Keluarga Yang Tak Dirindukan

Keluarga Yang Tak Dirindukan
Keputusan (part 2)


__ADS_3

"Jadi apa keputusanmu?" Rendra bertanya dengan penuh harap.


"Aku..." Anika melirik ke arah Kaisar sekilas meminta pendapat lewat tatapan matanya, dan pemuda tersebut langsung menangkap maksud Anika dengan menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak setuju jika Anika harus menerima Rendra kembali.


Anika menghela nafas berat sebelum menjawab, "Aku mau..."


Mendengar jawaban Anika Rendra dan Kaisar bangkit dari tempat duduknya dengan alasan yang berbeda, Kaisar yang terkejut dan kecewa atas keputusan Anika sedangkan Rendra yang terlihat amat bahagia.


"Benarkah? Aku tidak salah dengar kan?" Kata Rendra sambil memegangi kedua tangan Anika.


Rendra berhambur memeluk Anika sambil berkata, "Terima kasih Ika, aku berjanji akan menjadi suami yang baik dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti sebelumnya. Aku berjanji demi dirimu dan juga Kaisar."


Anika melepaskan pelukan Rendra sebelum berkata, "Eh bukan itu maksudku, aku belum selesai menjawab." Ucapnya dengan mendengus kesal.


"Belum selesai menjawab? Apa maksudmu, Ika?" Rendra jelas terlihat kebingungan sementara Kaisar masih tetap diam.


"Aku tadi belum selesai menjawab, tapi kamu sudah menyimpulkan sendiri."


"Maksudnya?"


"Maksudnya aku mau hidup berdua dengan Kaisar saja bukan mau kembali padamu." Jawab Anika dengan sedikit rasa kesal.


"Mama..." Ucap Kaisar lirih pemuda tersebut sedikit terkejut namun senyuman terukir jelas di bibirnya.

__ADS_1


"Apa kamu sungguh-sungguh dengan keputusanmu, Ika?" Kali ini suara Rendra melemah karena jawaban yang dia harapkan tak pernah terdengar.


"Apa ini karena dokter itu? Dokter Revan yang menyatakan dirinya adalah calon suamimu?" Lanjut Rendra yang masih belum bisa menerima keputusan Anika.


Anika mengibaskan tangannya berulang kali, "Bukan, bukan karena Revan. Dia tidak ada hubungannya dengan hal ini. Dan dia bukan calon suamiku." Jawab Anika tegas.


"Lalu kenapa?" Tanya Rendra.


Anika diam beberapa saat kemudian menghela nafas panjang sebelum menjawab, "Maaf Rendra, aku memang sudah mengikhlaskan semua perbuatan mu padaku, tapi untuk kembali sangat sulit bagiku untuk bisa menerima."


"Aku senang kamu akhirnya mengetahui kebenarannya dan sadar akan kesalahanmu sendiri. Tapi ibarat gelas kaca yang pecah, sudah tidak bisa disusun kembali seperti semula, begitulah rumah tangga kita saat ini." Lanjut Anika.


"Ika..." Rendra berkata dengan suara lirih.


Rendra menundukkan pandangannya hatinya begitu sakit mendengar pengakuan Anika, ternyata dia selama ini telah begitu jahat menyakiti wanita sebaik Anika. Dan bodohnya, kenapa dia baru menyadari sekarang setelah semuanya terlambat? Kenapa dari dulu dia tidak mau sedikitpun mendengar penjelasan Anika, andai waktu bisa diputar kembali, mungkin Rendra tidak akan pernah mau mempercayai foto tersebut dan lebih percaya dengan istrinya sendiri tapa diminta penjelasan sekalipun.


Dengan suara tercekat Rendra berusaha berkata, "Maafkan aku Ika, sekali lagi ku mohon maafkan aku. Walaupun kita tidak bisa kembali aku harap kita bisa berpisah dengan perasaan yang damai.


"Iya aku memaafkanmu, Rendra." Jawab Anika dengan tersenyum lembut.


Begitu lapangnya hati Anika meski sudah disakiti dan terluka selama bertahun-tahun, dia tetap dengan mudahnya memberikan maaf untuk Rendra, bukan berarti dia wanita yang lemah hanya saja dia berfikir balas dendam bukanlah suatu jalan keluar yang bijak. Jika dia melakukan itu, yang ada masalah tidak akan selesai melainkan akan menimbulkan masalah-masalah yang lain bahkan akan membuat hatinya menjadi keras dan berubah menjadi pembenci.


Anika merasa lega, beban di pundaknya terasa terangkat saat dia bisa berdamai dengan keadaan.

__ADS_1


"Kaisar juga sudah memaafkan Papa." Kata Kaisar yang tiba-tiba sudah berdiri di samping sofa yang diduduki oleh Rendra.


Rendra menoleh ke arah Kaisar, "Nak..." Ucapnya lirih air matanya tak bisa lagi dia bendung.


Kaisar berhambur memeluk Rendra sebelum berkata, "Maafkan Kai juga Pa, atas sikap kurang ajar Kai selama ini. Maafin Kai, Pa."


"Papa ngerti nak, Papa ngerti. Kamu tidak perlu minta maaf."


Anika melihat pemandangan tersebut dengan haru, dia menepis air mata yang hampir jatuh di ujung matanya.


Lega bercampur haru karena sudah tidak ada salah paham di antara mereka, meski tak bisa kembali bersama menjadi keluarga yang utuh setidaknya mereka masih bisa menjalin silaturahmi yang baik tanpa ada rasa benci.


.


.


.


.


Tamat...


Jangan?

__ADS_1


Wkwk tamat atau jangan😄


__ADS_2