
Kaisar berjalan dengan langkah gamang menyusuri setiap lorong rumah sakit. Meratapi setiap kejadian yang terjadi hari ini, ada perasaan sedih bercampur benci menyelinap di hatinya. Dia berpikir kenapa semuanya harus terjadi padanya, kenapa harus keluarganya kenapa bukan orang lain saja? Selain itu Kaisar merasa miris terhadap nasib Papanya yang sungguh konyol baginya, harus hidup bersama wanita penipu tanpa pernah Rendra tahu kebenarannya. Istri yang dia banggakan ternyata tak lebih rendah dari seorang ******, dan anak yang Rendra sayangi melebihi sayangnya pada Kaisar bahkan tak mempunyai hubungan darah sedikit pun dengannya, sungguh tragis.
Setelah tiba di depan ruangan Anika, Kaisar berhenti sejenak di depan pintu lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya sebelum memasuki ruangan.
Dengan hati-hati Kaisar membuka pintu agar Anika tidak terbangun kemudian menghampiri Anika yang masih terlelap tersebut.
Kaisar duduk di kursi samping tempat Anika sebelum berkata, "Ma, Kaisar menemukan satu petunjuk tentang siapa wanita yang menjadi istri lain Papa." Kaisar berbicara kepada Anika sambil menggenggam erat tangannya meski wanita tersebut masih tidur.
"Mama tahu? Kaisar sudah mendapatkan satu bukti tapi Kai belum ingin menunjukannya pada Papa, Kai masih ingin mencari petunjuk lain dan akan memberikannya pada Papa di saat yang tepat agar terlihat keren." Katanya lagi dengan diiringi tawa kecil.
Beberapa saat kemudian terlihat ada dua dokter yang memasuki ruangan tersebut, salah satunya adalah Elena.
"Siang Kai, Mamamu sedang tidur?" Sapa Elena sambil berjalan menghampiri Kaisar diikuti dokter lain di belakangnya.
Kaisar berdiri dari duduknya kemudian membalas sapaan Elena, "Siang tan, iya Mama lagi istirahat." Jawabnya sambil tersenyum.
"Oh iya dokter, ini Kaisar dan Kaisar ini dokter Revan yang akan menangani Mama mu." Elena memperkenalkan keduanya sambil menoleh ke arah Kaisar dan dokter Revan secara bergantian.
__ADS_1
"Halo dok, saya Kaisar." Kaisar mengulurkan tangannya lebih dulu sebagai sikap hormat.
Dokter Revan menyambut uluran tangan Kaisar sambil tersenyum, "Halo, saya dokter Revan."
Dokter Revan ini sebetulnya seumuran dengan Elena dan Anika, namun karena parasnya yang tampan dan memiliki postur tubuh yang hampir sempurna dia jadi terlihat lebih muda, ditambah dengan gaya pakaiannya yang modis menambah kesan awet muda.
"Kaisar, dokter Revan ini adalah dokter yang akan menangani Mama mu dia sudah terkenal dan ahli dalam menangani penyakit kank-..." Elena tidak melanjutkan ucapannya sendiri karena takut Kaisar belum mengetahui tentang penyakit Anika.
Kaisar yang melihat itu justru tersenyum canggung sebelum berkata, "Kai udah tahu dari Mama kok tan, kalo Mama punya penyakit kanker."
Elena terlihat lega mendengar jawaban Kaisar, "Syukurlah, sekarang akan menjadi lebih mudah."
Kaisar mengangguk pelan, "Baik dok." Jawabnya singkat.
Revan melihat sekeliling ruangan sebelum kembali menatap Kaisar, "Apa cuma kamu saja yang menjaga pasien? Dimana Papa mu?" Tanyanya kemudian.
Kaisar tertegun mendengar pertanyaan dari dokter Revan, sebelum dia menjawab, Elena sudah lebih dulu berbicara.
__ADS_1
"Ah dia sudah tidak ada." Ucap Elena.
Jawaban Elena itu mempunyai makna ambigu, tidak ada maksudnya sudah meninggal atau hal lainnya sehingga menimbulkan kebingungan dari dokter Revan. Tapi dia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh dan mengalihkan pembicaraan.
"Kamu masih sekolah?" Tanya dokter Revan kepada Kaisar.
"Masih dok, saya kelas X SMA." Jawab Kaisar sambil tersenyum canggung.
Revan mengangguk pelan kemudian bertanya lagi, "Kalau kamu sekolah, lalu siapa yang akan menemani Mama mu?"
"Hais, kamu ini bertanya sudah seperti interogasi saja!" Elena tiba-tiba menimpali. Dia bisa bersikap santai di hadapan Revan karena keduanya memang sudah lama mengenal dan berteman karena bekerja di rumah sakit yang sama.
Revan batuk pelan mendengar perkataan Elena sebelum berkata, "Ah baiklah, sampai jumpa besok." Kata Revan kepada Kaisar sambil tersenyum canggung.
"Kalau begitu kami pergi dulu Kai, selain menjaga Mama mu, kamu juga jangan sampai lupa menjaga kesehatanmu sendiri." Ucap Elena dengan begitu lembut.
"Pasti tante, terima kasih." Jawab Kaisar singkat, kemudian dua dokter tersebut meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
'Semoga dengan adanya dokter Revan, penyakit Mama bisa disembuhkan, dan kami bisa hidup normal seperti sebelumnya.' Harapan Kaisar dalam hati.