
"Brengsek!" Rendra mengumpat keras sambil mengepalkan tangannya dengan geram setelah melihat video yang diberikan oleh Kaisar.
Rendra kemudian segera meninggalkan ruangannya dengan langkah yang terburu-buru.
"Pak, Anda mau kemana? Sebentar lagi kita ada meeting." Kata Linda sekertaris Rendra ketika melihat atasannya tersebut hendak pergi.
"Batalkan semuanya!" Titah Rendra.
Linda ingin menahan Rendra untuk pergi karena dia tidak bisa membatalkan jadwal meeting semudah itu, namun saat melihat ekspresi Rendra, Linda mengurungkan niatnya karena semua orang yang melihatnya pasti tahu bahwa Rendra dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Setelah sampai diparkiran dan memasuki mobilnya, Rendra memacu mobil tersebut dengan kecepatan penuh. Dia berniat untuk pulang ke rumahnya, rumah dia dan Rani.
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya Rendra tiba di rumahnya. Rani terlihat sedang bermain dengan Adel di teras rumah.
"Lho mas, kamu sudah pulang?" Rani bertanya ketika melihat Rendra berjalan menghampirinya.
"Papa!" Teriak Adel yang berlari ke arah Rendra lalu memeluknya, tingginya yang baru sampai seperut Rendra itu memeluk Rendra dengan begitu erat.
Rendra hendak membalas pelukan Adel, namun tangannya hanya menggantung di udara, sifatnya berubah setelah mengetahui kebenaran tentang Adel dan Rani.
"Adel udah bobok siang?" Tanya Rendra sambil melepaskan pelukan Adel.
Adel menggelengkan kepalanya sebelum menjawab, "Adel nggak ngantuk Pa."
"Tapi Adel harus tetep istirahat ya, biar cepet pulih dan bisa masuk sekolah lagi, hm?" Ucap Rendra sambil tersenyum, bagaimanapun Adel tidak patut disalahkan atas kesalahan orang tuanya. Meski sulit percaya dan tak terima, setidaknya Rendra masih bisa mengontrol emosinya terhadap Adel.
__ADS_1
"Ya sudah gih, sana bobok siang dulu! Baru nanti main lagi." Lanjut Rendra yang kemudian segera dituruti oleh Adel.
"Apa ada yang ketinggalan sampai kamu pulang lagi?" Tanya Rani kepada Rendra ketika Adel sudah pergi ke kamarnya.
Rendra tidak menjawab, dia hanya menatap mata Rani dengan tatapan dingin sebelum pergi ke kamarnya. Rani yang tak biasa diperlakukan seperti itu ikut menyusul di belakang Rendra.
"Dimana hasil pemeriksaan Adel?" Rendra bertanya saat sudah sampai di dalam kamarnya dan langsung membuka lemari baju.
Rani membelalakkan matanya, bagaimana Rendra bisa tiba-tiba bertanya tentang hasil pemeriksaan Adel. Di sana ada keterangan mengenai golongan darah Adel, jika Rendra sampai tahu maka berakhirlah semuanya.
"Pem-pemeriksaan a-apa maksudmu? Aku tidak mendapatkan hasil pemeriksaan apapun." Rani menjawab dengan terbata-bata.
"Jangan bohong!" Rendra berteriak lantang, lalu dia mulai mencarinya sendiri sampai harus mengacak-acak seisi lemari baju.
"Mas apa yang kamu lakukan?" Rani bertanya dengan panik, dia berusaha menghentikan perbuatan Rendra namun yang dilakukannya hanyalah sia-sia.
Rani bergerak cepat untuk mengambil buku itu, namun sayangnya dia kalah cepat dari Rendra yang sudah lebih dulu meraih buku itu.
"Aku ingin tahu, kenapa kamu terlihat panik saat melihat buku ini." Ucap Rendra sambil menunjukkan buku yang kini ada ditangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang hasil pemeriksaan Adel.
"Jangan!" Rani berteriak histeris saat Rendra mulai melihat foto yang terselip diantara halaman buku tersebut.
Nafas Rendra begitu memburu ketika melihat foto itu, "Bagaimana kamu bisa mempunyai foto ini?" Rendra bertanya dengan nada dingin.
"A-aku... Aku..." Rani sulit menjawab.
__ADS_1
"Jawab!" Rendra membentak Rani saat itu juga namun Rani hanya diam dan mulai meneteskan air mata.
"Mas, ku mohon maafkan aku, aku tidak bersalah tolong percaya padaku." Akhirnya itu yang bisa diucapkan Rani sambil bersimpuh di kaki Rendra.
"Mendengar jawabanmu aku jadi paham, kamu tidak sebaik yang aku pikirkan, dan kamulah dalang dari kehancuran rumah tanggaku!" Rendra berkata dengan pelan, dari nadanya terdengar dia sangat kecewa kepada Rani.
"Kenapa? Kenapa kamu melakukan semua ini Hah?! Aku tulus mencintai kamu dan menyayangi Adel tanpa membedakannya dengan Kaisar!" Lanjut Rendra.
"Aku akan segera mengurus perceraian kita." Kata Rendra kemudian langsung pergi meninggalkan Rani.
"Tidak! Jangan mas, aku mohon jangan ceraikan aku!" Rani berteriak histeris namun Rendra sudah tak lagi memperdulikannya.
***
Rendra masih terdiam di dalam mobilnya yang dia parkiran disebuah parkiran rumah sakit. Dia terlihat tengah membaca sebuah buku milik Rani yang ditemukannya tadi. Buku tersebut berisi tentang catatan yang dibuat oleh Rani sendiri mengenai tindakan-tindakan jahat yang dilakukannya terhadap Anika.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Umpat Rendra setelah membaca semua catatan milik Rani.
Rendra melempar buku tersebut ke jok belakang, "Aku tidak pernah menyangka, wanita yang selama ini aku anggap sebagai wanita terbaik justru dialah pengkhianat yang sesungguhnya. Sedangkan Anika, wanita yang ku anggap sebagai wanita murahan justru orang yang tak pernah mengkhianati ku." Rendra semakin menyesalinya perbuatannya selama ini.
"Maafkan aku Ika, seharusnya dari dulu aku percaya semua perkataan mu." Ucap Rendra sambil meneteskan air mata.
"Kenapa aku bisa sebodoh itu dengan mudahnya mempercayai hal tanpa mencari tahu lebih jauh."
"Ika, aku harap kamu mau memaafkan ku dan kita bisa membangun semuanya dari awal lagi. Aku, kamu dan Kaisar bisa menjadi keluarga yang bahagia seperti dulu." Kata Rendra sambil tersenyum penuh percaya diri, dia berfikir Anika pasti mau memaafkan dia karena Rendra tahu, Anika masih sangat mencintainya.
__ADS_1
Dimaafkan atau tidak, hanya Anika yang tahu.