Keluarga Yang Tak Dirindukan

Keluarga Yang Tak Dirindukan
Restoran


__ADS_3

"Kaisar... Sudah apa belum?" Teriak Anika memanggil Kaisar sambil memakai jam tangannya.


"Bentar lagi Ma!" Sahut pemuda tersebut dari dalam kamar.


Anika menghela nafas pelan lalu duduk di sofa ruang tamu, "Apa aku coba hubungi Rendra? Siapa tahu dia mau menyusul nanti." Gumam wanita tersebut.


"Rendra, aku dan Kaisar akan makam malam di restoran favorit kita. Jika kamu tidak lembur menyusul lah kami akan menunggu." Pesan terkirim yang ditujukan untuk Rendra.


Pesan sudah menunjukkan tanda terbaca, namun setelah beberapa menit tidak ada balasan dan akhirnya Anika mengirim pesan kembali, "Setidaknya balas pesanku." Pesan terkirim dan sudah menunjukkan tanda terbaca. Anika pun hanya mampu menghela nafas panjang.


"Ayo Ma, Kai udah siap." Ucap pemuda tersebut dengan tersenyum lebar sampai terlihat gigi-gigi putihnya.


"Gantengnya anak Mama..."


"Jelas dong, kalo kata Papa ketampanan Kai ini menurun dari Papa." Kaisar berkata dengan cengengesan.


"Iya lah, masa menurun dari Mama." Anika menimpali dengan geleng-geleng kepala, dan keduanya pun tertawa bersama.

__ADS_1


"Baiklah, ayo berangkat sekarang." Anika berkata sambil berdiri dari duduknya lalu melingkarkan tangannya di lengan Kaisar.


"Let's go!" Ucap Kaisar dengan semangat lalu menuju restoran yang sudah menjadi langganan keluarganya.


Jalanan malam itu sedikit macet sehingga pengendara harus ekstra sabar dan hati-hati agar tidak terjadi kesalahan.


"Mama udah ngabarin Papa kalau kita mau makan di luar?" Tanya Kaisar kepada Anika tanpa melihat ke arahnya, karena pemuda tersebut masih fokus mengemudikan mobilnya.


Anika yang duduk di sampingnya pun menoleh, "Sudah nak, Papa bilang nggak bisa soalnya ada lembur malam ini." Anika terpaksa berbohong.


Kaisar hanya mengangguk pelan tanpa berkomentar lebih jauh. Satu jam kemudian sampailah keduanya di sebuah restoran dan langsung memasuki restoran tersebut setelah memarkirkan mobilnya.


"Itu ya? Ya sudah ayok." Ajak Anika.


"Mau pesan apa mas, Bu?" Seorang pelayan laki-laki menghampiri keduanya setelah keduanya sudah duduk.


"Saya pesan..." Anika menyebutkan pesanannya tanpa melihat daftar menu terlebih dahulu, karena dia cukup sering datang ke restoran tersebut dan cukup menghafal menu yang disediakan. Dan setiap kali dia datang kesana, dia hampir selalu memesan makanan yang sama. .

__ADS_1


Berbeda dengan Kaisar, dia perlu melihat buku menu terlebih dahulu sebelum menentukan pesanan, karena dia berpikir siapa tau ada menu baru yang tersedia. Dan dugaannya tidak salah, memamg ada beberapa menu baru yang disediakan restoran tersebut.


"Mas saya pesan..." Kaisar menyebutkan beberapa makanan yang mampu membuat Anika membelalakkan matanya.


"Banyak banget, nanti siapa yang mau habisin?" Tanya Anika dengan melipat tangan di depan dada setelah pelayan laki-laki itu pergi.


Kaisar nyengir tidak menunjukkan perasaan bersalah, "Habis Ma, tenang... Anak Mama ini makannya banyak. Lagipula kapan lagi bisa makan enak." Kemudian dia tertawa kecil.


"Jadi maksud kamu, selama ini masakan Mama nggak enak?" Anika melotot ke arah Kaisar.


"Enggak, masih enak masakan di restoran ini." Lagi-lagi pemuda itu menjawab dengan tertawa terbahak-bahak.


Anika yang mendengar jawaban Kaisar hanya mendengus kesal, tapi selang beberapa saat dia ikut tertawa juga. Karena dia tau anak semata wayangnya tersebut hanya bercanda.


Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya pesanan keduanya pun datang dan segera di siapakan di atas meja oleh pelayan yang tadi mencatat pesanan mereka berdua.


"Silahkan dinikmati hidangannya." Pelayan itu mempersilahkan Kaisar dan Anika untuk menyantap hidangannya dengan begitu ramah.

__ADS_1


"Terima kasih mas." Jawab Anika dengan tersenyum, pelayan itu hanya mengangguk pelan kemudian pergi.


__ADS_2