
"Rendra, aku takut..." Anika berbicara kepada Rendra, saat ini keduanya sedang berada di ruang rawat Anika. Dan hari ini adalah jadwal Anika untuk melakukan kemoterapi.
Rendra tersenyum lembut ke arah Anika, dia mengusap-usap pipi istrinya tersebut sebelum berkata, "Tidak usah takut, ada aku di sini, hm?"
Tentu saja perkataan Rendra tidak berhasil membuat Anika merasa baik-baik saja, Anika tetap merasa ketakutan.
Beberapa saat kemudian Elena datang bersama perawat lainnya berniat membawa Anika untuk melakukan kemoterapi.
"Sudah siap?" Elena bertanya kepada Anika.
Anika memejamkan matanya berusaha menguatkan dirinya sendiri sebelum menjawab, "Sudah dok!"
Kemudian Anika dibawa ke ruang kemoterapi, tak lupa Rendra selalu menemani di sampingnya.
***
"Lihat Ika! Aku baru saja membaca iklan di koran bahwa ada pengobatan herbal untuk berbagai penyakit, salah satunya kanker!" Rendra berbicara dengan penuh antusias.
__ADS_1
"Benarkah? Kamu tidak salah lihat kan?" Anika tak kalah antusiasnya.
Rendra mengangguk berulang kali kemudian menunjukkan iklan yang dimaksudnya kepada Anika, "Lihatlah, tempatnya juga tidak terlalu jauh dari kota ini."
"Rendra, kita harus datang kesana secepatnya!"
"Tenang dulu, kamu baru saja selesai menjalani kemoterapi, kita perlu konsultasi dulu ke dokter apakah ini benar-benar aman untukmu."
"Maka dari itu cepatlah temui Elena, ini kabar bagus aku tidak mau menunda lebih lama lagi." Anika bertingkah tidak sabar.
"Iya... Iya..." Jawab Rendra yang kemudian pergi untuk menemui Elena di ruangannya.
***
Anika masih tak percaya saat mendengar dokter memberitahu tentang kesembuhannya.
"Selamat Ika, kamu berhasil melewati semuanya! Dan hari ini kamu sudah dipastikan sembuh." Lena berkata dengan menyalami tangan Anika yang tengah duduk di atas ranjang pasien rumah sakit.
__ADS_1
Anika hanya melongo tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rendra yang berdiri di sisi ranjang hanya tersenyum bahagia.
"Benarkah itu Lena?" Akhirnya Rendra yang memberikan respon.
Lena mengangguk pelan sambil tersenyum, "Untuk apa aku berbohong soal kesehatan pasien ku?"
"Kamu dengar itu Ika? Kita berhasil!" Rendra tak mampu menahan tangis bahagianya, dia segera memeluk istrinya saat itu juga.
Begitu juga dengan Anika, dia menangis bahagia dalam pelukan Rendra. Dia masih belum percaya, penyakit yang begitu ganas bisa dilaluinya meski dengan perjuangan yang tidak mudah.
Lena yang melihat pemandangan itu, dia juga ikut bahagia, matanya terlihat berkaca-kaca melihat sahabatnya telah melalui masa-masa sulit.
Anika melepaskan pelukannya kemudian melihat ke arah Lena, dia memberi isyarat agar sahabatnya itu mendekat, Lalu Anika menggenggam tangan Lena sebelum mengucapkan, "Terima kasih telah menjadi pahlawan di hidupku."
Elena menggeleng berulang kali, "Bukan aku, tapi pahlawan yang sebenarnya adalah dirimu sendiri."
Anika tersenyum mendengar jawaban Elena lalu dia beralih menatap Rendra kemudian berkata, "Terima kasih juga untukmu sayang. Yang sudah sabar menemaniku selama ini, meski kamu tau kondisiku tapi kamu tidak pernah meninggalkan ku, walaupun kamu sangat bisa melakukannya."
__ADS_1
"Apapun yang terjadi, walaupun kamu hanya memiliki satu kaki ataupun satu tangan sekalipun, aku tidak akan pernah meninggalkanmu aku akan tetap bersamamu dan aku akan selalu mencintaimu, istriku." Jawab Rendra, kemudian dia mengecup kening Anika dengan begitu lembut.