Keluarga Yang Tak Dirindukan

Keluarga Yang Tak Dirindukan
PR


__ADS_3

Saat tiba di rumah, Rani langsung membanting tubuhnya ke atas sofa ruang tamu dan melempar tasnya dengan sembarang. Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan bagi Rani, bagiamana tidak banyak kejadian terjadi yang tidak pernah terbayang sebelumnya seperti bertemu dengan Satya salah satu orang yang ingin dia hindari dan tidak temui lagi. Karena lelah dan pusing, rasa kantuk pun mulai menyerangnya, Rani baru saja ingin merebahkan tubuhnya di sofa tersebut sebelum ponselnya berdering.


"Siapa sih yang nelfon, gak tau apa orang lagi capek." Ucap Rani sambil bangkit dari sofa dengan malas, mencari dimana ponselnya berada.


"Duh dimana sih tasku, perasaan tadi dilempar kesini deh, kok tiba-tiba gak ada?" Tanyanya pada diri sendiri sambil menunjuk meja.


Ponsel itu pun berdering sampai beberapa kali sampai membuat Rani marah tidak jelas sambil mencari-cari ponselnya, "Iya iya sabar dong gak usah berisik!"


"Astaga kenapa kamu tiba-tiba ada disini? Bukannya tadi di atas meja kenapa sekarang ada di bawah meja, yang mindahin siapa sih?!" Lanjutnya dengan memarahi benda mati tersebut, layaknya seperti makhluk hidup, dengan sigap dia merogoh isi tasnya dan mengambil ponsel yang sejak tadi berdering itu. Tanpa melihat siapa yang menelepon dia langsung mengangkatnya.


"Halo siapa ini?" Tanya Rani dengan malas pada orang yang menelepon.


"Hei! Kamu mabuk?" Tanya orang yang menelepon itu kepada Rani.


Rani langsung sadar dari rasa kantuknya segera setelah mengenali suara orang yang meneleponnya itu. Dengan sedikit gelagapan dia menjawab, "Ah mas Rendra, ku pikir siapa. Nggak kok, aku gak mabuk hanya sedikit mengantuk aja capek banget soalnya hehe."


"Baru pulang?" Tanya Rendra diseberang telepon.


"Iya mas, tadi ada sedikit insiden di jalan makanya baru pulang." Jawab Rani yang sudah mendapatkan kesadarannya kembali.


"Ohh begitu rupanya. Oh ya, aku menelepon karena ada hal yang ingin aku tanyakan. Tapi nanti saja setelah aku selesai bekerja."


"Istirahatlah, akan aku kabari jika aku sudah selesai." Lanjut Rendra lagi.

__ADS_1


Rani manggut-manggut walaupun Rendra tidak bisa melihatnya kemudian menjawab, "Iya mas sampai nanti, jangan terlalu keras bekerja." Jawab Rani.


"Baiklah, aku tutup panggilannya." Jawab Rendra yang langsung menutup panggilan tanpa menunggu jawaban dari Rani.


Rani menghela nafas panjang, dia kembali duduk di sofa, tapi kali ini dia tidak terlalu mengantuk sejak menerima panggilan dari Rendra tadi.


"Kira-kira apa yang ingin mas Rendra tanyakan? Kenapa tiba-tiba begini dan sepertinya ini sesuatu yang serius." Rani sedang mengira-ngira.


"Ah sudahlah! Apapun itu asal bukan soal insiden tadi pagi. Sebelum mas Rendra datang lebih baik aku tidur." Lanjut Rani yang langsung merebahkan tubuhnya di sofa dengan tangannya masih menggenggam erat ponselnya.


***


"Ga, gue cabut ya udah malem juga." Ucap Kai sambil menutup bukunya. Ya, setelah sepanjang sore tadi mereka hanya main game dan bersenang-senang, akhirnya PR baru selesai saat malam tiba.


"Gak ah, kasihan nyokap sendirian dirumah. Papa juga pasti belum pulang." Jawab Kai sambil menggendong tasnya kemudian bangkit dari tempat duduknya.


"Berani pulang sendirian gak? Gue takut di jalan lu kenapa-kenapa." Tanya Yoga lagi dengan wajah dibuat-buat sekhawatir mungkin.


"Elah... Lebay amat lu dah. Baru juga jam 8 malem ini." Jawab Kaisar sambil melihat jam tangan yang dipakai di tangan kanannya.


"Udah belum itu nyalinnya?" Lanjut Kaisar lagi, yang melirik ke arah Yoga.


"Bentar dikit lagi selesai bos, sabar dong duduk lagi aja mumpung masih anget tempat duduk lo tadi." Jawab Yoga tanpa melihat ke arah Kai.

__ADS_1


"Hilih kimprit! Udah jangan kelamaan keburu larut nih!" Ucap Kaisar keras, dia tetap berdiri. Gayanya sudah seperti pengawas Ujian Nasional dengan tangan dilipat di depan dada.


"Iya ni nih udah nih!" Jawab Yoga tak kalah keras, dia menyodorkan buku ke arah Kai dengan sedikit kasar yang langsung disambut dengan pelototan mata Kaisar.


Kaisar menerima buku tersebut tak kalah kasar. Bukannya berterima kasih malah sewot begitu, pikir Kaisar.


"Hais, biasa aja dong matanya jangan melotot gitu atut gue nih!" Ucap Yoga kepada Kaisar, tapi pemuda itu hanya diam tak menjawab.


Melihat Kai hanya diam dan memandanginya seperti itu, akhirnya Yoga berkata dengan dibuat seimut mungkin, "Iya-iya terima kasih atas segalanya, rajin-rajin bersedekah ya." Katanya dengan kedua tangannya memangku dagu.


"Hilih gaya lu udah kayak habis mulung aja." Jawab Kaisar sambil memutar bola mata malas.


"Udah ah gue cabut beneran nih. Pamitin ke Tante ya." Lanjut Kai sambil berjalan ke arah pintu depan rumah Yoga.


Yoga yang sudah bangkit dari duduknya pun mengikuti Kaisar dari belakang, berniat mengantar Kaisar sampai ke depan rumah.


"Titi DJ ya Bi, awas mobilnya nginjek t*i ayam ntar di jalan." Teriak Yoga dari ambang pintu dengan cengengesan.


"Kagak bakalan, ayamnya udah digeprek sama Ubin Onah." Jawab Kaisar sambil melambaikan tangan tanpa membalikkan badan ke arah Yoga, dia pun segera memasuki mobil. Sebelum pergi Kaisar membunyikan klakson ke arah Yoga yang di sambut anggukan kepala oleh pemuda itu.


Bersambung...


Jangan lupa klik like dan favorit ya🐣🐣🐣

__ADS_1


__ADS_2