
"Jadi itu bukan kamu yang menyiapkan?" Anika bertanya kepada Kaisar setelah pemuda tampan itu sudah kembali dari latihan basketnya. Wanita tersebut sangat terkejut saat mengetahui makanan yang disantapnya tadi pagi, ternyata bukanlah Kaisar yang menyiapkan.
"Bukan Ma, memang kenapa? Ada yang salah sama makanannya?" Tanya Kaisar sambil melepaskan sepatunya.
"Gak ada yang salah sih, tapi... Kalo bukan kamu siapa yang menyiapkan sarapan tadi pagi?" Lagi-lagi Anika bertanya dengan heran.
"Mungkin Papa?" Timpal Kaisar, yang sudah melepas sepatu dan meletakkan sepatu tersebut ke tempatnya.
"Apa maksud Kai? Papa kan gak pulang dari semalam."
"Ish ish ish... Mama ini, Papa semalam emang gak pulang. Tapi pagi ini Papa pulang kok Ma, lagian yang siapin sarapan Kai tadi pagi juga Papa kok." Perkataan Kaisar itu justru membuat Anika semakin merasa keheranan. Melihat Anika hanya diam tak menjawab, Kaisar memilih pergi ke kamarnya.
"Jika apa yang dikatakan Kaisar itu benar, itu berarti... Ah mungkinkah itu nyata?" Anika semakin dibuat penasaran.
***
Rendra bangun dari tidurnya saat gelap sudah meninggalkan langit. Ya, dia bangun jam setengah tujuh pagi dimana waktu tersebut adalah waktunya sebagian orang sudah memulai aktivitas mereka. Dia merubah posisi tidur menjadi posisi duduk, dia melirik wanita yang sedang tertidur lelap disampingnya, dia begitu kelelahan akibat ulah Rendra semalam.
Rendra melirik jam dinding yang ada di kamarnya sebelum berkata, "Ah sudah jam setengah tujuh aku harus segera pulang ke rumah." Kemudian dia pun turun dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi sambil menguap karena dia memang masih sangat ngantuk, tapi mau bagaimana lagi dia harus kembali pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Ditempanya sekarang memang rumah Rendra juga, tapi Rendra tak pernah menganggap rumah itu benar-benar rumahnya, dia hanya menganggap rumah itu sebagai tempat pelarian disaat dirinya merasa kacau. Dan di sana juga ada dua orang yang cukup penting baginya yang harus dilindunginya juga. Lalu kemana Rendra akan pulang? Ya benar, rumah yang dimaksud Rendra untuk pulang adalah rumahnya bersama Anika dan Kai.
Meskipun dia sering bertengkar bersama Anika disana dan hampir tidak ada kebahagiaan yang dirasakannya, tapi entah kenapa Rendra tetap merasa nyaman di sana berbeda dengan rumah yang sedang dia tempati sekarang, saat dia tinggal di rumah itu dia merasa ada sesuatu yang kurang dan itu cukup menganggunya.
Selepas membersihkan diri dan mengganti pakaian, Rendra menghampiri istrinya yang masih tertidur lelap itu dia mengecup kening istrinya kemudian menyelimutinya dengan benar.
"Maaf, aku harus segera pulang pagi ini." Ucap Rendra lirih kepada wanita itu, meskipun wanita tersebut tidak mendengarnya. Kemudian Rendra pun bergegas pergi menuju rumah Anika.
Jalanan tidak seramai biasanya karena hari ini merupakan hari libur sehingga tak banyak orang yang berkendara di jalan besar, mereka sepertinya masih tinggal di dalam rumah sehingga tidak menimbulkan kemacetan, butuh waktu satu jam untuk Rendra sampai di rumah Anika. Rumah itu masih terlihat sepi, belum ada tanda-tanda penghuni yang beraktivitas di dalamnya.
"Mereka pasti belum pada bangun." Ucap Rendra setelah turun dari dalam mobil kemudian melangkah ke dalam rumah. Tidak sulit bagi Rendra untuk memasuki rumahnya tersebut karena jelas dia tahu kode rumah itu.
"Ah sudah ku duga, mereka belum bangun. Lampu depan saja masih belum dimatikan." Ucap Rendra dengan menghela nafas pelan, dia pun berjalan ke arah kamarnya. Di sana dia menemukan Anika masih tertidur dengan posisi miring.
"Hei bangunlah! Ini sudah hampir siang..." Ucap Rendra lirih, dia sengaja memelankan suaranya agar Anika tidak mendengar kemudian bangun. Jadi Rendra memang tidak berniat membangunkan Anika.
"Apa kamu begitu kelelahan? Sehingga jam segini saja belum bangun, dasar kebo!" Ucap pria itu lagi dengan lirih, diringi dengan sedikit tawa. Rendra sangat menikmati pemandangan dihadapannya, meskipun di luar dia terlihat tidak peduli dan kasar kepada Anika, tapi di lubuk hatinya yang paling dalam dia masih menyayangi dan mencintai wanita tersebut. Meskipun kemarahan lebih mendominasi dibandingkan rasa cintanya.
"Baiklah, tidurlah! Jangan menangis lagi agar mata mu tidak bengkak seperti sekarang." Lanjut Rendra lagi.
__ADS_1
Selepas berkata demikian, Rendra mencium kening Anika cukup lama kemudian melangkah keluar kamar. Saat di luar kamar, Rendra berpapasan dengan Kaisar yang sudah rapih dengan dengan pakaiannya.
"Eh, Papa kapan pulang? Kok Kaisar gak liat." Tanya Kaisar saat melihat Rendra.
Rendra tersenyum kemudian menjawab, "Papa baru pulang pagi ini. Ayo kita ke dapur, hari ini biar Papa yang menyiapkan sarapan."
"Emangnya Mama belum bangun?" Tanya Kaisar lagi.
"Belum, Mamamu kelelahan gak papa hari ini biar Mama bangun siang, biarkan dia istirahat." Jelas Rendra dengan melirik ke arah pintu.
"Ini kan hari libur, tapi kamu pagi-pagi begini sudah rapih aja, mau kemana?" Tanya Rendra yang mengamati penampilan Kaisar dari atas sampai bawah.
"Kaisar mau latihan basket Pa sama temen-temen, soalnya bentar lagi mau ada acara lomba-lomba gitu di sekolah Kai." Jawab Kaisar.
"Ternyata kamu ikut basket? Pantes jadi tinggi banget gitu." Rendra bertanya dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Hehe ya gitu deh Pa." Jawab Kaisar sambil mengusap bagian belakang lehernya.
Rendra manggut-manggut kemudian tersenyum sebelum menjawab, "Baiklah mari kita sarapan dulu sebelum kamu berangkat." Ucap Rendra kemudian merangkul putranya itu, dan keduanya pun berjalan beriringan menuju dapur.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa klik like dan favorit ya 🐣🐣🐣