
Sudah lebih dari dua Minggu Anika terbaring tak berdaya di ruang ICU. Selama itu pula tidak ada perkembangan yang berarti. Rendra terus datang untuk menjenguk Anika setiap harinya ketika Kaisar sekolah, karena dia tidak siap jika harus bertengkar terus menerus dengan putranya itu sehingga dia datang dengan cara sembunyi-sembunyi.
Terkadang Rendra datang untuk sekedar menceritakan apapun kepada Anika atau membersihkan tubuh Anika. Revan yang melihat semua tindakan Rendra semakin hari semakin merasa putus asa dan memutuskan untuk tidak berharap lagi kepada Anika.
Rendra baru saja pergi dari ruangan Anika saat Kaisar datang sehingga keduanya tidak bertemu.
"Ma, apa kabar hari ini?" Sapa Kaisar sambil duduk di kursi dan meletakkan tasnya di samping kursi.
"Semoga hari ini Mama segera bangun dari tidur ya." Ucap Kaisar, itu adalah kalimat yang Kaisar ucapkan setiap harinya. Berharap saat mengatakan itu, Anika benar-benar membuka mata.
Kaisar meraih tangan Anika sebelum berkata, "Ma, hari ini Kaisar sudah mendapatkan hasil ulangannya, Mama tahu? Kaisar peringkat tujuh lho." Ucap pemuda tersebut dengan sedikit tertawa.
"Maaf ya Ma, Kai kali ini nggak ikut tiga besar seperti biasanya karena Kai emang males belajar soalnya Mama nggak bangun-bangun sih."
"Bangun dong Ma! marahin Kai karena nilainya turun." Lanjut Kaisar.
Kaisar meraih tasnya kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas itu kemudian menunjukkannya kepada Anika layaknya menunjukkan kepada orang yang tengah berbicara kepadanya.
"Lihat Ma, walaupun nilai Kai turun tapi masih di atas KKM kok." Kata Kaisar sambil menunjukkan kertas hasil ulangannya.
"Ma lihat dong jangan cuma diem aja, Mama nggak mau apa lihat nilai anak sendiri?" Seiring Kaisar berkata demikian air matanya mulai menetes.
Ya sekuat apapun seseorang menghadapi suatu masalah akan ada waktu dimana dia merasakan titik terendah. Seperti yang dirasakan oleh Kaisar saat ini, sudah lebih dari dua Minggu Anika tak kunjung sadar dari masa kritisnya, hal itu membuat mental Kaisar begitu tertekan.
"Nggak berguna! Untuk apa nilai tinggi kalau Mama juga nggak sadar-sadar!" Kaisar menangis sambil meremas kertas ulangan ditangannya.
__ADS_1
"Kai harus berbuat apa Ma? Agar Mama bisa sadar? Apa Kai harus mati dulu biar Mama mau membuka mata?!" Ucap Kaisar yang sudah putus asa.
Setelah Kaisar mengatakan hal tersebut, seseorang menepuk pundaknya yang membuat Kaisar menoleh ke arahnya.
"Dokter Revan?" Kata Kaisar saat mengetahui siapa orang yang menepuk pundaknya.
Dokter Revan tersenyum sebelum menunjuk ke arah Anika dan berkata, "Jangan bicara seperti itu, lihatlah Mamamu ikut sedih." Revan menunjuk Anika yang meneteskan air mata di ujung matanya.
Kaisar menunduk sedih sambil terisak dia berkata, "Maaf Ma, Kaisar udah buat Mama nangis. Kaisar nggak tahu harus gimana lagi."
"Kamu tahu kan? Mamamu bisa mendengar apa yang kita ucapkan? Jadi saya mohon jangan ulangi hal tadi, oke?" Ucap Revan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Kaisar.
Melihat Kaisar terus menangis tak berhenti-henti Revan refleks mendekat dan memeluk pemuda tersebut.
"Sudah tenanglah, Mamamu akan baik-baik saja. Saya yakin itu." Ucap Revan berusaha menenangkan Kaisar.
"Percaya sama saya." Revan terus menenangkan Kaisar dengan pelukan hangatnya.
Setelah beberapa saat akhirnya Kaisar bisa tenang dan mengatur kondisinya.
"Andai dokter itu Papa saya, saya pasti sangat senang hari ini karena ada yang menguatkan saya dititik terendah saya." Ucap Kaisar setelah diam cukup lama. Keduanya sudah duduk bersebelahan.
"Bukankah hubungan kalian saat ini sudah membaik? Ah maaf saya tidak bermaksud ikut campur." Tanya Revan.
Kaisar menoleh ke arah Revan dengan bingung dia bertanya, "Maksud dokter?"
__ADS_1
"Akhir-akhir ini saya terus melihat Papa mu datang menjenguk Anika, dia merawat Anika dengan begitu baik. Jadi saya pikir masalah diantara kalian sudah selesai dan hubungan kalian kembali normal seperti sebelumnya."
"Mungkin iya bagi Papa, tapi tidak bagi saya." Jawab Kaisar sambil tersenyum miris.
Kali ini Revan yang terlihat bingung, "Maksud kamu hubungan kalian belum benar-benar membaik?"
"Iya." Jawab Kaisar singkat. Entah kenapa setelah mendengar hal itu dari Kaisar, ada sedikit perasaan lega yang menyelinap di hati Revan.
"Maaf dok, saya belum bisa menerima nasihat dokter untuk memaafkan Papa saya. Bagi saya, terlalu mudah bagi Papa untuk meminta maaf yang tidak sebanding dengan perbuatannya kepada Mama selama bertahun-tahun." Kata Kaisar, dia menunduk menyesal tak bisa melakukan apa yang sudah Revan nasihatkan padanya.
Revan menepuk pundak Kaisar sekali sebelum menjawab, "Kan saya sudah bilang, saran dari saya bisa kamu lakukan bisa juga tidak. Semuanya terserah padamu, saya paham kok kenapa kamu begitu sulit memaafkan Papamu. Jadi kamu tidak perlu meminta maaf seperti itu." Kata Revan sambil tersenyum tipis.
Kaisar mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah Revan kemudian tak disangka dia berhambur memeluk dokter tampan tersebut.
"Terima kasih untuk semuanya dok, saya bersyukur bisa mengenal dokter."
Revan tersenyum bahagia mendapat perlakuan hangat dari Kaisar, dia mengacak-acak rambut Kaisar kemudian menjawab, "Aku melakukan yang seharusnya."
"Eh maaf dok, saya sudah lancang." Ucap Kaisar setelah melepaskan pelukannya.
"Hahaha santai! Saya juga senang kok kamu bisa bersikap biasa saja dengan saya tanpa rasa canggung." Jawab Revan dengan tertawa kecil.
Kemudian keduanya mengobrol santai, kali ini seputar kehidupan Revan yang pernah menikah namun harus gagal. Pernikahan Revan dengan mantan istrinya tidak dikaruniai seorang anak.
Lalu Revan melanjutkan pembicaraan mengenai perkembangan sekolah Kaisar, Kaisar beberapa kali harus menanggung malu jika bercerita tentang kenakalan dirinya di sekolah. Revan bahkan sampai bertanya tentang nilai Kaisar, dan Kaisar dengan perasaan bangga mengatakan nilainya cukup bagus, meski tidak belajar dengan rajin dirinya masih ikut sepuluh besar.
__ADS_1
Keduanya terlihat seperti seorang anak yang tengah mengobrol dengan ayahnya, terlihat serasi. Akhirnya setelah beberapa waktu mengobrol dengan Revan, Kaisar bisa sedikit merasa lega.