
"Apa dok? Kanker rahim?" Ucap Anika dia begitu terkejut ketika mengetahui bahwa dirinya menderita kanker rahim. Rendra yang duduk di sampingnya tak kalah menampakkan ekspresi keterkejutan yang sama.
Dokter yang duduk di hadapan keduanya pun menjelaskan, "Benar Ika, kanker yang bersarang di rahim mu sudah memasuki stadium tiga. Kita perlu mengambil tindakan cepat untuk mencegahnya agar tidak menyebar lebih luas lagi." Dokter tersebut tidak lain adalah Elena. Dia merupakan dokter kandungan yang menangani kanker yang diderita oleh Anika.
"Lakukan apa saja Lena, asal istriku bisa sembuh, soal biaya kamu tidak perlu khawatir, aku akan melakukan segalanya demi kesembuhan Ika." Ucap Rendra, dia sebenarnya merasa lemas, namun dia mencoba untuk kuat di hadapan Anika.
"Salah satu cara yang perlu dilakukan adalah mengangkat rahimnya." Kata Elena yang berhasil membuat Anika semakin lemas.
Anika segera menggelengkan kepalanya berulang kali sebelum berkata, "Tidak Lena, apapun yang terjadi aku tidak mau mengangkat rahim ku!"
Rendra berusaha menenangkan Anika, "Sabar dulu Ika, dengarkan dulu penjelasan Elena, baru kita bisa mengambil keputusan yang tepat."
Anika menoleh ke arah Rendra, matanya sudah berair, "Tidak Rendra, pasti ada cara lain untuk kesembuhan ku."
"Kenapa Ika, kamu tidak usah memikirkan soal keturunan, kita bisa mengadopsinya."
"Rendra kamu tidak mengerti, dari awal menikah dengan mu, aku selalu bermimpi mempunyai anak dari mu dan dan aku sendiri yang melahirkannya!" Anika tetap bersikeras dengan keputusannya.
"Kalau aku..." Anika menggit bibir bawahnya sebelum melanjutkan kata-katanya, "Kalau aku tidak punya rahim lagi, aku tidak bisa memberikan keturunan untuk mu dan aku akan menjadi wanita yang cacat!"
Rendra menangkup wajah Anika kemudian berkata, "Dengarkan aku Ika, saat ini yang terpenting adalah kesembuhan mu, bukan yang lain. Masalah anak, kita bisa membicarakannya lain kali."
Anika ingin mengatakan sesuatu, namun Elena lebih dulu memotongnya, "Ika, apa yang dikatakan Rendra itu benar, saat ini yang paling penting adalah kesembuhan mu, jangan terlalu egois Ika, pikirkan juga tentang Rendra."
"Kamu tidak mengerti karena kamu belum menikah Lena! Dengarkan aku baik-baik, aku pasti akan menemukan cara lain untuk kesembuhan ku tanpa harus mengangkat rahim ku!" Anika berbicara dengan suara yang cukup keras, dan selepas berkata demikian, Anika meninggalkan Rendra dan Elena berdua di ruang kerja Elena.
__ADS_1
Rendra berdiri hendak mengejar Anika, namun Elena buru-buru mencegahnya, "Biarkan dia sendiri dulu Rendra, dia akan membutuhkan waktu untuk berpikir."
Rendra mengangguk pelan kemudian kembali duduk.
"Apa Ika kemungkinan akan bisa sembuh?" Rendra bertanya setelah diam cukup lama.
"Semua bisa saja terjadi Rendra, aku sebagai dokter tidak bisa menjanjikan hal apapun. Tapi, jika ada semangat untuk sembuh dari diri pasien, kemungkinan untuk sembuh bisa saja terjadi meski itu hanya 1%."
Rendra kembali terdiam setelah mendengar penjelasan dari Lena.
"Baiklah, sekarang aku akan pergi menyusul Ika. Terima kasih Lena." Ucap Rendra sambil tersenyum tipis, dan dibalas dengan senyuman juga dari Elena.
***
Anika sedang menangis seorang diri di taman rumah sakit, saat tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
"Rendra!" Ucapnya dengan kaget sekaligus kesal.
"Jangan bikin kaget dong!" Ucapnya lagi yang hanya dibalas senyuman dari pria tampan itu.
Rendra menuntun Anika untuk duduk berdua dengannya.
"Duduklah! Ada hal penting yang ingin aku bicarakan." Kata Rendra.
Anika dengan suara keras menjawab, "Jika kamu menyuruh ku untuk mengangkat rahim ku, maka pergi saja karena hal itu tidak akan pernah terjadi!" Anika memalingkan wajah, nafasnya begitu memburu.
__ADS_1
Rendra menyentil hidung Anika sebelum berkata, "Kebiasaan! Kalau ada orang lagi ngomong itu dengerin dulu jangan langsung asal potong aja!"
"Terus apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Anika sambil duduk, kali ini suaranya sudah terdengar biasa saja.
"Kita tidak akan melakukan pengangkatan rahim." Ucap Rendra serius.
Anika menatap lekat mata Rendra kemudian berkata, "Benarkah? Kamu serius kan dengan ucapan mu itu?"
Rendra mengangguk pelan, "Iya kita akan mencari cara lain untuk pengobatan mu. Tapi ada satu syarat yang harus kamu lakukan."
"Apa itu?" Tanya Anika.
"Jika sudah tidak ada cara lain, dan pilihan terakhir adalah mengangkat rahim mu. Maka kamu harus setuju melakukan itu."
"Tapi Rendra..."
"Ika, tolong kali ini dengarkan aku. Apa kamu sudah tidak ingin hidup bersamaku lagi? Karena jika kamu tiada, aku juga akan tiada!"
Anika menutup mulut Rendra dengan cepat menggunakan tangannya, kemudian dia menggeleng berulang kali, "Jangan bicara seperti itu! Aku tidak bisa meninggalkanmu apalagi ditinggalkan oleh mu!"
Rendra meraih tangan Anika yang masih menutup mulutnya kemudian dia pegang dengan erat, "Maka berjanjilah, kita akan hidup dan bahagia bersama dalam waktu yang sangat lama."
"Iya aku berjanji."
"Jadi kamu setuju?" Tanya Rendra kemudian.
__ADS_1
Meski berat bagi Anika, dia akhirnya menyetujui persyaratan yang diberikan Rendra.
"Maafkan aku, yang telah egois." Kata Anika lalu berhambur memeluk Rendra sambil menangis terisak-isak.