
"Kamu!" Reni terkejut saat membuka pintu depan yang dilihatnya adalah sosok seseorang yang ingin dia hindari.
"Hai, boleh aku masuk?" Orang itu tersenyum lebar sambil mengangkat tangannya menyapa Rani.
"Enggak! Pergi sana!" Usir Rani sambil berusaha menutup pintu kembali namun ditahan oleh orang itu.
Orang itu berhasil menahan pintu dan segera masuk ke dalam rumah, tenaga Rani tak cukup untuk mengusir orang tersebut.
"Jadi ini rumah mu?" Tanya orang itu sambil memperhatikan isi rumah Rani.
Orang itu manggut-manggut sebelum berkata, "Cukup nyaman."
"Darimana kamu tau alamat rumahku?" Tanya Rani dingin.
Orang itu menoleh ke arah Rani kemudian tertawa cukup keras sebelum berkata, "Hahaha ayolah Rani... Kita sudah saling mengenal cukup lama, dan kamu pun jelas tau sangat mudah bagiku untuk menemukan hal sepele seperti ini. Bahkan jika kamu pergi ke ujung dunia sekali pun, aku pasti bisa menemukanmu."
"Cepat pergi!" Rani berteriak lantang tangannya mengepalkan keras.
"Aku boleh duduk?" Lanjut orang itu lagi, dia bertanya tapi dirinya sudah duduk tanpa menunggu jawaban dari Rani.
__ADS_1
"Kamu sudah gila ya? Untuk apa datang kesini malam-malam begini hah?!" Rani rasanya ingin menjambak orang itu.
"Mungkin iya aku sudah gila." Jawab orang itu, dia merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu lalu memejamkan matanya. Tingkahnya seperti sedang di rumah sendiri.
Rani menghampiri orang tersebut wajahnya sudah memerah karena sangat kesal. "Pergi dari sini atau aku akan teriak!" Katanya yang sudah berdiri di samping orang itu.
"Teriak saja, toh kalau orang-orang datang kesini kamu yang akan diusir atau paling mentok kita akan dinikahkan." Jawab orang itu santai dengan masih memejamkan mata, dia menggunakan tangan kirinya sebagai bantal.
Rani mengigit kuku jari telunjuknya, dia berpikir apa yang dikatakan orang itu memang benar. Dan jika Rani benar berteriak, maka dia yang akan mendapatkan masalah.
"Benar kan kata ku?" Orang itu menyeringai walau masih memejamkan mata.
Rani semakin panik kala mendengar suara mobil yang memasuki pelataran rumahnya, dia berlari ke arah jendela untuk melihat siapa yang datang.
"Siapa yang datang?" Tanya orang itu sambil bangkit dari tidurnya.
"Rendra." Jawab Rani pelan dia menghampiri orang itu dan menarik tangannya agar berdiri dan membawanya pergi entah kemana.
"Hei kenapa?" Tanya orang itu heran sambil pasrah tangannya ditarik oleh Rani dan berjalan mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Rani celingukan seperti seorang maling sebelum berkata, "Ssttt diam! Jika Rendra tau kamu ada disini bisa kena masalah besar aku!"
Orang itu diam dan berhenti mengikuti Rani, dia menarik tangannya sendiri kemudian berkata, "Memangnya kenapa kalau dia tahu? Bagus dong setidaknya dia bisa tahu tentang sedikit kebenarannya."
Rani mendelikkan matanya, "Kau mau aku mati hah?!"
Orang itu hendak menjawab namun tidak jadi karena terdengar suara bel pintu.
"Astaga! Cepat masuk ke dalam kamar ini! Sebelum aku menghampirimu jangan coba-coba untuk keluar! Satu lagi, jangan bersuara!" Rani kemudian mendorong orang tersebut masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari luar.
"Hei hei apa-apaan ini!" Orang itu menggedor pintu dari dalam kamar namun Rani tak memperdulikannya dia berjalan untuk membuka pintu depan.
"Mas Rendra, kok nggak ngabarin dulu kalau mau ke sini?" Rani bertanya kepada Rendra saat dia membuka pintu depan sesekali dia melirik ke arah kamar dimana dia menyembunyikan orang lain di sana.
Rendra tersenyum kemudian masuk, "Iya maaf ya tidak sempat memberi kabar terlebih dahulu, aku ke sini hanya ingin mengambil berkas yang tertinggal kemarin berkas itu untuk rapat besok."
"Duduk saja mas, biar aku yang mengambilkan, katakan saja dimana kamu menyimpannya kemarin?" Tanya Rani.
"Itu dia aku lupa, gak papa biar aku yang cari sendiri." Jawab Rendra kemudian dia mulai berjalan.
__ADS_1
Rani semakin panik saat Rendra hendak memasuki kamar dimana dia dia menyembunyikan orang lain.
"Jangan kesana!" Rani berteriak panik yang menimbulkan kebingungan dari Rendra.