
"Terima kasih sayang, telah melahirkan putra yang tampan untuk ku." Rendra berbisik pelan ditelinga Anika yang masih terbaring lemas.
Ya, waktu berlalu begitu cepat sejak Anika sembuh dari kankernya. Dan kini, dia baru saja melahirkan bayi laki-laki yang sangat mirip dengan Rendra.
"Kita akan beri nama siapa sayang?" Anika bertanya kepada Rendra, meski suaranya pelan namun Rendra masih mampu mendengarnya.
Rendra tersenyum kemudian menjawab, "Sejak mengetahui jenis kelaminnya saat itu, aku sudah menyiapkan nama yang bagus untuknya."
"Kita akan memberinya nama Kaisar, yang artinya adalah Raja!" Lanjut Rendra, sambil melirik Kaisar kecil yang tengah tertidur di tempat bayinya.
Anika tersenyum tipis, "Nama yang bagus, semoga kelak dia bisa menjadi raja atau pemimpin yang bijaksana dan bisa memberi kebahagiaan bagi orang-orang disekitarnya."
"Kamu benar sayang." Jawab Rendra sambil mengelus rambut Anika dan mengecup keningnya.
***
"Sayang maaf aku harus pergi ke luar kota untuk beberapa hari." Rendra berbicara dengan Anika wajahnya terlihat begitu menyesal.
__ADS_1
"Apa tidak bisa ditunda? Lusa anak kita ulang tahun yang kedua tahun." Jawab Anika, dia pun tidak berusaha menyembunyikan wajah murungnya.
Rendra menunduk, "Jika aku bisa, aku lebih memilih merayakan ulang tahun Kaisar bersama denganmu. Tapi ini sesuatu yang sangat mendesak yang tidak bisa ditunda." Katanya dengan memegang kedua tangan Anika.
Anika menoleh untuk melihat anaknya yang masih tertidur lelap di atas ranjang.
"Kalau tahu begini, seharusnya sejak awal kamu tidak usah mempersiapkan acara ulang tahun untuk Kaisar secara besar-besaran, jika kamu sendiri tidak bisa menghadirinya." Anika berbicara dengan menatap tajam ke arah Rendra.
"Maaf sayang ini juga begitu mendadak."
Rendra yang melihat itu menjadi panik dan mengehentikan perbuatan Anika, "Hei apa yang kamu lakukan? Sayang tolong jangan pergi aku tidak bisa hidup tanpamu dan juga Kaisar." Katanya yang langsung merebut koper dari tangan Anika.
Anika hanya diam dan hanya memandangi wajah Rendra.
Melihat Anika hanya diam, Rendra melakukan hal di luar dugaan Anika, yaitu Rendra berlutut di depan Anika dan mulai menitikkan air mata, "Sayang ku mohon jangan tinggalkan aku, ini hanya masalah kecil dan bisa dibicarakan baik-baik. Tidak perlu sampai pergi dari rumah."
Anika justru tertawa melihat tingkah Rendra yang berlebihan itu, "Hahaha apa yang kamu pikirkan? Bukan aku yang akan pergi, tapi dirimu Rendra." Anika tertawa bahkan sampai sedikit mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Rendra bertanya dengan menunjukkan wajah bingung lalu berdiri.
"Maksudku... Kamu yang akan pergi bukan aku. Aku mengambil koper untuk mempersiapkan barang-barangmu yang akan kamu bawa besok. Bukan untuk meninggalkanmu pergi sayang..." Anika menjelaskan sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"Jadi kamu tidak jadi pergi?" Rendra bertanya dengan antusias dengan memegang kedua tangan Anika.
"Bukan tidak jadi pergi, tapi tidak akan pergi." Jawab Anika dengan tersenyum lembut.
"Ah syukurlah... Aku kira kamu tadi akan pergi meninggalkanku." Rendra berhambur memeluk Anika.
"Dasar bodoh! Mana mungkin aku akan pergi." Anika berbicara dengan mengusap sisa-sisa air mata Rendra.
"Kemarilah!" Anika menyuruh Rendra untuk mendekat kemudian memeluknya dengan erat.
"Kembalilah dengan selamat, sayang." Ucap Anika kemudian.
"Pasti." Jawab Rendra lalu mengecup puncak kepala Anika.
__ADS_1