
Anika hampir saja terjatuh saat menuruni anak tangga karena rasa sakit dibagian bawah perutnya jika tidak berpegangan pada dinding.
"Aw! Kenapa lagi ini, kenapa akhir-akhir ini aku sering merasakan sakit di sekitar perut?" Anika meringis kesakitan sambil berjalan perlahan menuju lantai dasar.
"Kaisar!" Panggil Anika tapi tidak ada sahutan dari pemuda tersebut.
"Kaisar!" Panggil Anika sekali lagi, namun seperti sebelumnya tidak ada sahutan sama sekali.
Dengan menahan rasa sakit, Anika berjalan menuju ruang tv dan meraih telepon rumahnya bermaksud ingin menghubungi seseorang.
"Halo?" Sapa Anika saat telepon sudah tersambung.
"Halo Anika, tumben menelfon ada apa?" Tanya seseorang dari seberang telepon.
"Elena, bisakah kamu datang kemari? Aku merasakan sakit disekitar perut beberapa hari terakhir." Anika berbicara dengan suara pelan namun masih cukup terdengar.
"Ah baiklah, tunggulah sebentar lagi, aku harus menyelesaikan satu pasien dulu. Untuk sementara kamu minum air jahe hangat atau kompres dengan air hangat pada bagian yang sakit, agar sakitnya mereda." Jawab seseorang itu yang ternyata adalah seorang dokter teman dari Anika.
"Baiklah, terima kasih Lena. Aku akan menunggumu." Jawab Anika dan telepon pun terputus.
"Kaisar kemana anak itu, apa dia sudah tidur." Gumam Anika sambil membuat minuman jahe hangat. Dan waktu memang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Satu jam kemudian sampailah Elena di rumah Anika, "Maaf agak terlambat tadi ada masalah darurat di rumah sakit." Ucap Elena saat Anika membukakan pintu untuknya.
"Tidak papa, mari masuk." Anika mempersilahkan Elena memasuki rumahnya.
"Dimana suami dan anakmu?"
"Mereka sudah tidur, duduklah akan ku buatkan minum dulu."
Elena berdecak kesal, "Hais saat kamu sakit begini harusnya kamu memanggil suamimu, bukannya mengurus semuanya sendiri." Kemudian dia membanting tubuhnya di sofa.
Anika tertawa melihat sahabatnya itu merasa kesal, "Hahaha kita kan sudah lama mengenal, dan kamu juga tahu aku lebih suka mengurus diriku sendiri tanpa harus merepotkan orang lain meski itu keluargaku."
__ADS_1
"Terserahlah dibilangin juga percuma!" Elena memasang wajah kesal dengan melipat tangan di depan dada.
Anika geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu, mereka memang sudah bersahabat sangat lama sejak keduanya duduk di bangku SMA. Sehingga Anika sangat bersyukur persahabatan mereka masih bertahan hingga sekarang dan Anika sudah menganggap Elena sebagai saudarinya sendiri.
"Tunggu sebentar, akan ku buatkan teh untukmu." Ucap Anika lalu pergi ke arah dapur.
"Ika, apakah Rendra sampai sekarang masih belum tahu tentang kebenarannya juga?" Tanya Elena, dia menyusul Anika ke dapur dan duduk di meja makan.
Anika tersenyum dan menghampiri Elena dengan membawa dua cangkir teh hijau, "Dia tidak mau mendengarkanku sampai detik ini." Anika berkata dengan menyodorkan secangkir teh untuk Elena dan diterima oleh sahabatnya itu.
"Ika, mau sampai kapan kalian begini? Mau sampai kapan kamu terus disalahkan atas kesalahan yang tidak kamu lakukan?" Elena bertanya dengan tatapan yang sendu.
Anika menghela nafas pendek, "Aku juga tidak tau Lena, tapi yang jelas saat ini aku hanya perlu melakukan yang seharusnya."
Elena memegang tangan Anika lalu berkata, "Sudah cukup kamu berkorban sendiri Ika, sebagai sahabatmu aku tidak rela kamu terus diperlakukan kasar oleh Rendra. Lihatlah saat kamu membutuhkan dia, apa dia datang untukmu?"
"Berpisahlah dengannya dan hiduplah dengan baik bersama Kaisar." Ucap Elena lagi yang membuat Anika menatap matanya dengan tatapan yang berbeda.
"Elena, apapun yang terjadi aku harus menyelesaikan kesalahpahaman ini, aku tidak mau Rendra terus membenciku dan aku tidak mau jika Kaisar harus memilih diantara kami jika kami berpisah nantinya." Ucap Anika dengan menatap mata Elena.
Elena mengehela nafas panjang dan mengalihkan pandangan ke teh hangatnya, "Baiklah, aku hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu." Lalu dia meminum teh hangat tersebut.
"Terima kasih karena sudah mempercayaiku Lena." Anika tersenyum lembut ke arahnya dan ikut meminum teh hangatnya.
"Eh apa kamu hanya pura-pura sakit agar aku datang kemari?" Elena bertanya dengan tatapan tajam.
Anika memasang wajah kaku lalu berkata, "Sakitnya sekarang sudah agak berkurang, lagipula untuk apa membohongimu." Jawab Anika sambil memanyunkan bibirnya.
"Sebentar aku ambil tas kerjaku dulu di ruang tv lalu akan memeriksamu." Elena berkata sambil bangkit dari tempat duduknya dan pergi mengambil tas kerjanya.
"Kemarikan tanganmu!" Elena berkata saat sudah mengambil tas dan mengeluarkan peralatan dokternya.
Anika mengangkat sebelah alisnya dan menatap bingung ke arah Elena, "Mau kamu apakan tanganku?"
__ADS_1
Elena menjitak kepala Anika cukup keras lalu menjawab dengan suara yang cukup keras, "Mau aku potong lalu ku jadikan sup daging!"
"Ih dasar kanibal." Anika tertawa terbahak-bahak karena berhasil menggoda sahabatnya itu.
Elena memanyunkan bibirnya lalu meraih tangan Anika dan memeriksa tekanan darahnya, "Darahmu rendah, nanti akan ku berikan obat penambah darah." Elena berkata saat selesai memeriksa tekanan darah Anika.
Lalu Elena mengambil sampel darah Anika untuk diperiksa di laboratorium agar mengetahui dengan akurat penyakit apa yang membuat Anika merasakan sakit dibagian perutnya.
"Hasilnya akan keluar besok, saat sudah keluar aku akan menghubungimu jadi kamu tidak perlu datang ke rumah sakit." Ucap Elena sambil merapikan peralatan dokternya.
"Apa kamu akan langsung pulang?" Anika bertanya kepada Elena karena melihat wanita itu memasukkan peralatan dokternya ke tempat semula.
"Iya, besok pagi aku ada operasi jadi tidak bisa tidur terlalu larut." Jawabnya sambil tersenyum ke arah Anika.
"Bisa pulang sendiri?" Anika bertanya karena khawatir walaupun sudah cukup dewasa, tapi Elena tetaplah perempuan jadi tidak baik jika pulang sendiri.
"Apa kamu mau mengantarku ke rumah?" Jawab Elena dengan menyeringai
"Ah aku lupa kamu kan wanita tangguh hahaha." Anika menjawab dengan tawa yang dibuat-buat.
Elena geleng-geleng kepala sudah menduga jawabannya, "Baiklah aku pulang sekarang, kamu juga istirahat ini sudah larut."
Keduanya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan beriringan menuju pintu depan.
"Maaf ya merepotkan." Anika memasang wajah menyesal.
"Tenang baby, demi kamu lautan pun akan ku seberangi dan gunung akan ku daki." Jawab Elena dengan gurauan dan keduanya pun tertawa bersama.
"Masuklah, aku akan pulang sekarang."
"Hati-hati di jalan."
Elena mengangguk pelan dan memasuki mobilnya lalu melaju dengan kecepatan sedang.
__ADS_1