
"Cari tahu tentang orang ini!" Rendra menunjukkan sebuah foto kepada tiga orang laki-laki yang sedang menghadap kepadanya.
"Siapa ini pak?" Tanya salah satu dari ketiganya sambil mengamati foto yang diberikan Rendra sebelumnya.
Rendra menatap orang yang bertanya itu dengan tatapan tajam sebelum berkata, "Kalau saya tahu, untuk apa saya menyuruh kalian untuk mencari tahu, bodoh!"
Ketiga orang itu tidak berani menjawab Rendra, mereka hanya menundukkan kepalanya.
"Cepat pergi, dan temukan orang itu!" Rendra berkata dengan lantang, lalu ketiga orang suruhannya itu segera pergi melaksanakan perintah Rendra.
***
"Pak, kami sudah mencari orang itu ke seluruh tempat, tapi tidak ada satupun petunjuk yang bisa didapatkan." Orang suruhan Rendra berkata melalui panggilan telepon.
"Bodoh! Apa mencari satu orang saja kalian tidak bisa?! Dasar tidak berguna!" Jawab Rendra, dia mengumpati orang yang menelponnya itu.
"Lalu apa yang harus kami lakukan selanjutnya pak?" Tanya orang itu lagi.
"Apalagi?! Cari terus sampai dapat! Kalau perlu pukuli dia sampai terluka parah, tapi jangan biarkan dia mati!" Jawab Rendra, dia seolah sudah kehilangan rasa kemanusiaannya dan ingin sekali menghabisi orang yang tidur bersama Anika, menggunakan tangannya sendiri.
Malam harinya Rendra yang masih berada di ruangan kantornya harus menerima kenyataan, bahwa ketiga orang suruhannya itu tidak berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Maaf pak, kami tidak berhasil melacak keberadaan orang itu, dia sepertinya telah memalsukan identitasnya." Salah satu orang suruhan Rendra berkata dengan rasa takut.
"Dasar tidak berguna! Percuma saja saya membayar kalian mahal!" Rendra berteriak lantang kepada ketiga orang itu, yang kini hanya diam mematung mendengarkan semua makian Rendra yang ditujukan kepada ketiganya.
Rendra mengendurkan dasinya kemudian melirik ke arah ketiganya sebelum berkata, "Apa lagi yang kalian tunggu?! Cepat pergi dari sini!" Ucap Rendra yang kemudian ketiganya langsung pergi tanpa punya kesempatan untuk menjelaskan.
***
Satu jam sebelum kedatangan orang suruhan Rendra, ada dua orang laki-laki yang juga sedang melaksanakan tugas yang sama, yaitu mencari tahu tentang pria yang ada dalam foto bersama Anika.
__ADS_1
Bedanya, kedua orang tersebut berhasil menemukan pria itu, yang saat itu tengah berada di bandara.
"Hei lihat! Bukankah dia adalah orang yang sama dengan orang yang ada di dalam foto ini?" Salah satu dari keduanya berkata kepada rekannya sambil menunjuk ke satu arah.
Rekannya itu mengamati foto dan juga orang yang dilihatnya secara bergantian sebelum berkata, "Kamu benar, dia adalah orangnya. Ayo cepat kita bawa dia untuk menemui Bu Lena."
Keduanya pun berlari untuk menghampiri orang yang dimaksud. Pria itu merasa panik saat melihat ada dua laki-laki kekar sedang berlari ke arahnya, dia pun berusaha untuk melarikan diri sebelum kedua orang itu berhasil menangkapnya.
"Woy! Jangan lari!" Salah satu dari dua laki-laki kekar berteriak lantang, yang menarik perhatian semua orang yang ada disekitarnya.
Rekan dari orang itu berhasil meraih kerah baju si pria yang berusaha melarikan diri itu, memaksanya untuk menghentikan tindakannya.
"Mau kemana kamu hah?! Kamu sudah tidak bisa lari kemana-mana lagi!" Orang suruhan Lena itu berkata dengan nada sinis.
"A-ampun bang, saya nggak salah!" Seolah tahu apa maksud dari kedua orang yang mengejarnya, si pria tersebut berkata tanpa ditanya terlebih dahulu.
Laki-laki yang memegang kerah baju pria tersebut pun berkata dengan garang, "Kalau nggak salah, untuk apa kamu lari seperti maling hah?!"
"Jawab!" Orang yang memegang kerah baju itu sudah siap melayangkan tinjunya kalau pria tersebut tidak juga mau menjawab pertanyaannya.
Dengan ketakutan akhirnya pria itu terpaksa jujur, "A-ampun bang, akan saya jawab tapi tolong jangan pukuli saya."
"Cepat jawab brengsek!"
"Sa-saya di suruh orang untuk menjebak Anika bang."
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Yang menyuruh saya..." Pria itu melihat ke satu arah sebelum berteriak lantang, "A-ada polisi!"
Kedua orang itu ikut menoleh ke arah yang dilihat pria tersebut, namun siapa sangka keduanya telah dibodohi dan orang tersebut berhasil melarikan diri setelah ada kesempatan.
__ADS_1
Menyadari tidak ada polisi di sana keduanya segera menoleh ke arah si pria yang kini telah berlari menjauh.
"Hei jangan kabur! Cepat kejar dia!" Kedua orang tersebut berlari mengejar pria itu, namun sayang si pria sudah memasuki area check in yang dilarang dimasuki oleh orang lain yang bukan penumpang pesawat.
Keduanya berdecak kesal, "Sial! Kita tidak bisa mengejarnya ada penjaga disana." Kata salah satu pria itu.
"Kita tanya saja ke bagian ticketing." Salah satu menimpali dan segera disetujui oleh rekannya.
"Maaf apa kami boleh mengetahui orang ini pergi ke tujuan mana?" Tanya salah satu dari keduanya saat sudah tiba dibagian ticketing sambil menunjukkan identitas pria itu.
"Maaf pak, tapi kami tidak bisa memberikan informasi kepada siapapun." Jawab petugas tiket.
Laki-laki yang menanyai si petugas ingin marah karena tidak sabar, namun rekannya segera menepuk pundaknya sambil memberikan kode agar tidak bertindak gegabah.
"Kami keluarganya, dia orang gila kami hanya khawatir dia pergi seorang diri tanpa memberi tahu yang lain." Ucap laki-laki yang menepuk pundak rekannya itu.
Petugas tiket akhirnya setuju utuk mengecek tujuan mana yang diambil pria itu, namun setelah dicek tidak ada identitas yang dimaksud.
"Maaf pak, kami tidak menemukan identitas yang Anda berikan, mungkin keluarga yang bapak maksud tidak mendatangi bandara ini." Jelas petugas tiket itu.
"Sial! Dia memalsukan identitasnya!" Keduanya mengumpat lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih kepada petugas bandara.
***
"Maaf Bu, hanya itu yang bisa kami dapatkan." Dua orang laki-laki menunduk di depan seorang wanita.
"Hemmm baiklah, kalian boleh pergi." Ucap wanita tersebut, yang kemudian dua orang laki-laki itu langsung meninggalkan ruangan.
"Aku sudah menduganya, Anika pasti di jebak. Aku sangat mengenalnya dia bukan wanita yang seperti itu." Elena berbicara kepada dirinya sendiri.
"Tapi apa alasannya Anika sampai dijebak? Dari foto yang ku lihat, aku sama sekali tidak pernah melihat pria itu apalagi mengenalnya. Apakah ada orang lain di balik semua ini?"
__ADS_1
"Ah aku harus menemui Anika dan memberi tahu semuanya." Selepas berkata demikian, Elena pergi ke rumah Anika untuk menemuinya.