
Sudah satu setengah jam Kaisar menunggu di depan ruangan operasi, dia begitu cemas terlihat dari tingkahnya yang terkadang duduk terkadang juga berdiri, sambil sesekali melirik lampu yang menyala yang terletak dibagian atas pintu ruangan operasi sebagai tanda operasi masih berlangsung.
Saat Kaisar melirik lampu untuk kesekian kalinya, akhirnya dia mendapati lampu tersebut berhenti menyala yang menandakan operasi tersebut telah selesai dilakukan. Beberapa saat kemudian dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan operasi itu.
Kaisar segera menghampiri dokter dan bertanya, "Bagaimana keadaan Mama dok?"
"Operasi berjalan dengan lancar dan pasien saat ini sedang disiapkan untuk ditempatkan di ruangan ICU." Jawab dokter tersebut kemudian langsung pergi meninggalkan Kaisar.
"Syukurlah..." Ucap Kaisar, dia terduduk lemas di lantai karena merasa kecemasannya beberapa saat yang lalu tidak berdasar.
Tak lama, Anika pun keluar dari ruangan operasi dia masih terbaring tak sadarkan diri karena pengaruh obat bius.
"Mama!" Panggil Kaisar sambil berdiri dari duduknya kemudian ikut membantu perawat mendorong tempat tidur Anika.
Di dalam ruang ICU, Kaisar duduk di kursi samping tempat tidur Anika sambil menggenggam erat tangan wanita paruh baya tersebut.
"Kaisar bersyukur banget Ma, operasi Mama berjalan dengan lancar dan Kai berharap setelah ini Mama bisa sembuh dan kita bisa hidup bahagia dengan cara kita." Kaisar berbicara kepada Anika yang masih tak sadarkan diri.
"Kai..." Suara bariton seorang pria membuat Kaisar menoleh ke arahnya.
"Dokter Revan?" Ucap Kaisar sambil berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Revan menepuk pundak Kaisar sambil tersenyum lembut sebelum berkata, "Saya bangga sama kamu, kamu bisa menjadi kekuatan bagi Anika dan diusia mu yang sekarang yang seharusnya bersenang-senang justru harus terpenjara oleh keadaan dan memaksa kamu harus bisa bersikap dewasa"
"Kalau bukan Kai siapa lagi dok, karena Papa pun udah nggak peduli sama kami." Jawab Kaisar sambil tersenyum miris.
Revan memang sudah mengetahui tentang masalah keluarga Anika, saat mendengar itu dia sendiri merasa malu bagaimana seorang kepala keluarga tidak mempunyai rasa tanggung jawab sedikit pun.
"Kamu sudah makan?" Tanya Revan kemudian.
"Belum dok." Jawab Kaisar singkat.
"Makanlah dulu, dari pagi belum makan kan? Pergilah biar aku yang menjaga Mama mu."
"Jangan seperti itu, nanti kalau Mama mu tahu kamu telat makan, dia pasti tidak akan senang." Revan mencoba membujuk Kaisar.
'Andai yang berkata demikian adalah Papa, aku pasti bakalan seneng banget.' Batin Kai sambil menatap Revan dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Kemudian Kaisar melirik ke arah Anika sebelum berkata, "Baiklah kalau begitu Kai pergi dulu dok. Tolong jaga Mama." Kata Kaisar yang menoleh ke arah Revan.
"Pergilah! Aku ada di sini." Jawab Revan.
***
__ADS_1
Kaisar sedang makan di kantin rumah sakit saat tiba-tiba ponsel yang diletakkan di atas meja berdering. Kaisar kemudian melihat siapa yang menelponnya, saat mengetahui siapa orang itu dia justru meletakkan kembali ponsel tersebut ke atas meja, tanpa menerima panggilan tersebut terlebih dahulu.
Tidak berhenti di sana, ponsel Kaisar berdering hingga beberapa kali hingga membuat Kaisar merasa terganggu dan akhirnya memutuskan menerima panggilan tersebut. Setelah menerima panggilan itu, Kaisar belum juga mengatakan sepatah katapun.
"Apa peduli Papa?" Hanya itu kalimat pertama yang Kaisar ucapkan.
Ya, orang yang menelepon Kaisar tidak lain adalah Rendra, dia bertanya tentang keadaan Kaisar.
"Nak, ayolah jangan marah terus sama Papa. Papa kan sudah minta maaf, bagaimana kalau kita bertemu hari ini, kita makan bersama dan Papa akan mengenalkan mu dengan Rani serta adikmu, Adel." Ucap Rendra dari seberang telepon, dari nada bicaranya terdengar jelas Rendra begitu antusias.
'Brengsek! Sudah tahu Mama lagi sakit, bukannya menanyakan keadaan Mama dia justru membahas keluarganya!' Batin Kaisar geram sambil mengepalkan tangannya.
"Adik? Hah dasar. Aku nggak sudi punya adik dari wanita murahan!" Jawab Kaisar dengan nada sinis.
Mendengar Rani disebut sebagai wanita murahan, Rendra membentak Kaisar dengan suara yang cukup keras, "Kaisar!" Namun beberapa saat kemudian suaranya kembali normal, "Kaisar, mereka itu orang-orang baik, kamu tidak akan menyesal berkenalan dengan keduanya. Percayalah sama Papa."
"Udah lah gak penting, nggak usah menghubungi aku lagi kalau Papa cuma mau membahas hal itu!" Jawab Kaisar, kemudian dia memutuskan panggilan tersebut secara sepihak tanpa mendengar jawaban dari Rendra terlebih dahulu.
"Sial! Pria itu membuatku kehilangan nafsu makan ku." Ucap Kaisar sambil mendorong sepiring makanan agar sedikit menjauh dari hadapannya.
Kaisar pun pergi dengan perasaan marah, tanpa mengabiskan makanannya terlebih dahulu.
__ADS_1