
Di dalam mobil hanya terdengar suara nafas yang beberapa kali dihembuskan dengan kasar. Tiga orang duduk diam tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
"Kai mau beli minum dulu karena tadi nggak sempet." Kata Kai yang langsung membuka pintu mobil dan keluar begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Anika dan Revan.
Anika dan Revan sama-sama melihat ke arah Kaisar sekilas sebelum kembali menatap ke arah depan.
"Apa maksudmu tadi bicara seperti itu?" Akhirnya Anika mulai membuka suara setelah diam cukup lama.
"Mau membantu boleh tapi tolong jangan bicara seperti it-..."
"Menikahlah denganku, Ika!" Ucap Revan begitu tiba-tiba sebelum Anika menyelesaikan perkataannya.
Anika diam mematung sambil menatap mata Revan begitu lama.
"Revan, hanya ada kita berdua disini, kamu tidak perlu bersandiwara seperti itu." Jawab Anika sambil mengalihkan pandangannya.
"Aku serius! Menikahlah denganku!" Kata Revan lagi kali ini, dia berbicara lebih tegas daripada sebelumnya untuk membuktikan kepada Anika bahwa dia benar-benar serius dengan ucapannya.
Anika membelalakkan matanya dan menoleh ke arah Revan sebelum berkata, "K-kamu s-seirus?"
Revan mengangguk mantap lalu meraih kedua tangan Anika.
"Anika, maukah kamu menikah denganku, menjadi istriku, dan hidup bahagia bersamaku? Aku mungkin bukan laki-laki yang baik bagimu karena bagiku kamu adalah wanita luar biasa sehingga laki-laki manapun tidak pantas bersamamu. Tapi, maukah kamu memberiku kesempatan untuk bisa membahagiakanmu sebagai istriku?" Tidak ada keraguan yang terpancar dari mata Revan, tatapannya yang teduh berhasil mencampur adukkan perasaan Anika saat ini.
__ADS_1
"Izinkan aku menjaga dirimu dan juga Kaisar seperti jantungku sendiri." Lanjut Revan lagi.
Anika menundukkan pandangannya sebelum menjawab, "Tapi... Kita baru bertemu beberapa Minggu dan kamu jelas tahu keadaan diriku seperti apa, aku sudah bukan wanita yang sempurna. Kamu laki-laki baik kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku, Revan. Lalu kenapa kamu tetap memilihku?"
"Aku tidak perduli, aku tidak perduli semua itu. Pertemuan kita yang singkat atau apapun keadaanmu, tidak menutupi bahwa kamu adalah wanita yang hebat dan luar biasa bagiku. Justru hanya laki-laki bodoh yang telah menyia-nyiakan dirimu." Revan terus berusaha meyakinkan Anika.
"Tapi... Kenapa aku Revan kenapa aku?"
"Karena aku mencintaimu." Jawab Revan tegas.
"Tidak hanya dirimu, tapi aku juga mencintai Kaisar." Lanjutnya lagi.
"Tapi jika kita menikah, aku tidak bisa memberikan keturunan untukmu. Satu lagi, aku belum bercerai dengan Rendra."
"Jadi, maukah kamu menikah denganku?" Tanya Revan kepada Anika untuk kesekian kalinya.
"Aku..."
***
"Ma, dokter Revan kok nggak ikut masuk?" Kaisar bertanya sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa. Keduanya sudah sampai di apartemen milik Anika.
Anika duduk di sofa yang lain sebelum menjawab, "Dokter Revan ada urusan, lagipula Mama tadi nggak jadi belanja jadi acara makan-makannya kita tunda."
__ADS_1
Kaisar hanya mengangguk berulang kali menanggapi jawaban Anika.
"Kai..." Panggil Anika dengan sedikit ragu.
Kaisar menoleh sebelum menjawab, "Ya Ma? Kenapa?"
Anika terlihat berpikir sebelum mengatakan sesuatu, "Ah tidak, bukan apa-apa." Akhirnya Anika mengurungkan bicaranya.
"Ya sudah, kalau begitu Mama mau langsung mandi aja ya. Kamu kalau mau istirahat, istirahat aja dulu mandinya nanti." Lanjut Anika.
"Nggak Ma, Kai mau langsung mandi juga tapi bentar lagi Kai mau rebahan dulu. Hehe." Jawab pemuda tersebut.
Anika mengangguk pelan sebelum menjawab, "Oh ya sudah, Kai pesan makanan ya! Mama nggak masak soalnya."
"Mau makan apa Ma?"
"Bebas." Jawab Anika singkat kemudian langsung melangkah pergi ke arah kamarnya.
"Bebas? Kalo bebas suka bingung gue." Kaisar bergumam pelan sambil mulai memilih menu makanan disebuah aplikasi.
"Ini aja deh yang cepet." Katanya kemudian setelah menemukan menu yang pas.
"Oke sambil nunggu, mandi dulu." Pemuda tersebut kemudian beranjak dari sofa dan berjalan ke arah kamarnya.
__ADS_1