
Kaisar terkejut saat memasuki rumah dia melihat ada sosok laki-laki yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
"Kaisar!" Laki-laki itu segera berdiri dari duduknya ketika melihat Kaisar dan segera menghampiri pemuda tersebut.
"Darimana saja kamu nak? Kamu baik-baik saja? Kamu tidak terluka kan? Kenapa baru pulang?" Laki-laki itu terus bertanya tanpa memberi kesempatan Kaisar untuk menjawab sambil memeriksa tubuh Kaisar.
Kaisar hanya menatapnya dengan tatapan dingin.
"Apa kamu sudah makan? Lihatlah, Papa tadi membeli makanan kesukaanmu." Laki-laki itu adalah Rendra, dia berkata sambil menunjuk beberapa makanan yang dia letakkan di atas meja ruang tamu.
Kaisar hanya meliriknya sekilas lalu kembali menatap Rendra.
Rendra menepuk dahinya sebelum berkata, "Ah! Kenapa aku terus saja bertanya, kamu pasti sudah makan ya?" Ucapnya dengan tersenyum canggung.
Kaisar terus diam, dia mulai melangkah menghampiri meja dimana makanan itu berada. Melihat itu Rendra tersenyum lebar karena dia berfikir Kaisar mau memakan makanan yang dibawanya dan Rendra merasa semua akan baik-baik saja setelah ini, namun dugaannya salah.
Bukannya makan, Kaisar justru menyingkirkan semua makanan itu dari atas meja hingga jatuh berantakan di lantai, dia bahkan sampai menendang meja tersebut dengan cukup keras.
"Kaisar! Apa yang kamu lakukan!" Rendra berteriak lantang, dia tidak menduga Kaisar mampu melakukan itu.
__ADS_1
"Melakukan yang seharusnya aku lakukan." Jawab Kaisar tanpa rasa bersalah.
Rendra semakin geram mendengar jawaban Kaisar, dia bahkan mengangkat tangannya bersiap melayangkan tamparan kepada Kaisar.
"Tampar saja! Memang hanya itu kan yang Papa bisa." Kaisar berkata dengan dingin saat tangan Rendra hanya tinggal berjarak beberapa sentimeter saja dari wajahnya.
Rendra mematung, dia melihat tangannya dan menariknya kembali sebelum berkata, "Kai, kamu nggak seharusnya melakukan ini sama Papa. Papa nggak salah nak, apa yang kamu lihat, Papa bisa jelasin semuanya." Rendra berkata dengan suara yang pelan dan tidak marah seperti sebelumnya.
"Jelasin? Oke jelasin aja, apa? Apa yang mau Papa jelasin?" Kai berkata dengan sinis.
Kaisar mulai jengah karena setelah beberapa saat menunggu Rendra hanya diam, akhirnya Kaisar berkata, "Kenapa diam? Bingung mau jelasin kesalahan Papa sendiri?"
"Oh Kaisar tahu, Papa mau jelasin kalau Papa selingkuh sampai menghamili wanita lain, iya?!" Lanjut Kaisar, kali ini dengan suara yang keras.
"Bukan begitu nak, Papa bisa jelasin semuanya!" Rendra berkata sambil memegangi kedua pundak Kaisar.
Kaisar menepis dengan kasar kedua tangan Rendra yang memegangi pundaknya.
"Sekarang Papa pergi dari sini! Kai nggak butuh penjelasan apapun, dan Kai nggak butuh Papa lagi!" Kaisar berteriak lantang.
__ADS_1
"Nak, jangan seperti ini, ini bukan salah Papa." Rendra bersikeras mendekati Kaisar namun pemuda itu memberikan kode menggunakan tangannya agar Rendra tidak melangkah dan mendekatinya.
"Kalau bukan salah Papa, berarti ini salah Mama?!"
"Iya ini salah Mama mu!"
Kaisar bertepuk tangan pelan sambil menyeringai, "Wah wah wah, Papa hebat sekali. Sudah tertangkap basah, masih bisa menyalahkan orang lain."
"Cukup! Aku sudah tahu semuanya, bagaimana Papa memperlakukan Mama selama ini. Bahkan sekarang Papa juga nggak tau kan kalau Mama masuk rumah sakit?!" Lanjut Kaisar.
"Mama mu itu cuma drama! Dia selalu begitu dari dulu!" Rendra tidak mau disalahkan.
"Bukan Mama aja, tapi kalian berdua yang selalu drama di depan Kai!"
"Aku kecewa sama Papa, aku nggak pernah nyangka Papa bisa sejahat ini sama Mama. Sekarang Papa pergi dari sini, atau Papa akan menyesal!" Ucap Kaisar dengan nada dingin.
"Kai..."
"Pergi!!!" Kaisar berkata dengan keras, kemudian dengan berat hati Rendra meninggalkan pemuda tersebut.
__ADS_1