Keluarga Yang Tak Dirindukan

Keluarga Yang Tak Dirindukan
Taman


__ADS_3

"Untuk apa kamu kembali?" Tanya Rani kepada Satya setelah mereka berdua mengantar Adel ke sekolah. Mereka sudah duduk disebuah taman perkotaan.


"Apakah waktu 10 tahun masih tidak cukup bagimu?" Tanya Satya kepada Rani.


Rani hanya diam, dia diam cukup lama seperti sedang memikirkan sesuatu di kepalanya.


"Kalau kamu diam begini, apakah artinya kamu masih memikirkan tentang masa lalu?" Tanya Satya kemudian dan Rani pun menoleh sambil membelalakkan matanya karena terkejut. Bagiamana Satya bisa tau, begitu pikirnya.


"Hahaha benar kan dugaan saya. Lihat, dari dulu kamu memang tidak pernah bisa menyembunyikan sesuatu dariku." Lanjut Satya lagi yang diiringi dengan gelak tawa.


"Apakah ada yang lucu sehingga membuatmu tertawa seperti itu?" Tanya Rani kemudian setelah diam cukup lama.


Satya masih tertawa meski tidak sekeras sebelumnya dia kemudian menghela nafas panjang untuk mengatur nafasnya sebelum berkata, "Tentu saja ada, kalau tidak mana mungkin saya bisa tertawa." Katanya yang masih diiringi dengan sedikit tawa.


"Kalau kamu lihat ekspresi kagetmu barusan, kamu juga pasti akan tertawa. Hidungmu itu lho, kalau kaget bisa mengembang kempis begitu." Lanjut Satya lagi, tawanya masih saja sulit berhenti bahkan air matanya sedikit keluar karena tertawa.


Rani rasanya ingin sekali memukul pria disampingnya dengan keras. Bagaimana bisa Satya tertawa sekeras itu karena hal yang tidak lucu menurutnya.


"Aku pergi." Kata Rani singkat sambil bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Eh tunggu, baiklah baiklah aku tidak tertawa lagi." Kata Satya kemudian sambil mengusap air mata yang sedikit keluar dari ujung matanya. Tapi tetap saja tawanya belum benar-benar berhenti.


Rani masih tetap berdiri dan hanya melirik Satya sekilas.


"Hey ayolah jangan terlalu jutek seperti itu, kita baru bertemu sekarang setelah 10 tahun apa kamu tidak ingin mengetahui kabarku?" Ucap Satya sambil menarik tangan Rani agar duduk kembali.


"Gak perlu menarik tanganku seperti itu aku bisa duduk sendiri!" Kata Rani ketus kepada Satya.


"Ck! Kamu ini galak sekali, untung Adel tidak mirip denganmu." Kata Satya yang langsung disambut dengan tatapan tajam dari Rani.


"Hanya bercanda, tidak perlu memandangku seperti itu. Aku tau aku tampan." Lanjut Satya dan lagi-lagi dia tertawa terbahak-bahak.


"Cukup sudah basa-basinya! Katakan untuk apa kamu kembali lagi." Tegas Rani berucap sambil menoleh ke samping dimana Satya berada.


Satya berdehem pelan lalu menarik nafas panjang sebelum menjawab, "Sederhana saja, disini rumahku untuk itulah aku pulang."


"Katakan sebenarnya! Apa kamu ingin menghancurkan kehidupanku lagi seperti waktu itu hah?!" Kata Rani dengan suara yang menggebu-gebu.


"Hei tenanglah, tidak perlu bicara keras-keras seperti itu, ini di tempat umum Rani..." Satya mencoba menenangkan Rani yang emosinya sudah hampir meledak.

__ADS_1


"Tenang? Kamu pikir aku bisa tenang setelah kamu jelas-jelas sudah kembali dan muncul dihadapanku seperti sekarang ini?" Jawab Rani sinis.


"Untuk itulah sekarang kita disini... Rani aku ingin menjelaskan kejadian sepuluh tahun yang lalu agar kamu tidak lagi salah paham denganku." Kata Satya sambil memandang lekat mata Rani.


Rani membalas tatapan Satya, dalam benaknya dia berfikir haruskah dia mendengar penjelasan-penjelasan lain yang keluar dari mulut pria dihadapannya itu? Sedangkan secara garis besar dia sudah tau apa yang sebenarnya terjadi, dan pria dihadapannya sudah menghancurkan kehidupannya.


Rani tertawa kecil, tapi jangan berfikir Rani sedang menertawakan hal yang lucu. Rani tertawa tapi dalam tawanya mengandung kekecewaan yang mendalam. Dia tertawa cukup lama sebelum berkata, "Penjelasan? Kamu ingin menjelaskan apalagi Satya? Bagiku semuanya sudah jelas dan tidak perlu dibicarakan lagi!"


"Tidak Rani, apa yang kamu pikirkan tentangku semuanya salah! Apa yang kamu ketahui tidak sepenuhnya benar!" Satya menggelengkan kepalanya tatapan matanya mengatakan bahwa dia sedih tidak bisa membuat Rani percaya.


Satya berusaha meraih kedua tangan Rani, tapi Rani langsung menarik tangannya dan berkata, "Butuh sepuluh tahun bagiku untuk melupakan semuanya! Dan disaat sekarang aku sudah bahagia bersama keluargaku, kamu datang seperti tidak punya dosa apa kamu tidak punya malu hah!"


"Sekarang jangan pernah muncul dihadapanku lagi!" Rani bangkit dari tempat duduk lalu melangkah pergi tanpa menolah sedikitpun dan tidak memperdulikan Satya yang berusaha menahannya.


"Rani... Rani tunggu! Dengarkan penjelasanku dulu Rani!" Satya berusaha mengejar Rani tapi dia gagal karena Rani sudah pergi jauh.


"Hais sial! sial! sial!" Umpat Satya sambil memukul-mukul angin dan mengacak-acak rambutnya sendiri.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa klik like dan favorit ya🐣🐣🐣


__ADS_2