
Rendra berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan perasaan campur aduk, dia merasa gugup sekaligus tidak sabar ingin menemui Anika.
"Aku tidak sabar ingin menemui dirimu, Ika." Kata Rendra sambil tersenyum.
Rendra bertanya dimana ruangan Anika ke bagian informasi rumah sakit, saat mengetahui Anika berada di ruang ICU dan dalam kondisi yang tidak baik, Rendra begitu terkejut dan terpukul.
"Anika kritis?" Ucapnya lirih.
Tanpa pikir panjang lagi Rendra segera menuju ruangan dimana Anika berada dengan berlari kecil.
"Ika!" Rendra membelalakkan matanya saat melihat Anika terbaring tak sadarkan diri dengan berbagai peralatan medis yang terpasang di tubuhnya. Rendra melihat semua itu melalui jendela kaca lalu tanpa pikir panjang lagi dia segera masuk ke dalam ruangan ICU.
"Kenapa kamu jadi seperti ini Ika?" Ucap Rendra setelah duduk di kursi samping tempat tidur Anika dan menggenggam erat tangan kiri Anika.
"Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku tentang penyakitmu? Apa kamu sebegitu bencinya padaku?"
"Maafkan aku Ika, maafkan aku." Ucap Rendra.
Rendra mulai meneteskan air mata, "Ika ku mohon bangunlah, dan hukumlah aku! Jangan diam seperti ini!" Rendra menangis mengingat perbuatannya selama ini pada Anika.
__ADS_1
"Ika, bangunlah ku mohon..." Saat mengucapkan kalimat itu, Rendra seperti merasakan jari tangan Anika yang
dipegangnya bergerak.
Rendra terkejut, sambil menghapus air matanya Rendra berkata, "Aku tidak salah bukan? Jarimu tadi bergerak kamu sudah sadar Ika?"
"Ika bangunlah! Jangan mencoba membohongiku, aku tadi merasakannya sendiri jarimu bergerak, ayo buka matamu Ika!" Ucap Rendra antusias, namun sayangnya tidak ada pergerakan sama sekali dari Anika. Wanita paruh baya itu masih setia memejamkan matanya.
"Sebentar, aku akan memanggilkan dokter." Selepas berkata demikian Rendra berlari keluar ruangan untuk memanggil dokter.
Beberapa saat kemudian Rendra kembali ke ruangan Anika bersama seorang dokter. Dokter tersebut tak lain adalah Revan, dia mulai memeriksa keadaan Anika setelah diberitahu oleh Rendra bahwa jari Anika tadi bergerak.
"Benarkah dok? Jadi keadaan Ika sudah membaik?" Jawab Rendra dengan begitu bahagia.
Revan mengangguk pelan sebelum berkata, "Benar, untuk sekarang itu yang saya tangkap tapi saya tidak bisa menjamin bahwa kondisi ini akan membaik seterusnya, karena dibeberapa kasus hal ini merupakan respon refleks dari seorang pasien. Tapi saya harap pasien bisa segera sadar dan pulih." Lanjut Revan lagi.
"Tolong bantu Ika dok, saya berharap penuh kepada Anda." Jawab Rendra.
Revan tersenyum membalas perkataan Rendra, dia kemudian tersadar bahwa dia baru bertemu dengan Rendra kali ini.
__ADS_1
Dengan sedikit ragu Revan akhirnya bertanya, "Em, maaf pak kalau boleh tahu Anda..."
Rendra paham Revan ingin bertanya apa, dia pun mengulurkan tangannya sambil menjawab, "Ah saya Rendra suami Anika." Ucapnya sambil tersenyum bangga.
Revan tertegun mendengar jawaban Rendra, dengan ragu dia membalas uluran tangan Rendra, "Oh saya Revan, dokter yang menangani ibu Anika." Ucap Revan sambil tersenyum canggung. Mengetahui Rendra adalah suami Anika, Revan tak lagi memanggil Anika sesantai sebelumnya.
'Apa mereka sudah kembali bersama?' Batin Revan bertanya-tanya.
Ada sedikit perasaan kecewa menyelinap di hati Revan kala mengetahui siapa Rendra sebenarnya. Karena Revan memang menyimpan perasaan kepada Anika, memang waktu pertemuan Revan dan Anika terbilang singkat, tapi entah kenapa Revan yang tadinya hanya sekedar kagum atas perjuangan Anika perlahan dia mulai menyayanginya dan ingin melindungi Anika serta Kaisar.
"Kalau begitu saya permisi pak." Kata Revan kemudian yang dibalas anggukan kepala oleh Rendra.
.
.
.
Halo kakak, suka dengan cerita ini? Dukung penulis dan karya ini ya dengan cara vote sebanyak-banyaknya supaya levelnya naik, karena karya ini sedang mengikuti kontes. Sebelumnya terimakasih yang sudah berkenan mendukung karya ini.
__ADS_1
Salam hangat dari penulis.