Keluarga Yang Tak Dirindukan

Keluarga Yang Tak Dirindukan
Kabar Buruk


__ADS_3

Saat berada dalam perjalanan pulang dari kantor Rendra, Anika mendapatkan pesan dari seseorang yang dikenalnya.


Ekspresi wajah Anika memburuk setelah membaca isi pesan tersebut, dia menjadi lemas dan menitikkan air mata. Dia menyandarkan kepalanya di kaca pintu mobil lalu memejamkan matanya berusaha menguatkan dirinya sendiri atas kenyataan pahit yang harus diterimanya.


"Ya Tuhan, apa salahku sehingga Kau memberi cobaan seberat ini untukku."


"Tolong beri aku kekuatan untuk menghadapinya." Pinta Anita dalam hati.


"Pak tolong antar saya ke Rumah Sakit Pelita saja pak." Anika berbicara kepada supir taksi.


"Baik Bu." Jawab supir taksi tersebut.


***


"Elena, apa hasil yang keluar itu sudah benar? Kamu tidak sedang mengerjaiku kan?" Anika langsung bertanya tanpa basa-basi saat bertemu dengan Elena di rumah sakit tepatnya di ruangan Elena, wajahnya terlihat begitu panik.

__ADS_1


Elena meraih tangan Anika dan berbicara dengan tertunduk menyesal, "Maaf Ika, tapi itulah hasilnya."


Anika semakin lemas setelah mengetahui kebenarannya langsung dari mulut Elena sendiri.


Tatapan Anika seketika menjadi kosong, dia berbicara tanpa memandang ke arah Elena, "Tapi Lena, aku sudah sembuh bahkan kamu sendiri yang menyembuhkan ku." Ucapnya lirih.


"Aku sendiri pun kaget dan tak percaya, kamu sudah sembuh bertahun-tahun lamanya. Tapi memang ada beberapa kasus yang sepertimu, kanker yang sebelumnya sudah hilang dan sembuh bisa kembali muncul dan bersarang lagi."


"Ika, kamu harus segera melakukan kemoterapi agar kanker yang menyerangmu bisa segera disembuhkan." Elena memberikan saran.


"Tapi setidaknya..." Elena belum menyelesaikan perkataannya sebelum didahului oleh jawaban Anika.


"Setidaknya apa? Setidaknya menunda kematianku? Begitu maksudmu?" Anika tersenyum miris sambil meneteskan air mata.


"Ika..." Elena ingin mengatakan sesuatu tapi lagi-lagi dipotong oleh Anika.

__ADS_1


"Sudahlah Lena, sebagi dokter seharusnya kamu lebih paham kondisiku, sangat kecil kemungkinan untukku sembuh. Tolong jangan menolak kenyataan dan membohongi dirimu sendiri."


"Selalu ada jalan untuk keluar dari masalah, Ika percayalah kamu pasti bisa sembuh. Aku sendiri yang akan berusaha dan mencari jalan keluarnya agar kamu bisa sembuh total." Elena berusaha membujuk Anika agar mau melakukan pengobatan.


Dulu saat Kaisar baru berusia tiga tahun, Anika divonis terkena kanker rahim. Anika menolak untuk mengangkat rahimnya karena dia yakin dia pasti akan sembuh, dan memilih melakukan berbagai pengobatan dari yang modern sampai pengobatan herbal. Dan setelah dua tahun lamanya berjuang melawan kanker yang menyerangnya, sampailah Anika dititik dimana dia dinyatakan sembuh. Tapi hari ini, entah apa yang terjadi dia harus menelan pil pahit kehidupan dimana dia harus menerima kenyataan bahwa kanker rahim yang dulu sudah dinyatakan sembuh kini telah tumbuh dan bersarang kembali di rahimnya.


"Ayolah Ika, jangan seperti ini! Ini bukan Ika yang aku kenal. Ika yang aku kenal itu orang yang sabar dan penuh semangat, bukan seseorang yang putus asa seperti ini!"


Anika tak menanggapi ucapan Elena dia hanya menangis dan diam, tatapannya pun kosong. Elena yang melihat itu merasa teriris hatinya dia pun berhambur memeluk Anika dengan erat.


"Ku mohon jangan seperti ini Ika, kamu wanita tangguh! Yakinlah kamu bisa sembuh dan hidup bahagia." Elena menangis sambil memeluk Anika.


Anika menangis dipelukan Elena lalu berkata dengan suara yang terputus-putus,"Kenapa semuanya begitu tak adil untukku Lena? Apa salahku?"


Elena menggelengkan kepalanya berulang kali, "Tidak, kamu tidak salah Ika. Jangan menyalahkan dirimu sendiri."

__ADS_1


__ADS_2