Keluarga Yang Tak Dirindukan

Keluarga Yang Tak Dirindukan
Perkenalan (part 2)


__ADS_3

Sayup-sayup Anika mendengar suara orang yang sedang mengobrol, namun saat dia membuka mata dia hanya melihat Kaisar seorang diri.


"Kai..." Panggil Anika, Kaisar pun menoleh ke arah Anika.


"Eh Mama udah bangun?" Tanya Kaisar dengan sedikit terkejut.


"Tolong ambilkan Mama minum nak! Tenggorokan Mama rasanya kering." Anika terlihat begitu lemas dan wajahnya terlihat pucat.


"Iya Ma." Jawab Kaisar yang kemudian mengambil segelas air putih yang sudah tersedia di atas meja kecil di samping tempat tidur Anika.


"Ini Ma." Ucap Kaisar lagi sambil membantu Anika untuk minum, Anika pun meminum air itu dengan posisi tidur sambil mengangkat sedikit kepalanya.


"Terima kasih nak." Kata Anika sambil tersenyum.


Kaisar lalu meletakkan gelas itu ke tempat semula saat ditanya oleh Anika, "Kai, tadi Mama kayak denger suara orang lain, apa ada yang berkunjung ke sini?"


"Enggak ada Ma, tadi cuma ada tante Elena sama dokter Revan yang ke sini." Jawab Kaisar sambil kembali duduk di kursi samping tempat duduk Anika.


"Siapa dokter Revan?" Tanya Anika bingung.


Saat Kaisar hendak menjawab, orang yang sedang mereka bicarakan, datang ke ruangan Anika.

__ADS_1


"Sudah bangun?" Kata Revan kepada Anika sambil tersenyum.


"Ini Ma, dokter Revan yang Kai maksud." Kata Kai kepada Anika.


Revan tersenyum ramah ke arah Anika sambil mengangguk pelan sebagai sikap hormat sebelum berkata,"Saya dokter Revan, mulai saat ini saya yang akan menangani Anda."


Anika membalas senyuman Revan, "Saya Anika, mohon bantuannya dok."


"Saya suntikkan obat dulu ya Bu." Kata Revan sambil menyiapkan alat suntik dan obatnya.


Setelah selesai, kemudian dengan sigap Revan menyuntikkan obat ke tangan Anika, "Tahan ya, ini akan sedikit menimbulkan rasa perih di sekitar tangan yang disuntikkan." Kata Revan.


"Aw!" Anika mengerang pelan ketika disuntikkan obat tersebut.


Anika tersenyum sambil menahan rasa perih ditangannya, "Terima kasih dok."


Revan hanya membalas dengan senyuman sebelum menoleh ke arah Kaisar dan bertanya, "Kamu sudah memberitahu ibumu tentang besok?"


"Ah belum dok, soalnya Mama baru bangun jasa saya belum sempat bicara." Jawab Kaisar dengan tersenyum canggung.


"Ada apa dengan besok?" Anika bertanya dengan menunjukkan ekspresi kebingungan.

__ADS_1


"Tidak perlu panik, besok siang kita akan memulai kemoterapi Anda. Jadi simpan energi Anda untuk besok." Jawab Revan dengan tersenyum sampai kelihatan seperti menutup mata karena matanya yang sipit.


Anika terlihat lemas setelah mendengar jawaban Revan, "Dok saya..." Sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, Kaisar lebih dulu berbicara.


"Nggak papa Ma, ada Kai di sini, Mama pasti bisa. Kaisar akan selalu menemani Mama." Kaisar mencoba menenangkan Anika, tapi Anika bukan takut karena akan menjalani kemoterapi, dia masih belum ingin melakukannya.


Tiba-tiba Anika teringat perkataan Elena saat pertama kali dia baru mengetahui dirinya mempunyai penyakit kanker.


"Ika, tolong pikirkan perkataanku. Lakukanlah pengobatan walaupun kamu tidak mau, setidaknya lakukan demi Kaisar. Kamu pasti mau kan melihat Kaisar menikah dan bahagia?" Elena berusaha mencari cara lain untuk membujuk Anika.


Seketika Anika meneteskan air matanya, sambil mengangguk berulang kali dia berkata, "Makasih sayang, makasih. Mama akan lebih berjuang mulai saat ini."


Kaisar mengangkat tangannya untuk menghapus air mata Anika sebelum berkata, "Mama jangan nangis terus dong, kan Kaisar ikut sedih."


Revan yang sejak tadi memperhatikan ikut merasakan perasaan yang pilu, dia sudah sering menangani pasien kanker, tapi entah kenapa baru kali ini dia ikut larut dalam kesedihan pasiennya.


"Apa yang dikatakan Kaisar benar Bu, Anda harus semangat dalam pengobatan kali ini. Kaisar anak yang kuat, Anda sungguh beruntung karena memilikinya." Akhirnya Revan ikut berbicara.


Anika tersenyum mendengar perkataan Revan dia pun menjawab, "Iya, aku memang ibu yang paling beruntung di dunia ini karena memiliki putra seperti Kaisar."


"Kalau begitu, saya permisi." Ucap Revan.

__ADS_1


"Baik dok, sekali lagi terima kasih." Jawab Anika dan Kaisar hampir bersamaan.


__ADS_2