
Sejak kejadian di kantor waktu itu, Rendra sudah tiga hari tidak pulang dan sama sekali tidak memberikan kabar. Berkali-kali Anika mencoba menghubungi namun tetap saja pria paruh baya tersebut mengabaikan setiap panggilannya dan sampai memblokir nomor Anika.
"Ma, papa hari ini nggak pulang lagi?" Kaisar menghampiri Anika yang sedang duduk di ruang tv sambil memainkan ponselnya.
Anika menoleh kemudian menjawab, "Papa sangat sibuk nak jadi belum sempat pulang."
Kaisar ikut duduk di samping Anika kemudian berkata, "Ma! Kai gini-gini paham, sesibuk apapun orang seperti Papa pasti tetap punya waktu untuk pulang ke rumah, walaupun hanya sedetik sekalipun!" Nada bicaranya terdengar sangat kesal.
"Atau Papa punya keluarga lain di luar sana?" Tanya Kaisar tiba-tiba.
Jantung Anika seakan berhenti sejenak lalu berkata dengan nada cukup keras, "Kaisar! Jaga bicaramu! Papa itu orang baik, nggak mungkin dia seperti itu."
"Ya Mama bayangin aja, Papa dihubungi juga susah banget. Sekalinya bisa ada aja alasannya buat mengakhiri panggilan. Padahal hari ini hari libur Ma, masa iya masih kerja aja, nggak mungkin banget!"
Anika memijat pelipisnya kepalanya terasa sakit bingung harus mencari alasan seperti apa lagi, "Dengarkan Mama nak, kali ini Papa ada projek baru yang harus diselesaikan dalam waktu cepat, jadi masih sibuk-sibuknya mengurus semua itu." Jelas Anika dengan begitu sabar.
"Tau ah!" Kaisar berkata sambil berdiri dari duduknya kemudian meninggalkan Anika seorang diri.
Anika menghela nafas panjang, "Mau sampai kapan kita merahasiakan ini dari Kaisar Rendra? Kaisar sudah cukup besar, cepat atau lambat dia pasti akan mengetahui segalanya. Dan kita hanya perlu menunggu waktu itu tiba." Tatapan matanya menunjukkan keputusan asaan.
__ADS_1
***
"Mas hp mu bunyi tuh. Angkat dulu gih siapa tahu penting." Rani berbicara di dalam pelukan Rendra, keduanya masih enggan bangun dari tidurnya.
"Hemmmm." Rendra hanya bergumam pelan.
"Mas angkah ih! Bunyi terus tuh!" Ucap Rani lagi, namun Rendra hanya bergumam pelan sambil mengeratkan pelukannya ke Rani.
Rani yang merasa teganggu pun akhirnya merasa jengah dan meraih ponsel Rendra yang berada di atas nakas, dilihatnya nama yang tertera di dalam layar ponsel tersebut. Dia berdecak kesal setelah mengetahui siapa yang memanggil Rendra, kemudian tanpa pikir panjang lagi dia langsung memblokir nomor tersebut.
"Mengganggu saja! Apa kamu tidak puas sudah hidup bertahun-tahun dengan Rendra? Baru ditinggal tiga hari saja sudah banyak tingkah. Dasar wanita murahan!" Umpatnya kesal dengan suara yang cukup pelan agar Rendra tidak mendengarnya.
"Aku nggak ada ngomong apa-apa. Tidur lagi aja mas mumpung hari libur, Adel juga pasti belum bangun."
"Apa kamu masih belum puas juga setelah kita bermain semalaman?" Rendra bertanya dengan menyeringai, kali ini dia sudah membuka matanya.
Rani pura-pura tidak tahu apa maksud Rendra, "Apa sih! Sudah hampir siang aku mau bangun dulu." Saat Rani hendak bangun, Rendra dengan cepat mencegahnya dengan menahan kedua tangannya sehingga tubuh Rani berada dibawah tubuh Rendra.
"Katanya mau tidur lagi?" Rendra menunjukkan senyum penuh makna.
__ADS_1
"Udah siang aku mau bangun, lepaskan aku!" Rani berusaha berontak.
"Akan ku lepaskan setelah urusan kita selesai, sayang..." Selepas berkata demikian terjadilah yang seharusnya terjadi.
.
.
.
Halo pembaca yang saya sayangiππ Saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang cukup sering diajukan.
1. Kenapa sih ceritanya berbelit-belit?
2. Kenapa nggak langsung ke inti permasalahannya saja?
Jawabannya adalah, saya sebagai penulis selalu berusaha menyajikan yang terbaik buat pembaca, saya tidak ingin membuat cerita yang membosankan dengan alur yang begitu-begitu saja. Jadi saya rasa saya perlu menyisipkan kejadian-kejadian lain atau bahkan tokoh lain untuk menjadi bumbu dalam cerita yang saya buat. Saya tidak ingin fokus ke satu tokoh utama saja karena menurut saya itu akan kurang menarik dan membosankan jika kita berjalan di jalur yang sama secara terus menerus bukan? Untuk itu saya membuat kejadian-kejadian lain dan mengahdirkan tokoh baru.
Kedua, kenapa nggak langsung ke intinya saja? Hemmm ini merupakan karya saya yang pertama, dan baru memasuki 40 an episode, jadi kalau dibuat langsung ke inti permasalahan akan begitu cepat tamatnya, dan saya rasa itu kurang asik dong hehe, karena saya punya rencana sendiri akan menamatkan cerita ini hingga ke 70an episode. Tentu tergantung situasi dan kondisi, kalau tidak memungkinkan ya bisa jadi akan tamat lebih cepat atau bahkan akan memakan episode yang panjang.
__ADS_1
Itu saja, semoga kalian membaca catatan panjang lebar ini hehe. Terakhir, jika kalian suka karya ini dukung karya ini ya dengan cara like, komen, rate dan vote karena karya "Keluarga Yang Tak Dirindukan" sudah memasuki rank vote, allhamdulilah. Terimakasih ππ