Keluarga Yang Tak Dirindukan

Keluarga Yang Tak Dirindukan
Operasi


__ADS_3

Pagi ini, tepatnya pukul tujuh tiba saatnya Anika menjalankan operasi histerektomi atau yang biasa dikenal sebagai operasi pengangkatan rahim. Ini adalah kali pertama dia melakukan operasi jadi perasaan Anika campur aduk. Tak hanya Anika, Kaisar yang mendampingi pun ikut merasa cemas yang berlebihan. Keduanya berbincang-bincang sambil menunggu perawat menjemput keduanya.


"Mama mau minum?" Kaisar berkata saat melihat kecemasan di wajah Anika, dia sebisa mungkin terlihat biasa saja agar Mamanya tidak terlalu merasa takut.


"Boleh nak." Jawab Anika dengan sedikit tersenyum.


Kaisar pun mengambil minuman yang terletak di atas meja dan Anika pun minum dengan dibantu oleh Kaisar.


"Maaf ya sayang, karena Mama hari ini kamu jadi izin nggak sekolah." Kata Anika dengan memasang wajah penuh penyesalan.


Kaisar menggeleng pelan sebelum menjawab, "Mama lebih penting dari apapun juga."


"Kai, bagaimana kalau operasi ini gagal dan Mama tidak selamat?" Tanya Anika tiba-tiba.


"Mama ngomong apa sih." Jawab Kaisar sambil meletakkan gelas minum ke tempatnya semula.


Anika menghela nafas panjang sebelum berkata, "Yah semua kemungkinan bisa saja terjadi nak. Apapun hasilnya nanti, Mama mau kamu harus bisa menerimanya dengan ikhlas meski hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan."

__ADS_1


"Mama jangan ngomong yang bukan-bukan dulu deh, kita positif thinking aja Ma, Tuhan pasti memberikan jalan yang baik untuk kita." Kata Kaisar sambil memegang erat kedua tangan Anika.


"Ma, mungkin Kai jarang ngomong gini sama Mama. Kalau Kai sayang banget sama Mama, jadi Kai mohon bertahanlah sedikit lagi demi Kai." Lanjut Kaisar, nada bicaranya terdengar melemah.


Anika mengusap lembut kepala Kaisar, sambil tersenyum hangat dia berkata, "Mama juga sayang banget sama kamu. Jadilah anak yang baik ya, jangan kecewakan Mama." Ucap Anika yang dibalas anggukan kepala oleh Kaisar.


Beberapa saat kemudian beberapa perawat memasuki ruangan Anika dan mengatakan sudah saatnya Anika melakukan operasi. Anika pun dibawa ke ruang operasi dengan Kaisar mendampinginya.


"Kaisar ada di sini, jadi Mama jangan takut." Kata Kaisar sambil tersenyum lembut sebelum Anika memasuki ruangan operasi.


Kaisar membalas ucapan Anika dengan mengangguk pelan, kemudian Anika memasuki ruangan operasi bersiap untuk melakukan operasi pengangkatan rahim.


***


"Wah hari ini Adel udah boleh pulang ya." Rendra tampak senang melihat Adel yang beberapa waktu lalu mengalami kecelakaan akhirnya hari ini sudah diperbolehkan untuk pulang.


"Adel udah boleh makan es krim dong Pa?" Kata gadis mungil tersebut tak kalah senangnya.

__ADS_1


"Jangan dulu sayang, Adel kan masih harus minum obat." Jawab Rani yang melarang keinginan Adel.


Mendengar perkataan Rani, Adel pun menunjukkan ekspresi cemberut, melihat hal itu Rendra sigap mengambil tindakan.


"Ssttt jangan dengarkan Mama mu, hari ini kita akan makan es krim sepuasnya, oke!" Rendra berbisik pelan ke telinga Adel kemudian tangannya menunjukkan gaya tos, namun sayang Rani bisa mendengar cukup jelas ucapan Rendra.


Rani melotot ke arah Rendra sebelum berkata, "Papa! Jangan terlalu memanjakan anak kita!"


"Adel, dengarkan Mama! Kamu boleh makan es krim setelah semua obatnya habis, sebelum semuanya habis, Mama melarang kamu makan es krim, Oke?!" Lanjut Rani, dia berkata dengan tegas yang membuat Adel mau tak mau menuruti perintah Rani.


"Maaf Ma..." Jawab Adel singkat.


"Rani, jangan terlalu galak sama putri kita." Rendra ikut menimpali.


Rani mengehela nafas panjang merasa apa yang dikatakannya barusan memang sudah berlebihan, "Maafin Mama ya nak, Mama cuma mau kamu cepat pulih." Ucapnya sambil memeluk putri kecilnya itu.


"Ah apa ini? Aku jadi ingin memeluk kalian juga kan." Ucap Rendra yang kemudian ikut berhambur memeluk Adel dan Rani.

__ADS_1


__ADS_2