
Cinta bisa berubah menjadi benci saat seseorang dikhianati oleh orang yang dicintainya.
***
Rendra pulang ke rumah saat sudah tengah malam, penampilannya lebih kacau dari sebelumnya, dia berjalan dengan langkah sempoyongan dan tangan kirinya terlihat menggenggam sebuah botol kaca.
Anika yang melihat Rendra pulang segera berdiri dari duduknya dan menghampiri Rendra. Dia sendiri belum tidur sejak tadi karena menunggu Rendra pulang.
"Rendra, akhirnya kamu pulang." Ucap Anika.
Anika mengendus karena mencium bau yang menyengat kemudian berkata, "Kamu minum?"
Rendra tetap diam dan sesekali menegak minuman alkohol yang dibawanya.
"Berhenti Rendra!" Perintah Anika dengan
suara yang keras.
"Kenapa kamu jadi seperti ini, ini tidak baik untuk kesehatan mu, Rendra!"
Anika merasa miris melihat sisi lain dari Rendra, selama mereka menjalin hubungan, baru kali ini Anika melihat Rendra bersikap kasar dan di luar batas. Karena setahu dirinya, Rendra sama sekali tak menyukai minuman beralkohol seperti yang dilakukannya sekarang.
Rendra menatap Anika dengan tatapan yang tajam kemudian membentaknya, "Enyahlah dasar kau wanita murahan!"
Namun Anika tak peduli dengan ucapan Rendra dia justru mengambil minuman alkohol itu dari tangan Rendra sambil berkata, "Aku akan membuangnya!"
__ADS_1
Rendra dengan cepat mengambil botol itu lagi kemudian membantingnya ke lantai hingga pecah berkeping-keping.
"Kamu sudah kehilangan hak atas diriku, jadi pergi dari hadapanku mulai sekarang!" Ucap Rendra dengan suara khas orang mabuk.
"Kamu sedang mabuk, jadi bicaramu ngelantur. Sekarang lebih baik kamu tidur." Anika meraih tangan Rendra hendak memapahnya memasuki kamar, namun yang terjadi adalah Rendra justru mendorongnya hingga Anika jatuh membentur dinding yang ada di dekatnya.
"Aw!" Anika mengaduh kesakitan sambil memegangi kepalanya yang sebelumnya terbentur.
"Mulai sekarang, jangan coba-coba menyentuhku! Karena aku merasa jijik dengan semua sentuhanmu! Aku tidak sudi disentuh wanita yang sudah tidur dengan laki-laki lain!" Selepas berkata demikian, Rendra pergi ke kamarnya tanpa menolong Anika terlebih dahulu.
Anika menangis terisak-isak, selama hidupnya dia tidak pernah membayangkan hal seburuk ini akan menimpa dirinya.
"Rendra aku pasti akan membuktikannya bahwa aku tidak bersalah dan semua tuduhan itu adalah palsu!" Anika bertekad untuk mencari tahu siapa yang telah menjebaknya dan siapa yang berusaha menghancurkan rumah tangganya.
Anika memejamkan matanya, dan seketika muncul kenangan-kenangan indah saat dia bersama Rendra, mulai dari berpacaran, hari pernikahannya, sampai saat dirinya sakit dan melahirkan pun ikut melintas saat dia memejamkan mata.
***
Keesokan paginya, Anika terbangun dari tidurnya dan melihat Rendra di kamarnya. Ya, semalam Anika tidur di kamar tamu karena masih syok akan apa yang terjadi.
Dibukanya pelan pintu kamarnya dan dia melongok ke dalam, ternyata tidak ada Rendra di sana, Anika berpikir mungkin Rendra sedang berada di kamar mandi dia pun mendekat ke arah kamar mandi, namun tidak ada suara apapun di dalamnya dan Anika memutuskan untuk memasuki kamar mandi tersebut dan benar saja Rendra tidak ada di dalamnya.
"Apa dia sudah pergi?" Anika bertanya pada dirinya sendiri sambil duduk di atas ranjang.
"Siapa yang menjebakku dan berani menghancurkan keluargaku seperti ini."
__ADS_1
"Dan ya, kapan foto itu diambil perasaan akhir-akhir ini aku tidak pernah keluar rumah." Anika berbicara kepada dirinya sendiri.
Anika memutuskan untuk menghubungi seseorang lewat ponsel.
"Halo?" Ucap Anika setelah telepon tersambung.
"Halo Anika, ada apa tiba-tiba menelfon?"
"Elena, aku... Aku..." Ya, Anika menghubungi Elena, sahabat satu-satunya, Anika menceritakan semuanya yang terjadi semalam kepada Elena l, kemudian meminta wanita tersebut untuk membantunya mencari tahu kebenaran yang terjadi.
"Apa?!" Elena sungguh terkejut mendengar cerita dari Anika.
"Ika, apa kamu benar-benar tidak ingat semuanya?" Tanya Elena, dia bukannya tidak percaya kepada Anika hanya saja dia ingin memastikan semuanya secara detail agar tidak ada kesalahan sedikitpun.
"Aku, aku tidak yakin Lena. Seingatku aku tidak bertemu siapapun akhir-akhir ini."
Elena terdengar menghela nafas berat kemudian berkata, "Akan ku bantu sebisaku, kamu fokus saja pada anakmu ya."
"Lena aku sungguh tidak tahu harus mengucapkan apalagi padamu. Aku berjanji, aku akan membalas kebaikanmu, Lena."
"Sudahlah Ika, kamu juga sudah banyak membantuku, jadi ini sudah saatnya giliranku."
"Apapun itu, terima kasih Lena." Anika berkata dengan meneteskan air mata.
"Kamu jagalah dirimu dan Kaisar baik-baik."
__ADS_1
"Pasti. Sekali lagi terima kasih." Dan panggilan pun berakhir.
Anika menggenggam erat ponselnya sambil memejamkan mata dia berkata, "Aku berharap padamu Lena. Dan kamu Rendra tunggulah, kebenaran akan segera datang."