Keluarga Yang Tak Dirindukan

Keluarga Yang Tak Dirindukan
Belanja Bersama


__ADS_3

"Kita berhenti dulu di minimarket depan ya Van." Anika berkata sambil menoleh ke arah Revan yang sedang fokus menyetir.


"Mau beli apa?" Tanya Revan yang ikut menoleh ke arah Anika dengan menunjukkan senyum manisnya.


"Aku mau beli bahan-bahan dulu buat makan nanti."


"Oh... Kamu nggak perlu turun, biar aku saja sama Kaisar yang belanja, gimana Kai?" Revan berkata sambil menoleh ke arah jok belakang dimana Kaisar duduk disana sambil memainkan game onlinenya.


Kaisar langsung menoleh ke arah Revan dengan ekspresi kebingungan, "Ya dok? Kenapa?"


"Anak ini kalau udah main game pasti nggak dengerin orang ngomong." Kata Anika sambil menepuk dahinya.


"Hehe ya maaf Ma, tadi dokter bilang apa?" Tanya Kaisar kemudian yang menoleh ke arah Revan.


"Bukan apa-apa, nggak papa Van, aku saja yang belanja sendiri sekalian gerakin tubuh biar nggak kaku."


"Oh belanja... Kai ikut! Kai juga mau jajan." Pemuda tersebut tampak antusias lalu memasukkan ponselnya ke saku celananya.


Revan mengangguk pelan sebelum berkata, "Baiklah kalau begitu kita belanja bersama."


Beberapa saat kemudian mobil berhenti di salah satu minimarket, Revan segera memarkirkan mobilnya di sana dan ketiganya turun dari mobil untuk berbelanja.

__ADS_1


Revan mengambil troli lalu mendorongnya sedangkan Anika mulai memilih-milih sesuatu apa yang akan dibelinya.


"Ma, Kai kesana ya mau ambil cemilan." Kaisar berkata sambil menunjuk rak yang berisi khusus camilan.


Anika mengangguk pelan menanggapi perkataan Kaisar. Jika dilihat Revan dan Anika seperti pasangan suami istri yang bahagia.


Saat Anika hendak mengambil sebotol minuman tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan tangan orang lain yang ingin mengambil minuman yang sama. Hal itu sontak membuat Anika menoleh ke arah orang tersebut.


"Rendra?!" Ucap Anika kaget, mendengar Anika menyebut sebuah nama Revan ikut melihat ke arah yang sama. Ada sedikit perasaan canggung kala Revan mengetahui Rendra disana juga.


"Ika? Kamu sudah boleh pulang? Apa kamu baik-baik saja? Kenapa langsung belanja bukannya langsung pulang ke rumah kita?" Rendra memegang kedua pundak Anika dengan melemparkan berbagai macam rentetan pertanyaan.


Anika yang merasa risih akan sikap Rendra perlahan-lahan dia menyingkirkan tangan Rendra dari pundaknya sebelum berkata, "Iya aku sudah boleh pulang hari ini. Dan tolong, jangan menyentuhku seperti itu kita sudah tidak seperti dulu lagi."


"Kamu ini bilang apa Ika? Kamu itu istriku, kalau begitu ayo kita pulang bersama." Rendra sudah siap menarik tangan Anika, namun wanita paruh baya tersebut lebih cepat menyembunyikan tangannya ke belakang.


Melihat itu Rendra tertawa kecil kemudian dia hendak menarik tangan Anika lagi sebelum akhirnya Anika berkata, "Aku tidak akan pulang ke rumah mu. Aku pulang ke apartemen ku sendiri."


"Apa maksudmu? Kenapa harus pulang ke apartemen sedangkan kita punya rumah?" Rendra tentu tidak terima.


Anika tersenyum masam sebelum menjawab, "Itu rumahmu bukan rumah kita."

__ADS_1


"Jangan menolakku, ayo kita pulang sekarang." Rendra berkata dengan nada dingin karena sudah mulai kehilangan kesabaran sambil berusaha menarik paksa tangan Anika.


"Hei, jangan kasar dengan wanita!" Akhirnya Revan berbicara sambil berusaha melepaskan tangan Rendra dari tangan Anika.


Rendra yang melihat itu jelas merasa tersinggung, "Dokter Revan?! Hah! Kamu itu siapa? Berani sekali berlaku seperti itu denganku, hah!"


"Aku calon suami Ika." Jawab Revan tegas.


"Apa?! Jangan bercanda! Dia masih istriku!" Tak hanya Rendra yang terkejut, Anika pun sama terkejutnya.


"Apa maksudmu Revan?" Anika bertanya dengan lirih.


Revan hanya menoleh ke arah Anika sekilas sebelum kembali melihat ke arah Rendra.


"Ya, Anika calon istriku. Aku sudah tahu semua tentang kalian, dan mulai saat ini jangan pernah ganggu kehidupan Anika ataupun Kaisar, mengerti!" Selepas berkata demikian Revan menarik tangan Anika agar pergi dari sana dan meninggalkan semua belanjaannya.


"Apa?! Sial!" Rendra mengumpat keras berusaha mengejar Anika dan Revan, namun seseorang menahan tangannya dari belakang yang membuat Rendra menoleh ke arah belakang.


"Kai?" Ucap Rendra saat tahu yang menahannya adalah Kaisar.


"Yang dikatakan dokter Revan itu benar, jadi jangan pernah ganggu kami lagi." Kata Kaisar yang langsung melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Rendra.

__ADS_1


"Kai, Kai!" Panggil Rendra dari belakang namun pemuda tersebut tetap berjalan seolah tidak mendengar.


__ADS_2