Keluarga Yang Tak Dirindukan

Keluarga Yang Tak Dirindukan
Maaf Yang Terlambat


__ADS_3

"Akhirnya kita bisa satu kamar Ma!" Kaisar tertawa lepas sambil berbaring di tempat tidurnya.


Anika yang melihat putranya tertawa serenyah itu juga tidak bisa menahan tawanya, "Senangnya putra Mama." Ucapnya dengan diiringi tawa.


Kamar inap Kaisar dan Anika memang sengaja disatukan dalam ruangan yang sama, itu adalah perbuatan Elena. Dia berpikir dengan melakukan itu bisa mendatangkan energi positif bagi Anika dan juga Kaisar, ya tindakan tersebut memang tidak salah.


"Seneng dong, jadi Kai nggak harus kena marah sama tante Lena lagi karena melepas selang infus sendiri."


"Dasar anak nakal!" Jawab Anika dengan menggelengkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian ada seseorang yang memasuki ruangan keduanya, yang sontak membuat Anika dan Kaisar menoleh ke arah orang tersebut, keduanya membelalakkan matanya karena terkejut.


"Rendra!"


"Papa!"


Ucap keduanya secara bersamaan setelah melihat yang datang adalah Rendra.


Rendra tersenyum sambil menghampiri keduanya, di tangan kirinya terlihat dia membawa parsel buah sedangkan tangan kanannya membawa buket bunga.


Rendra meletakkan parsel buah di atas meja sebelum melangkah ke tengah-tengah tempat tidur Anika dan Kaisar.


"Aku bahagia sekali mengetahui kamu telah sadar." Ucap Rendra sambil tersenyum dan menyodorkan buket bunga kepada Anika.

__ADS_1


Melihat Anika hanya diam tidak menerima buket bunga tersebut, Rendra tidak tersinggung dia justru melekatkan buket bunga itu di samping Anika sebelum berbicara kepada Kaisar.


"Hei jagoan! Maaf ya, Papa baru sempat datang sekarang, karena pekerjaan Papa lagi banyak-banyaknya, jadi Papa baru bisa datang ke sini." Kata Rendra sambil mengusap-usap rambut Kaisar.


Kaisar menepis tangan Rendra yang berada di kepalanya sebelum berkata, "Orang tua lain jika mendengar anak atau istrinya sakit pasti akan langsung datang walau sesibuk apapun itu, tapi Papa harus menunggu waktu luang untuk datang ke sini? Sungguh miris!" Kaisar berkata sambil tersenyum sinis.


"Tidak nak, bukan itu maksud Papa, maksud Papa adalah..." Rendra belum sempat menyelesaikan ucapannya sebelum Anika tiba-tiba memotong perkataannya.


"Sebaiknya kamu tidak pernah datang ke sini lagi." Kata Anika dengan nada dingin yang membuat Rendra menoleh ke arahnya.


Dulu mungkin Anika akan sangat senang mendengar permintaan maaf dari Rendra tapi sekarang keadaan sudah berubah dan semuanya sudah terlambat. Mengingat selama dia sakit, Rendra tidak pernah sekalipun datang untuk sekedar melihat keadaannya, yang memaksa Kaisar harus berjuang seorang diri merawat Anika.


"Ika, Maafkan aku. Aku belum meminta maaf padamu dengan baik." Ucap Rendra sambil meraih tangan Anika.


"Ika aku sadar, tindakanku selama ini sangat salah padamu, dan juga Kaisar. Aku baru sadar semua perkataan mu itu benar, bahwa aku lah yang salah dalam hal ini, aku lah yang bodoh percaya begitu saja dengan apa yang aku lihat tanpa mau mendengarkan penjelasan mu terlebih dahulu." Rendra menggigit bibirnya dia bahkan sampai meneteskan air mata.


Rendra menggigit bibirnya sebelum melanjutkan perkataannya, "Ika kamu boleh hukum aku semaumu, tapi satu hal yang aku minta, jangan pergi dariku dan kembalilah padaku, aku tidak bisa hidup tanpamu dan juga Kaisar, anak kita."


Kaisar yang sudah dalam posisi duduk bertepuk tangan setelah mendengar perkataan Rendra sebelum berkata, "Hebat sekali, hebat sekali! Papa belajar sandiwara darimana? Tidak bisa hidup tanpa kami? Wow! Aku sungguh tersentuh!"


"Kalau Papa sampai detik ini tidak mengetahui kebenarannya, apa Papa akan datang pada kami dan mengatakan hal demikian juga, hah?! Tidak kan?! Jadi stop berbicara seperti Papa adalah orang yang sangat menginginkan keluarga ini!" Kaisar berteriak lantang.


"Kaisar apa maksudmu nak? Papa memang menginginkan keluarga kita, Papa menginginkan kalian, istri dan anak Papa yang sangat Papa cintai." Jawab Rendra.

__ADS_1


Anika yang mendengar itu semua terlihat kebingungan, dia berusaha mencari jawaban dengan bertanya kepada Kaisar, "Kebenaran? Kebenaran apa maksud kamu nak?"


"Ma, Papa sudah tahu kalau istri yang selama ini Papa banggakan, sudah membohongi Papa dan putrinya itu bukan anak kandung dari Papa!"


Anika membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang didengarnya, sementara Kaisar tidak memberi tahu Anika tentang Rani yang merupakan orang yang telah menjebaknya karena memang Kaisar belum mengetahui soal ini.


"Benarkah semua itu?" Anika bertanya kepada Kaisar.


"Itu benar, Ika. Aku telah dibohongi oleh orang yang ku anggap sebagai orang terbaik di dunia ini. Dan aku, sudah mengurus perceraianku dengan Rani." Rendra lah yang menjawab pertanyaan Anika.


Kaisar kembali berbicara kepada Rendra, "Setelah Papa kehilangan keluarga Papa yang lain, Papa pikir bisa kembali kepada kami begitu saja? Jangan bercanda!"


"Papa tahu nak, Papa tidak bisa mendapatkan maaf dari kalian begitu saja, tapi Papa berjanji Papa akan menebus semua kesalahan Papa dan berusaha mendapatkan maaf dari kalian." Jawab Rendra.


"Yang dikatakan oleh Kaisar itu benar, kamu tidak bisa seenaknya datang dan pergi begitu saja. Kami pikir aku nggak punya hati hah?! Sudah cukup belasan tahun kamu menyakiti diriku dan sekarang sudah tidak ada kata maaf bagimu lagi, Rendra semuanya sudah terlambat. Mulai saat ini jangan pernah menemui kami lagi!" Anika berkata dengan meneteskan air mata.


Bagaimana mungkin Rendra bisa seperti itu datang dan pergi sesukanya tanpa memikirkan perasaan Anika.


Rendra menggenggam erat tangan Anika sambil berkata, "Ika aku mohon, berikan aku satu kesempatan lagi, aku berjanji akan menjagamu dengan baik."


"Papa nggak denger kata Mama? Pergi dari sini sekarang juga!" Kaisar berkata dengan nada dingin.


"Ika..."

__ADS_1


"Pergi!" Ucap Anika tanpa memandang ke arah Rendra.


Akhirnya dengan berat hati, Rendra pergi dari ruangan Anika dan Kaisar, namun semuanya tidak berakhir disana. Rendra akan melakukan segala cara demi mendapatkan keluarganya kembali.


__ADS_2