
Pagi kembali datang, tapi kali ini matahari tak memberikan senyumannya hanya awan mendung yang menampakkan diri. Membuat siapa saja enggan bangun dari tidurnya dan hanya ingin terus bergelut dengan selimut tebal yang menghangatkan tubuh mereka.
Tak terkecuali perempuan paruh baya yang masih tertidur pulas di kamarnya, membiarkan dirinya tenggelam bersama dengan mimpinya wanita itu terlihat tidur dengan tangannya masih menggenggam erat sebuh foto. Ya, wanita itu adalah Anika setelah semalam dia menangis cukup lama akibatnya pagi ini wanita itu bangun terlambat padahal waktu sudah menunjukkan jam 8 pagi.
"Hei bangunlah! Ini sudah hampir siang..."
Dalam tidurnya Anika seperti mendengar suara seorang laki-laki, dia membangunkan Anika dengan sangat lembut. Tapi wanita itu masih saja enggan membuka matanya.
"Apa kamu begitu kelelahan? Sehingga jam segini saja belum bangun, dasar kebo!" Ucap pria itu lagi dengan lirih, diringi dengan sedikit tawa.
Pria itu memandangi wajah Anika dengan seksama, wajah yang sudah sedikit berkeriput itu terlihat begitu kelelahan tangannya terangkat untuk menyentuh setiap bagian wajah wanita paruh baya tersebut mulai dari kening hingga dagu. Kemudian dengan perlahan dan hati-hati dia mencium lembut kening Anika, senyuman pun mengembang dibibirnya. Hingga pada akhirnya pandangannya jatuh pada tangan Anika yang masih menggenggam sebuah foto.
__ADS_1
Pria itu dengan perlahan mengambil foto tersebut dari tangan Anika, lagi-lagi dia tersenyum melihat foto itu kemudian berkata, "Kamu masih menyimpannya ya? Sudah lama sekali dan kita terlihat sangat bahagia bukan? Hah! Sudah setua ini saja wajahmu tidak jauh berbeda saat masih muda dulu." Dipandanginya foto tersebut cukup lama matanya sedikit berkaca-kaca entah itu perasaan sedih atau bahagia. Pria itu kemudian meletakkan foto itu kembali ke tangan Anika.
Untuk sekali lagi, pria itu memandangi wajah Anika seperti menikmati pemandangan yang ada dihadapannya itu, dia menghela nafas panjang sebelum berkata, "Baiklah, tidurlah! Jangan menangis lagi agar mata mu tidak bengkak seperti sekarang." Pria itu berkata dengan pelan, dia membenarkan selimut yang digunakan Anika kemudian dia berjalan keluar kamar.
***
Anika membuka matanya dengan perlahan saat waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi, air matanya sedikit keluar saat dia membuka mata entah apa yang terjadi dengannya.
"Jika iya, itu adalah mimpi yang sangat indah." Ucapnya lagi sambil tersenyum.
Anika menyentuh keningnya dimana dia merasakan kecupan Rendra disana dia tersenyum lebar kemudian berkata, "Meski itu hanya mimpi, aku rela tidak bangun untuk waktu yang lama."
__ADS_1
"Astaga sudah jam sembilan! Bagaimana aku bisa bangun sesiang ini sih!" Anika terkejut bukan main saat melirik jam di kamarnya yang membuatnya segera bangkit dan berlari ke arah kamar mandi.
Anika butuh waktu setengah jam untuk membersihkan diri dan merapikan kamar tidurnya, dia kemudian keluar kamar dan langsung menuju ke arah dapur dia khawatir Kaisar tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah sehingga dia berniat membuat bekal untuk Kaisar dan diantarkannya ke sekolah nanti. Tapi setelah sampai di dapur, di sana dia menemukan makanan yang sudah disiapkan di atas meja dan ada kertas kecil yang terletak di bawah gelas berisi jus jeruk.
Anika mengambil kertas itu kemudian membacanya, "Good morning! Maaf hanya ini yang bisa ku siapkan untuk sarapan, semoga Mama suka." Anika tersenyum setelah membaca surat itu.
Ya, di atas meja makan tersebut hanya ada dua buah roti yang sudah diberi selai kacang dan juga segelas jus jeruk.
"Ah dasar Kaisar! Syukurlah berarti dia sudah sarapan sampai menyiapkan sarapan untuk Mama juga." Anika tersenyum dan geleng-geleng kepala, dia berfikir Kaisar lah yang menyiapkan sarapan itu.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa klik like dan favorit ya 🐣🐣🐣