
Dalam waktu seminggu itu, Anika dan Revan bisa dengan cepat mengakrabkan diri satu sama lain, terlebih Revan merupakan teman dari Elena sehingga tidak sulit untuk Anika dan Revan menjalin hubungan pertemanan.
"Bagiamana kondisimu Ika? Apa merasa lebih baik?" Tanya Revan saat sedang memeriksa Anika, ya dia sudah tidak canggung memanggil Anika dengan sebutan nama saja.
"Ya seperti inilah, tidak ada yang merasa lebih baik jika seseorang mengetahui ada penyakit ganas yang menyerangnya." Jawab Anika dengan sedikit tertawa.
Revan menempelkan stetoskop ke bagian dada Anika untuk memeriksa denyut jantungnya dan pernapasannya.
Revan sedikit terkejut setelah mengetahui hasil dari pemeriksaannya sebelum berkata, "Ika, denyut jantung dan pernapasan mu melemah. Jika seperti ini terus, kita harus segera mengambil tindakan operasi." Ucap Revan setelah memeriksa keadaan Anika.
"Kamu sudah tahu, aku tidak mau melakukan operasi, jika operasi itu gagal bukankah kematianku akan semakin cepat?"
"Kamu jangan memikirkan hal yang belum tentu terjadi Ika, saat ini kita perlu melakukan hal sebaik mungkin. Aku sebagai dokter mu akan berusaha sebaik yang aku bisa."
"Berusaha saja tidak menjamin semuanya akan baik-baik saja Revan, kita jelas tau itu." Anika tetap bersikeras dengan keinginannya, dia tidak mau melakukan tindakan operasi karena dia yakin pasti bisa sembuh melalui kemoterapi seperti sebelumnya.
Saat Revan hendak menjawab, seseorang tiba-tiba menghampiri mereka berdua.
__ADS_1
"Hei ada apa ini? Kelihatannya ada perdebatan yang seru." Seru orang itu sambil berjalan menghampiri Revan dan Anika, yang membuat kedua orang itu menoleh ke arahnya.
"Lena?!" Ucap Anika dan Revan hampir bersamaan.
Elena tersenyum ke arah keduanya sebelum meletakkan parsel buah yang dibawanya ke atas meja lalu duduk di sisi ranjang tempat tidur Anika.
"Bagaimana kabarmu?" Elena bertanya kepada Anika.
"Aku baik." Jawab Anika sambil tersenyum.
"Bohong! Lena sahabatmu ini berbohong, kondisinya melemah aku menyarankan agar dia melakukan operasi pengangkatan rahim tapi dia bersikeras menolaknya." Revan tiba-tiba ikut menimpali dengan suara yang sedikit keras sehingga membuat Anika dan Elena cukup terkejut.
Anika tidak berani menatap mata Elena sebelum berkata, "Aku... Apa yang bisa aku lakukan Elena? Aku sudah pasrah akan semuanya. Aku sudah menderita selama ini dan aku tidak mau terlalu membebani Kaisar dengan keadaanku." Jawabnya yang kemudian memberikan diri untuk menatap mata sahabatnya itu.
Elena ingin menjawab namun tiba-tiba saja Anika mengaduh kesakitan.
"Aw!" Anika meringis menahan rasa sakit dibagian bawah perutnya.
__ADS_1
"Anika apa kau baik-baik saja?" Elena terlihat begitu panik begitu juga dengan Revan tak kalah paniknya.
"Sakit sekali Lena." Jawab Anika dengan suara yang bergetar.
Elena menatap ke arah Revan sebelum berkata, "Revan kita akan melakukan operasi untuk Anika."
Mendengar perkataan Elena, Anika berusaha menolak meski dengan suara yang lemah, "Tidak Lena, sudah ku bilang aku tidak mau! Kamu tidak punya hak untuk mengambil keputusan!"
"Saat ini aku adalah wali mu! Aku berhak untuk mengambil tindakan apa yang harus dilakukan, dan sebagai dokter aku juga perlu melakukan sesuatu yang bisa menyembuhkan pasienku!" Elena berteriak lantang.
"Ku mohon dengarkan Lena kali ini Ika, yakinlah, kamu pasti bisa melewati semua ini." Revan ikut membujuk Anika.
"Tidak perlu membujuknya lagi Revan, sudah diputuskan operasi ini akan dilakukan besok pagi." Ucap Elena dengan tegas.
Anika ingin menolak, tapi rasa sakit yang hebat membuatnya tidak bisa berkata apapun lagi.
"Ayo minum dulu obat ini agar rasa sakitnya hilang dan kamu bisa beristirahat." Kata Revan sambil menyodorkan obat dan segelas air putih yang langsung diminum oleh Anika.
__ADS_1
Tanpa ada yang tahu, Kaisar sejak tadi mendengar dan memperhatikan semuanya dari luar, dia begitu terpukul ketika mengetahui keadaan Anika semakin melemah, dia duduk di kursi tunggu sambil menangis dalam diam.