
Sekitar pukul delapan malam, Rendra sudah tiba di rumahnya. Saat memasuki rumah, terlihat Anika dan Kaisar sedang menikmati tayangan tv sepak bola. Tentu saja yang paling menikmati adalah Kaisar, Anika hanya ikut menemani saja sambil membaca novel meski berisik akan teriakan-teriakan Kaisar yang tidak jelas melihat tim kebanggaannya hampir mencetak goal tapi gagal.
"Ramenya..." Rendra bersuara cukup keras, namun sayangnya tidak ada yang mendengar dan menyadari Rendra pulang.
"Wow! Manchester United main rupanya!" Rendra berteriak lantang saat melihat tim kebanggaannya main. Anika dan Kaisar refleks menoleh.
"Ya ampun Papa ngagetin tau!" Kaisar protes sambil memasang wajah cemberut.
Anika melepas kacamatanya saat melihat Rendra kemudian berkata, "Baru sampai Pa?"
"Iya baru saja." Jawab Rendra
"Aku buatkan teh hangat dulu untukmu. Istirahatlah!" Anika tersenyum kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah dapur.
"Geser!" Rendra menghampiri Kaisar dan menyuruh anak itu untuk menggeser duduknya agar Rendra bisa duduk di sampingnya.
Pasangan ayah dan anak itu kalau sudah berurusan dengan bola memang sudah seperti teman sebaya saja, sama-sama hebohnya melihat tim kebanggaan mereka masing-masing bertanding.
"Ini pasti Manchester City kalah nih!" Komentar Rendra saat sudah duduk dan mengamati pertandingan.
Kaisar melirik ke arah Rendra, "Papa sepertinya lupa, dalam musim ini Manchester City selalu menang melawan Manchester United." Ucap Kaisar dengan bangga.
__ADS_1
"Halah pret lah!" Jawab Rendra yang kemudian dibalas tawa oleh Kaisar.
Rendra seolah melupakan rasa lelahnya saat menonton bola bersama anaknya, baginya momen seperti ini sangat sayang untuk dilewatkan. Jadi tujuan Rendra sebenarnya adalah bukan untuk melihat tim kebanggaannya bermain melainkan membuat Kaisar bahagia dan tidak pernah berpikir merasa terabaikan. Ya, seburuk apapun Rendra, dia adalah sosok ayah yang selalu mengutamakan kepentingan anaknya sesibuk apapun itu.
"Minum dulu tehnya Pa, habis itu mandi." Kata Anika ketika dia membawakan teh hangat untuk Rendra.
"Sebentar lagi Ma, nanggung bentar lagi selesai." Jawab Rendra tatapannya tetap fokus ke layar televisi.
"GOAL!!!" Kaisar berdiri dan berseru lantang saat tim kebanggaannya mencetak goal dimenit-menit terakhir.
Rendra pun berdecak kesal, "Hais!"
"Diminum dulu Pa, ntar keburu dingin." Anika menyodorkan secangkir teh hangat dan diterima Rendra dengan tersenyum.
Setelah meminum tehnya sambil sesekali berbincang ringan dengan Anika dan Kaisar, Rendra berdiri lalu berkata, "Baiklah aku mandi dulu, lalu akan langsung istirahat." Katanya yang langsung berjalan menuju kamarnya.
Anika melirik koper yang masih tergeletak diruang tv, kemudian dia mengambilnya dan membawanya ke kamar bersiap untuk mengambil barang-barang Rendra dari dalam koper.
"Apa ini?" Anika bertanya setelah membuka koper dan melihat ada sebuah paper bag berukuran cukup besar disana.
"Tas?" Katanya lagi saat melihat isi dari paper bag tersebut.
__ADS_1
Anika tersenyum bahagia, "Apa Rendra membelikan ini untukku?" Dia mencoba megenakan tas tersebut dan melihat dirinya sendiri di cermin.
"Seleranya bagus juga, tumben sekali dia mau membeli barang seperti ini biasanya dia lebih suka membeli baju." Anika tertawa geli.
"Ah masih ada rupanya." Anika merogoh paper bag tersebut dan mengeluarkannya.
"Baju? Untuk anak perempuan?" Anika heran saat melihat isinya. Ya, itulah baju untuk anak perempuan.
Dipandanginya baju tersebut lebih seksama dengan dibentangkan di depan mata sebelum akhirnya suara Rendra mengejutkannya, "Itu dari rekan kerjaku, dia tidak tahu aku punya anak laki-laki jadi asal membelikan baju untuk anak perempuan." Rendra berkata setelah keluar dari kamar mandi dan melihat Anika sedang mengamati baju ditangannya.
Anika menoleh ke belakang dimana Rendra berada, "Jadi bukan kamu yang membelinya?"
"Bukan." Jawab Rendra singkat sambil mengeringkan rambut dengan handuk.
Wajah Anika seketika menjadi murung karena dia mengira sebelumnya Rendra lah yang membelikan barang itu untuknya, dan dengan perasaan sedikit kecewa dia melepaskan tas yang masih dikenakannya itu.
Rendra yang melihat ekspresi wajah Anika berkata, "Apa kamu pikir aku mau membelikan sesuatu untuk mu? Hah jangan mimpi!" Dia berkata dengan tersenyum sinis.
"Meski dalam mimpi sekalipun, aku sudah bahagia Rendra." Anika tersenyum pahit kemudian meletakkan tas tersebut di atas ranjang sebelum melangkah keluar dari kamarnya.
Ketika sudah berada di depan kamar, Anika mengentikan langkahnya dan memandangi pintu kamar yang sudah tertutup itu, "Bagaimana lagi aku harus menjelaskan padamu Rendra." Anika berkata dengan tatapan yang putus asa lalu pergi dari sana.
__ADS_1