
"Ayo sayang kita pergi dari sini." Rani berbicara sambil menggandeng tangan Adel dan tangan lainnya menarik sebuah koper.
"Kita mau kemana, Ma?" Tanya Adel dengan polosnya.
"Kita akan pergi jauh dari sini." Jawab Rani.
Adel tiba-tiba menghentikan langkahnya sebelum berkata, "Kalau kita pergi nanti Papa sama siapa, Ma?"
Rani menoleh kemudian menjawab dengan nada kesal, "Sudahlah! Kamu nggak perlu memikirkan laki-laki itu, dia bukan siapa-siapa kita lagi!" Jawabnya kemudian kembali menarik tangan Adel.
Saat keduanya baru sampai di teras rumah dan hendak memasukkan barang-barang ke mobil Rani, beberapa polisi menghampiri keduanya. Hal itu tentu membuat Rani begitu terkejut.
"Selamat siang, Bu!" Kata seorang polisi sambil bersikap hormat.
"S-siang, a-ada apa ya pak, kenapa polisi datang kemari?" Tanya Rani dengan terbata-bata.
"Apa benar Anda saudari Rani?" Tanya polisi tersebut.
"I-iya saya Rani, ini ada apa pak?"
Polisi tersebut menunjukkan sebuah surat kepada Rani sebelum menjelaskan, "Kami mendapat laporan tentang dugaan pencemaran nama baik yang Anda lakukan, dan ini adalah surat penangkapan Anda."
Tiga hari terakhir Rendra memang sengaja membiarkan Rani hidup tenang di rumahnya karena Rendra telah membuat laporan untuk penangkapan Rani. Jadi Rendra membiarkan Rani untuk tetap tinggal di rumahnya bertujuan agar proses penangkapannya berjalan dengan mudah.
Rani membelalakkan matanya terkejut ketika mendengar dirinya akan ditangkap, "Bohong! Itu semua palsu! Saya tidak pernah berbuat kejahatan apapun!"
"Anda bisa menjelaskan semua itu nanti di kantor. Sebaiknya Anda bersikap kooperatif agar proses ini bisa berjalan dengan lancar." Polisi itu hendak memborgol tangan Rani sebelum Rani kembali memberontak.
"Tidak! Saya tidak bersalah, itu semua palsu!" Rani hendak lari namun polisi lebih dulu meraih tangannya dan segera memborgolnya.
__ADS_1
"Mama!" Adel menangis ketakutan melihat kejadian itu.
"Pak, pak saya mohon biarkan saya bicara dulu dengan anak saya." Rani memohon kepada polisi ketika dirinya akan dibawa masuk ke dalam mobil polisi.
Polisi itu menuruti perkataan Rani dan membiarkan wanita itu bicara dengan anaknya.
"Sayang, kamu tunggu di rumah sebentar ya, Mama akan menghubungi om baik untuk menjemputmu." Ucap Rani, yang dimaksud om baik adalah Satya, Adel memang memanggil Satya dengan sebutan om baik dari awal pertemuan mereka.
"Adel mau ikut Mama." Jawab Adel sambil menggelengkan kepalanya berulang kali dan menangis sesenggukan.
"Sayang dengarkan Mama. Mama harus pergi sekarang, kalau nggak nanti Mama dimarahin sama pak Polisi. Jadi Adel tunggu sebentar di rumah nggak papa ya nak ya. Adel kan pinter, hm?" Rani berusaha membujuk Adel. Akhirnya dengan berbagai alasan, Adel mau ditinggal sendiri di rumah untuk menunggu kedatangan Satya.
Setelah berhasil membujuk Adel, Rani meminta izin kepada polisi untuk menghubungi Satya untuk menjemput Adel dan mengabari dirinya tengah ditangkap polisi.
"Sekarang Adel masuk." Kata Rani dan Adel pun menuruti perkataan Rani untuk masuk ke dalam rumah. Sementara Rani memasuki mobil polisi untuk menuju ke kantor polisi.
***
"Apa! Ditangkap?!" Baru saja mengangkat ponsel itu Satya langsung mendapatkan kabar buruk dari Rani yang mengabarkan dirinya telah ditangkap polisi.
"Tapi kenapa kamu ditangkap?" Tanya Satya, dia diam sejenak untuk mendengar jawaban dari Rani sebelum akhirnya berkata, "Baik, kamu jangan khawatir, aku akan menjemput Adel sekarang dan menjaganya dengan baik." Selepas berkata demikian, panggilan pun berakhir.
"Kurang ajar!" Satya mengumpat keras sambil menggenggam erat ponselnya.
Satya merapatkan giginya sambil berkata, "Awas kamu Rendra!" Ucapnya yang kemudian langsung pergi untuk menjemput Adel yang tengah menunggunya seorang diri.
Satya terus mengumpat dalam perjalanannya untuk menjemputmu Adel.
"Kamu salah mencari musuh Rendra, kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa." Ucap Satya sambil terus menyetir mobilnya.
__ADS_1
"Akan ku pastikan kamu akan menyesali perbuatan mu!"
***
Kabar tentang penangkapan Rani begitu cepat menyebar bahkan sampai ke telinga Rendra.
"Bagus! Pastikan dia dihukum seberat-beratnya!" Rendra berkata dengan dua orang laki-laki yang saat ini tengah duduk bersamanya di ruangan Rendra.
"Tapi apa bapak sudah mengetahui tentang hubungannya dengan pak Satya?" Tanya salah satu orang itu, ekspresi wajahnya menunjukkan sedikit kekhawatiran.
Rendra justru tertawa lantang beberapa saat, setelah tawanya terhenti dia berkata, "Saya tidak peduli dia punya hubungan dengan siapa, saya tidak takut! Yang terpenting kita harus memastikan wanita murahan itu dihukum dengan seberat-beratnya!"
"Tapi pak, bagaimana jika pak Satya tidak tinggal diam?" Tanya orang yang satunya lagi.
"Maka kita harus bergerak lebih cepat bukan? Sudahlah, kalian tidak perlu mengkhawatirkan soal itu. Kalian urus saja perkejaan kalian!" Ucap Satya.
"Baik pak, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Kalau begitu, kamu undur diri." Ucap keduanya kemudian pergi dari ruangan Rendra.
"Ika, lihatlah aku sudah mengambil langkah pertama untuk menebus kesalahanku." Kata Rendra saat kedua orang itu pergi. Nada bicara Rendra tidak sedingin sebelumnya saat dirinya masih bersama kedua orang tadi.
"Aku harap, kamu dan Kaisar mau memaafkan diriku setelah ini." Rendra berkata dengan tatapan yang menyedihkan.
.
.
.
Yuk vote!😊
__ADS_1