
"Jadi ini rumah lo?" Tanya Kaisar kepada Fanya, saat keduanya sudah sampai di rumah cewek tersebut. Kaisar mengamati rumah itu dari depan, karena dia memang tidak memasuki rumah itu.
Fanya mengangguk pelan sambil tersenyum dia menjawab, "Iya ini rumah gue, yah walaupun sangat sederhana tapi gue nyaman tinggal di sini." Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa dia memang benar bahagia tinggal di rumah sederhana itu.
"Ada siapa aja di rumah?" Tanya Kaisar lagi.
"Gue cuma tinggal berdua sama ayah gue."
Kaisar mengerutkan dahi merasa heran lalu bertanya lagi, "Terus nyokap lo?"
"Nyokap gue udah nggak ada." Jawab Fanya, Kaisar bisa melihat cewek itu tidak begitu senang jika menyebut soal ibunya.
Kaisar tertegun, ada sedikit rasa tidak enak setelah Fanya menjawab pertanyaan soal ibunya, "Sorry gue udah kelewatan."
Fanya melirik Kaisar kemudian menghela nafas pendek, "Nggak papa kok, wajar elo kan nggak tau." Fanya tersenyum kemudian berkata lagi, "Btw makasih ya buat semuanya."
Kaisar membalas senyuman Fanya, "Gue yang harusnya berterima kasih, emm kalo gitu, gue pulang sekarang ya."
Fanya mengangguk pelan, "Hati-hati."
Kaisar tersenyum kemudian mengacak-acak rambut Fanya sambil menjawab, "Iya bawel."
Fanya mengalihkan pandangannya, menyembunyikan rasa malunya, "Ih apaan si, udah sana pulang!" Usirnya dengan mendorong pelan tubuh Kaisar. Dan Kaisar pun benar-benar pulang saat itu juga.
***
"Mama!!" Teriak Kaisar, dia terkejut saat sudah sampai di rumahnya, dia melihat Anika tak sadarkan diri di lantai ruang tamu.
"Ma, Mama bangun Ma." Kaisar panik, dia menggoyang-goyangkan tubuh Anika agar wanita paruh baya itu sadarkan diri. Namun nihil, Anika masih saja pingsan.
Kaisar melihat ke sekeliling berharap menemukan Rendra, namun sayangnya tidak ada orang lain di sana, "Brengsek!" Kaisar mengumpat keras.
Tanpa pikir panjang lagi, Kaisar menggendong Anika, berniat membawanya ke rumah sakit.
__ADS_1
Dalam perjalanan Kaisar menghubungi seseorang melalui ponselnya, "Halo tante." Ucap Kaisar saat panggilan sudah tersambung.
"Halo Kai, ada apa kok nelfon tengah malam gini, apa ada sesuatu?" Jawab orang dari seberang telepon, yang tidak lain adalah Elena.
"Tante, Mama pingsan! Sekarang aku sedang membawanya ke rumah sakit." Jawabnya dengan begitu panik, dia sesekali melirik Anika yang dia baringkan di kursi belakang karena dia sendiri sedang menyetir.
"Oke kamu tenang, jangan ngebut. Kita ketemu di rumah sakit ya." Elena mencoba menenangkan Kaisar, dia memang sedang tidak berada di rumah sakit saat itu.
"Iya tante." Jawab Kaisar dan panggilan pun terputus. Jika terjadi sesuatu Kaisar memang selalu menghubungi Elena, karena Elena adalah orang yang paling dekat dengan keluarganya. Sementara kakek neneknya berada jauh di luar kota, sehingga cukup sulit untuk dimintai tolong jika terjadi keadaan genting seperti ini.
Sesampainya di rumah sakit, Anika segera dibawa ke ruang IGD dan langsung ditangani oleh dokter.
"Kaisar!" Panggil seseorang dan Kaisar pun menoleh ke arah sumber suara lalu dia menemukan Elena sedang berlari ke arahnya.
"Tante." Kaisar langsung memeluk Elena saat keduanya sudah dekat.
"Nggak papa, semuanya akan baik-baik saja." Elena mengusap-usap punggung Kaisar. Elena sudah menganggap Kaisar seperti putranya sendiri.
Tak lama dokter yang menangani Anika pun keluar, "Dimana keluarga pasien?"
"Mama nggak kenapa-kenapa kan dok?" Tanya Kaisar.
Sebelum dokter itu menjawab, Elena sudah lebih dulu berkata, "Kai tunggu sebentar di sini, biar tante bicara berdua sama dokternya ya."
"Tapi tante, Mama..."
"Mama mu nggak papa." Jawab Elena dengan tersenyum kemudian dia mengajak dokter tersebut untuk biacara berdua.
Beberapa saat kemudian, Elena dan dokter itu kembali menghampiri Kaisar.
"Pasien hanya mengalami stres dan kelelahan, tapi dia tetap harus dirawat secara intensif. Nanti setelah beristirahat dengan cukup, maka pasien akan segera membaik." Dokter itu tiba-tiba menjelaskan saat sudah sampai di tempat Kaisar.
"Ah syukurlah." Kaisar memejamkan matanya merasa lega kemudian berkata, "Terima kasih dok."
__ADS_1
"Sama-sama kalau begitu saya permisi." Jawab dokter itu kemudian pergi.
***
"Kai tidur lah, biar tante yang jagain Mama." Ucap Elena saat Anika sudah di pindahkan ke ruang rawat inap dan mereka berdua duduk bersebelahan di sofa yang ada di ruangan tersebut.
Kaisar menggeleng pelan, "Kai nggak ngantuk tante." Jawab Kaisar dengan lemas.
Elena menghela nafas pendek kemudian berkata, "Nggak usah khawatir, Mama mu akan baik-baik saja kamu tadi denger sendiri penjelasan dokter kan?"
"Iya tan." Jawab Kaisar singkat.
"Eh kok kamu masih pake seragam? Penampilan kamu juga awut-awutan lagi, ada masalah apa? Coba cerita sama tante." Elena baru tersadar akan penampilan Kaisar karena dia baru mengamati pemuda tersebut secara seksama setelah sebelumnya merasa panik karena mendengar Anika pingsan.
"Papa... Papa selingkuh." Jawab Kaisar tiba-tiba yang membuat Elena membelalakkan matanya.
"Apa?! Jadi kamu sudah tahu?!"
Kaisar menoleh ke arah Elena wajahnya menunjukkan keterkejutan, "Sudah tahu? Maksud tante, tante udah tau soal ini?"
Elena mengalihkan pandangannya merasa telah salah bicara, 'Apa ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya kepada Kaisar? Maafkan aku Ika, tapi aku harus menceritakan semuanya, aku rasa Kaisar sudah cukup besar dan dia berhak untuk mengetahui kebenarannya.' Batin Elena dia memandangi Anika yang masih terbaring tak sadarkan diri.
"Jawab Kaisar tante!" Ucap Kaisar lagi yang sudah tak sabar.
Elena menoleh ke arah Kaisar dia menatap lekat mata pemuda itu lalu mengehela nafas panjang sebelum berkata, "Baiklah karena kamu sudah terlanjur tahu soal Papa mu. Dan kamu juga sudah besar tante pikir ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya kepadamu."
Elena mulai menceritakan dan Kaisar mendengarkannya tanpa memotong ucapan Elena sedikit pun, "13 tahun yang lalu saat kamu masih berusia dua tahun..."
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...