
"Tidak ada yang bisa Papa lakukan Kai, karena memang hanya ini pilihan yang terbaik." Akhirnya hanya itu yang bisa dijelaskan oleh Rendra kepada Kai.
Kaisar menatap Rendra dengan mata yang basah oleh air mata. "Nggak Pa, ini bukan pilihan yang terbaik! Haruskah bercerai Pa? Kaisar mohon cari solusi lain Pa." Suara Kaisar terputus-putus karena menangis sesenggukan.
"Tidak ada jalan lain." Rendra tertunduk lesu tidak berani menatap putranya itu.
Mendengar itu Kaisar menjambak rambutnya sendiri merasa frustasi. Bukan ini yang diinginkan olehnya, keluarga yang dianggapnya sebagai keluarga yang paling sempurna kenapa tiba-tiba ada kata perceraian di dalamnya. Sungguh ini sangat menghancurkan perasaan Kaisar, dia tidak pernah membayangkan atau bahkan berpikir keluarganya akan hancur seperti ini. Dia terduduk lemas di lantai dan bersandar kepada dinding tak peduli lagi matanya yang sudah mulai sembab akibat menangis.
"Nak, ayo kita pergi." Anika masuk ke dalam kamar menyusul Kaisar.
Kaisar seolah tidak mendengar apapun, dia tidak menjawab maupun tidak menoleh ke arah Anika.
Pemandangan itu mengiris hati Anika dan juga Rendra, Anika tak mampu membendung lagi air matanya dia berjalan pelan mendekati Kaisar yang terduduk di lantai.
"Bangun Kai, kita harus segera pergi dari sini." Anika berusaha membujuk Kaisar dia bahkan sampai menarik tangan Kaisar agar bangun dari duduknya.
Kaisar menoleh, "Nggak Ma, Kai nggak mau pergi dari sini!"
"Ayo Kai, ikut sama Mama ini bukan rumah kita lagi." Anika sekali lagi menarik tangan Kaisar.
"Nggak Ma, pokoknya Kai nggak mau pergi!" Kaisar berusaha berontak dia bahkan sampai menangis sejadi-jadinya seperti bocah yang minta dibelikan mainan oleh Mamanya.
Tapi apa daya, tenaga Anika tidak cukup untuk membuat Kaisar bangkit, dan juga tidak ada pergerakan sedikit pun dari Kaisar.
__ADS_1
"Bangun Kai!" Sekali lagi Anika berusaha membujuk Kaisar, dan di ruangan yang sama Rendra juga meneteskan air matanya melihat kondisi Kaisar yang tampak kacau itu.
Kaisar akhirnya bangun dari duduk sebelum berkata, "Apapun masalah kalian, Kai nggak mau sampai kalian berpisah apapun yang terjadi!" Kai berteriak cukup keras sambil menoleh ke arah Anika dan Rendra secara bergantian. Selepas berkata demikian Kaisar berjalan cepat ke luar kamar dan membanting pintu kamar cukup keras.
"Kaisar!" Teriak Anika memanggil Kaisar yang sudah hilang dibalik pintu.
Kepala Anika tiba-tiba merasa sangat pusing pandangannya seolah berputar sebelum pandangannya menjadi gelap dan dia jatuh kehilangan kesadaran.
***
"Ma, bangun Ma!" Suara Kai sayup-sayup terdengar oleh Anika yang masih setengah sadar.
Anika membuka mata dan pandangan yang pertama kali ditangkapnya adalah Kaisar yang sedang duduk disisinya dengan tangan kirinya menggenggam segelas air putih. Sepertinya dia sehabis menggunakan air putih itu untuk mencipratkannya ke wajah Anika terbukti dengan wajah Anika yang terdapat sedikit cipratan air.
"Tiduran dulu aja Ma, Kai ambil air minum dulu." Kai berkata sambil tersenyum.
"Eh? Itu saja nak." Anika menunjuk gelas yang ada di tangan Kai.
Kaisar menoleh ke arah gelas tersebut kemudian menjawab, "Ini udah kotor Ma, tadi udah kemasukan tangan Kaisar hehe." Kaisar kemudian pergi mengambil air minum.
"Kai, kamu nggak papa?" Tanya Anika kepada Kaisar saat Kaisar sudah datang membawa air minum yang baru.
"Emangnya Kaisar kenapa?" Jawab Kaisar sambil membantu Anika untuk minum.
__ADS_1
"Kenapa? Kok malah nanya kan tadi kamu nangis-nangis." Jelas Anika setelah minum.
"Hahahaha siapa juga yang nangis-nangis, Mama tuh yang ngigau gak jelas tadi. Teriak-teriak manggil-manggil Kaisar." Anak itu menjawab dengan terkekeh.
"Ngigau?" Anika semakin heran.
"Iya ngigau, tadi waktu Kai baru pulang sekolah Kai lihat Mama lagi tidur di sofa ini terus tiba-tiba Mama teriak-teriak manggilin Kaisar, Kai jadi panik dong kirain kenapa ternyata ngigau."
'Jadi tadi itu mimpi? Syukurlah.' Batin Anika merasa lega.
Anika mengehela nafas panjang sebelum berkata, "Tadi Mama mimpi buruk, Mama mimp-.."
"Eits stop Ma! Jangan dilanjutin ceritanya." Kaisar memotong perkataan Anika, jari telunjuknya menyentuh bibir Anika agar wanita paruh baya itu berhenti berbicara.
"Kenapa?" Tanya Anika heran sambil menyingkirkan jari telunjuk Kaisar dari bibirnya.
"Orang bilang, kalau kita mimpi buruk itu gak boleh diceritain ke siapapun, atau mimpi itu akan menjadi kenyataan." Jawab Kaisar yang membuat Kaisar tersenyum.
"Jadi mimpi seburuk apapun itu, jangan dipikirin, toh itu cuma mimpi." Lanjut Kaisar lagi.
Anika tersenyum kemudia mengusap rambut Kaisar lembut, "Iya Mama juga nggak mikirin kok. Ya udah sana kamu mandi, bau tuh!"
"Hehe oke bos." Pemuda itu nyengir kuda kemudian pergi menuju kamarnya.
__ADS_1
"Mimpi ya?" Anika berbicara kepada dirinya sendiri sambil menghela nafas beberapa kali, rasanya dia baru saja mengalami tragedi yang mengerikan.