
"Jangan kesana!" Rani berteriak panik yang menimbulkan kebingungan dari Rendra.
Rendra menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Rani salah satu alisnya terangkat, "Kamu kenapa teriak-teriak gitu sih?" Rendra menggelengkan kepalanya pelan.
"Ti-tidak, maksudku jangan kesana. Di kamar itu masih kotor banyak debu dan belum sempat aku bersihkan hehe"
"Halah kamu ini berlebihan, memangnya kenapa kalo banyak debu? Aku juga nggak akan mati kalau terkena debu." Selepas berkata demikian Rendra melangkahkan kakinya lagi.
Hal itu menimbulkan kepanikan dari Rani, wajahnya sedikit pucat saat Rendra sudah ada di depan pintu kamar, dengan gerakan kilat Rani mencegah Rendra masuk dengan menghalanginya dari depan.
"Sudah ya mas, biar aku saja yang mencarikan berkasnya kamu istirahat saja dulu, lagipula kamu baru sampai." Rani berkata dengan sedikit terbata-bata.
Rendra mengamati wajah Rani kemudian mengehela nafas pelan, "Kamu ini dari tadi aneh banget. Aku nggak boleh masuk ke kamar ini memangnya ada apa? Kamu seperti menyembunyikan selingkuhan saja!" Rendra berkata dengan menunjuk kamar.
"Enggak bukan itu maksud..." Belum sempat Rani menyelesaikan perkataannya, Rendra sudah menyelonong masuk ke dalam kamar, Rani panik tapi dia juga sudah pasrah jika harus ketahuan.
Rendra menyalakan lampu kamar dan terlihat pemandangan kamar yang begitu berantakan, "Berantakan sekali." Ucapnya pelan.
Sementara itu Rani memilih menunggu di luar kamar karena takut jika Rendra sampai menemukan orang itu dan mereka bertengkar, tapi setelah menunggu beberapa saat Rani tak mendengar sesuatu yang mencurigakan akhirnya dengan langkah pelan dia ikut memasuki kamar.
Di dalam kamar Rani bingung karena orang itu tidak terlihat di sana, dia bertanya-tanya kemana orang itu pergi, pandangannya menyapu bersih seisi kamar untuk mencari keberadaannya. "Dia sembunyi dimana?" Rani bergumam pelan.
Rendra menoleh ke arah Rani kemudian bertanya, "Ya kamu mengatakan sesuatu?"
"Eh? Itu mas kan apa aku bilang, kamarnya masih berantakan dan belum sempat aku bersihkan." Jawab Rani
__ADS_1
Rendra tersenyum lembut ke aran wanita itu, "Kamu pasti lelah ya mengurus rumah sendirian? Kenapa tidak mencari pembantu saja."
"Mengurus rumah sendiri lebih menyenangkan, lagipula aku tidak punya pekerjaan jadi akan bosan jika tidak melakukan apa-apa."
"Kamu seperti Anika saja." Jawab Rendra kemudian mulai mencari berkasnya.
Ada sedikit perasaan perih di hati Rani saat Rendra menyebut nama Anika dihadapannya, tapi dia mencoba menepis perasaan itu.
Rani kembali fokus kepada orang itu dan mencarinya tanpa diketahui oleh Rendra.
"Ah ketemu juga!" Ucap Rendra yang membuat Rani menoleh ke arahnya.
"Sudah ketemu?" Tanya Rani.
Rendra mengangguk pelan, "Iya sudah, kalau begitu aku langsung pulang ya."
"Besok aku harus bersiap pagi sekali semua barang-barangku ada di rumah, dan sekarang sudah cukup malam jadi aku harus segera pulang untuk beristirahat persiapan besok pagi."
"Mau ke luar kota ya?" Rani menunjukkan wajah muram.
"Iya, cuma 3 hari kok." Rendra tersenyum sambil mengusap kepala Rani.
Keduanya pun keluar kamar bersama-sama, Rani mengantar Rendra hingga ke depan rumah.
"Aku pergi sekarang ya." Ucap Rendra, kemudian dia mencium pipi Rani.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan."
Rendra tersenyum kemudian melangkah memasuki mobilnya, dia menyembunyikan klakson sekali ke arah Rani sebelum melaju pergi.
"Dia sudah pulang?" Perkataan seseorang membuat Rani terkejut.
"Kenapa tiba-tiba kamu ada disini? Bagaimana jika Rendra tadi melihatmu?" Rani mendelikkan matanya ke arah orang itu yang kini sudah berdiri di sampingnya.
"Sayang sekali dia tidak melihatku, jika kami tadi bertemu pasti suasananya akan menyenangkan bukan?" Orang itu berkata dengan santai.
Rani menunjukkan wajah marahnya, "Jangan bercanda! Katakan sembunyi dimana kamu tadi?"
Orang itu berdecak kesal kemudian menjawab, "Aku sembunyi di kamar mandi, dasar merepotkan sekali!"
"Suruh siapa datang kesini, ingat ini adalah pertama dan terakhir kalinya kamu datang kemari dan aku tidak mau terkena masalah karena dirimu, Satya!" Rani menunjuk geram orang itu yang tidak lain adalah Satya.
"Hahaha aku tidak janji." Satya justru merasa senang telah membuat Rani semarah itu.
"Baiklah, aku pergi sekarang. Karena besok pagi aku harus berangkat keluar kota untuk survey lokasi dan melakukan rapat dengan suami mu itu." Perkataan Satya berhasil mengejutkan Rani.
"Apa! Jadi kalian adalah partner kerja?!" Rani membelalakkan matanya tak percaya.
"Yah begitulah, tenang saja aku tidak akan memberi tahu apapun kepadanya."
"Aku pergi sekarang, Oh ya satu lagi benar kata Rendra carilah pembantu untuk meringankan pekerjaanmu." Lanjut Satya dengan tersenyum kemudian berjalan pergi entah dimana dia memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
Sementara Rani, dia masih berdiri diam dengan segala kebingungannya.