bohong sama kamu, tapi Mama cuma nggak mau kamu khawatir." Ucap Anika dengan sesenggukan.
"Harusnya Kai yang minta maaf Ma, beban sebesar ini harus Mama pikul sendiri tanpa Kaisar tahu."
Anika terus menangis dipelukan Kaisar sampai membasahi kaos yang dikenakan pemuda tersebut. Dia merasa sangat bersalah karena tidak mau jujur sebelumnya.
"Udah Ma, nggak papa. Kaisar nggak marah." Kaisar berusaha menenangkan Anika dengan mengusap-usap punggungnya.
Saat dirasa sudah cukup tenang, Kaisar melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata yang membasahi pipi Anika.
__ADS_1
"Sudah ya, Mama jangan nangis lagi." Ucap pemuda tersebut sambil tersenyum.
"Maafin Mama..." Kata Anika dengan masih sesenggukan.
"Iya iya... Kai maafin, udah nggak papa Mama jangan mikirin hal-hal yang nggak perlu lagi, Kaisar nggak marah kok."
Kaisar meraih tangan Anika sebelum berkata, "Tapi Mama harus janji, mulai sekarang nggak ada lagi yang Mama tutupin dari Kai. Mulai saat ini Mama harus cerita semuanya sama Kai."
"Pasti nak, pasti..." Jawab Anika dengan menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Pasti berat ya Ma? Menanggung semuanya sendirian?" Tanya Kaisar tiba-tiba.
Anika tersenyum lembut kemudian menjawab, "Tidak seberat dulu, karena kamu sudah tau semuanya Mama jadi lebih lega sekarang."
"Nah, Mama ngerasain sendiri kan? Kalo ada masalah kita cerita sama orang terdekat, pasti ada perasaan lega." Kata Kaisar, dia berbicara seperti orang dewasa.
Mendengar itu Anika tersenyum, "Jangan pernah tinggalin Mama ya nak."
Kaisar menggelengkan kepalanya pelan sebelum menjawab, "Nggak akan dan tidak akan pernah." Jawabnya sambil tersenyum lembut.
__ADS_1