Keluarga Yang Tak Dirindukan

Keluarga Yang Tak Dirindukan
Mendatangi Kantor


__ADS_3

"Akhirnya siap!" Gumam Anika setelah selesai menyiapkan bekal makan siang, dia berniat membawa bekal tersebut ke kantor Rendra dan memberikan padanya, karena tadi pagi Rendra hanya sarapan sedikit.


"Baiklah, aku bersiap dulu baru berangkat." Lalu Anika memasuki kamarnya.


Setelah selesai bersiap, Anika memeriksa bekalnya sekali lagi, "Oke aku cek dulu apakah masih ada yang kurang. Sendok sudah, nasi sama lauk juga udah siap, botol minum sudah, apalagi ya yang belum?"


Anika berusaha mengingat, "Ah iya sapu tangan, hampir saja kelupaan." Katanya dengan menepuk jidat, dia lalu mengambil sapu tangan kemudian berangkat menuju kantor Rendra.


***


"Rasanya sudah lama sekali aku tidak berkunjung ke kantor Rendra." Anika tersenyum sambil mengamati sekeliling. Sesekali dia membalas karyawan yang menyapa dan memberi hormat padanya, dia menuju ke bagian resepsionis terlebih dahulu sebelum menuju ruangan Rendra.


"Selamat siang Bu Ika." Sapa seorang karyawan bagian resepsionis.


Anika tersenyum kemudian berkata, "Siang, apakah pak Rendra ada di ruangannya?"


"Iya Bu, pak Rendra saat ini masih berada di ruangannya, apa perlu saya hubungi terlebih dahulu?"

__ADS_1


"Tidak perlu, biar saya langsung ke ruangannya."


"Baik Bu." Karyawan itu tersenyum dan dibalas anggukan kepala oleh Anika.


Anika sesekali tersenyum sendiri sambil berjalan menuju ruangan Rendra, dia membayangkan Rendra akan terkejut dan senang melihat Anika datang dan membawa bekal untuknya, seperti awal pernikahan mereka dulu.


Setelah sampai di depan ruangan Rendra, Anika menarik nafas dalam-dalam kemudian membuka pintu ruangan Rendra tanpa mengetuknya terlebih dahulu kemudian langsung masuk. Pria paruh baya tersebut terlihat tengah sibuk dengan kertas dan laptopnya.


Rendra sedang membaca laporan dan berbicara tanpa memandang ke arah Anika, "Apa kamu sudah tidak punya sopan santun, sehingga main masuk saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Linda?" Rendra mengira yang masuk ke ruangannya adalah Linda sekretarisnya.


"Kalau bicara itu lihat orangnya, bukan melihat yang lain." Ucap Anika sambil meletakkan bekal makan siang di atas meja tamu.


Anika tersenyum sambil menyiapkan bekal tersebut yang ditatanya di atas meja, "Melakukan tugas sebagai istri." Katanya kemudian.


Rendra melirik makanan yang sedang disiapkan Anika, "Bawa pulang saja, aku tidak selera makan." Kata Rendra yang kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Anika menghampiri Rendra yang tengah duduk di kursi kebanggaannya, "Kamu boleh menyiksaku tapi jangan menyiksa dirimu sendiri."

__ADS_1


"Makanlah, tadi pagi kamu hanya memakan sedikit sarapanmu dan sekarang kamu pasti belum makan siang." Lanjut Anika sembari menarik kertas yang sedang di pegang oleh Rendra.


"Lancang sekali kamu! Memangnya kamu siapa berhak mengaturku hah?!" Suara Rendra meninggi, untung saja ruangannya kedap suara jadi tidak ada yang mendengar dari luar.


"Sudah ku bilang bawa pergi makanan itu atau buang saja kalau kamu mau!" Lanjutnya lagi.


"Dan aku juga sudah bilang, jangan siksa dirimu sendiri seperti ini, makanan itu tidak salah kamu tidak perlu melampiaskan kemarahanmu pada makanan itu. Kamu tidak akan sakit jika memakannya meski itu buatanku sendiri." Anika berusaha membujuk.


"Tapi aku merasa jijik apapun yang kamu lakukan untukku!" Rendra berdiri dan berjalan ke arah meja dimana makanan itu diletakkan.


Rendra menyingkirkan semua makanan itu hingga tumpah berantakan di lantai.


"Apa yang kamu lakukan?!" Jerit Anika saat melihat Rendra membuang semua makanan yang dibawanya.


Rendra hanya diam dan menoleh ke arah Anika sekilas sebelum keluar dari ruangannya sendiri.


Anika berjongkok dan membereskan semua makanan yang sudah jatuh berantakan di lantai itu, kemudian berkata, "Kamu tak seharusnya melakukan ini Rendra."

__ADS_1


"Jika kamu memang tidak mau, kamu boleh memberikannya kepada sekretarismu atau karyawanmu yang lain kan?" Anika berkata dengan bercucuran air mata, dadanya terasa sesak karena merasa perbuatan Rendra kali ini sudah sangat keterlaluan.


"Keterlaluan!" Anika menangis terisak-isak meluapkan seluruh kekesalannya.


__ADS_2