
Sudah hampir seminggu Anika dirawat di rumah sakit dan melakukan kemoterapi, dan selama itu pula Kaisar harus bolak-balik seorang diri dari rumah untuk mengambil berbagai keperluan lalu kembali lagi ke rumah sakit untuk menemani Anika, dia hanya dibantu Elena sesekali karena perempuan itu juga sibuk, sehingga tidak bisa membantu Kaisar setiap hari.
"Ma, Minggu depan Kaisar mau ulangan kenaikan kelas. Doain ya biar lancar semuanya." Sore itu Kaisar terlihat berbincang dengan Anika sambil menyuapi Anika buah apel yang baru saja dipotongnya.
"Iya nak pasti Mama doain, apa kamu pulang saja kamu belajar di rumah, kalau belajar di sini kamu nggak bakalan fokus." Jawab Anika.
Kaisar jelas menolak keras pendapat itu, bagaimana pun dia tidak akan membiarkan Anika sendiri apalagi dikondisinya yang sekarang.
"Nggak mau, Kaisar nggak mau pulang dan ninggalin Mama sendiri." Kata Kaisar sambil menggeleng berulang kali.
"Nggak papa Kai, kalau Mama butuh apa-apa Mama kan bisa panggil perawat, atau kalau tiba-tiba Mama merasakan sakit Mama juga bisa menekan tombol darurat itu." Jawab Anika sambil menunjuk tombol darurat yang letaknya tepat di dekat tempat tidur Anika.
Kaisar menghela nafas panjang sebelum berkata, "Pokoknya Kai nggak mau, lagian Kai udah nyiapin semuanya kok. Tadi waktu pulang sekolah Kai pergi ke rumah dulu untuk ngambil buku pelajaran yang akan Kai pelajari." Jawabnya yang menunjuk tas besar berisi berbagai buku pelajaran yang Kaisar letakkan di atas sofa ruangan.
"Anak Mama ini memang sigap dalam segala hal ya." Anika memuji Kaisar sambil tertawa kecil.
Kaisar hendak menyuapi buah apel lagi ke mulut Anika, namun Anika mengambil buah yang disodorkan padanya untuk dia suapkan ke mulut Kaisar.
__ADS_1
"Kamu pasti belum makan ya." Ucap Anika sambil menyuapi buah apel itu ke mulut Kaisar.
"Nanti aja Ma." Jawab pemuda tersebut sambil mengunyah buah.
Anika menggeleng beberapa kali sebelum berkata, "Mama nggak mau kalau kamu makannya telat terus, nanti kalau kamu sakit yang akan jagain Mama siapa?"
"Iya nanti Ma... Kaisar belum lap-..." Belum sempat Kaisar menjawab, Anika sudah lebih dulu mendahului.
"Cepat makan atau Mama juga nggak mau makan!" Ucap Anika dengan tegas, dia sungguh serius dengan ucapannya.
"Iya Ma, Kaisar ke kantin dulu ya." Jawab Kaisar dengan malas, kemudian dia pergi menuju kantin seperti yang dikatakannya.
Setelah memastikan Kaisar benar-benar sudah pergi, ekspresi Anika tiba-tiba berubah, dia terlihat seperti merasakan sakit yang begitu hebat.
"Aw! Sakit sekali." Anika merintih kesakitan sambil memegangi bagian bawah perutnya.
Dengan tangan gemetar, dia meraih obat pereda rasa sakit yang diberikan dokter kepadanya, yang berada di atas meja kemudian meminumnya.
__ADS_1
"Kenapa aku merasa tidak ada perubahan yang berarti dalam seminggu ini, dan aku merasa semakin lemah saja. Ya Tuhan, apa hidupku tidak akan lama lagi?" Ucap Anika, dia terlihat putus asa namun dia tak pernah menunjukannya pada Kaisar.
***
Kaisar tampak sudah selesai dengan makannya, kemudian dia berjalan kembali menuju ruangan Anika, namun saat dia berjalan di koridor rumah sakit, dia seperti melihat Rendra berada disana yang tengah berjalan juga.
"Papa? Apa Papa mau mengunjungi Mama?" Kata Kaisar saat melihat Rendra yang berjalan dari arah berlawanan, ada sedikit perasaan bahagia menyentuh hatinya.
Kaisar melambaikan tangannya bersiap memanggil Rendra, namun dia melihat ada seorang perempuan yang menghampiri Rendra, jadi Kaisar mengurungkan niatnya.
"Ternyata dugaan ku salah, Papa tetaplah Papa yang sekarang sudah berubah dan tak pernah memperdulikan Mama lagi." Ucap Kaisar sambil tersenyum miris saat melihat Rendra pergi bersama wanita lain yang tidak lain adalah Rani.
Semenjak kejadian kecelakaan beberapa waktu yang lalu, Adel putri dari Rani juga dirawat di rumah sakit yang sama dengan Anika, sehingga Rendra datang ke rumah sakit bukan untuk mengunjungi Anika, melainkan mengunjungi Adel yang dia pikir anaknya sendiri.
Kemudian Kaisar mengambil ponsel yang berada di saku celananya, dia memeriksa kembali rekaman beberapa hari yang lalu rekaman dimana dia mengetahui siapa Rani sebenarnya.
"Aku pastikan tidak lama lagi kalian berdua akan menyesal, dan saat itu terjadi jangan pernah berharap kata maaf dari Mama!" Kaisar berkata dengan nafas yang memburu.
__ADS_1