
"Sedang apa Papa disini?" Kaisar bertanya kepada Rendra dengan nada dingin ketika melihat Rendra tengah berada di ruangan Anika.
"Kai, terima kasih telah memberi tahu tentang video itu kepada Papa." Jawab Rendra sambil menghampiri Kaisar hendak memeluknya.
Mengetahui Rendra hendak memeluknya, Kaisar mundur selangkah dan melihat hal itu Rendra menghentikan langkahnya.
"Aku memberi tahu video itu bukan untuk membantu Papa, tapi untuk memberi Papa pelajaran berupa penyesalan yang menyakitkan!" Jawab Kaisar sinis.
"Apa kamu sebenci itu dengan Papa? Mau bagaimanapun Papa ini tetap Papamu, nak."
Kaisar tertawa kecil sesaat kemudian dia menghentikan tawanya sebelum berkata dengan nada dingin, "Benar sekali, Papa tetap Papa ku. Tapi itu hanya sekedar status, sedangkan hubungan kita sudah nggak sama lagi seperti dulu. Hubungan kita sudah terpisahkan dinding kebencian yang Papa ciptakan sendiri!"
Rendra menggelengkan kepalanya berulang kali sebelum berkata, "Jangan seperti itu nak."
"Jangan seperti ini? Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku hanya mengikuti permainan yang Papa mulai." Jawab Kaisar sinis.
"Papa mengaku salah Kai, tolong maafkan Papamu ini, apa yang harus Papa lakukan untuk mendapatkan maaf dari kalian?"
"Papa hanya perlu melakukan satu hal."
"Apa itu nak? Papa pasti akan melakukannya, apapun itu." Tanya Rendra dengan begitu antusias.
"Papa hanya perlu pergi dari kehidupan kami dan jangan pernah sekalipun untuk kembali." Jawab Kaisar dingin.
Rendra jelas menolak keinginan Kaisar, dia ingin memperbaiki kesalahannya dan kembali pada keluarganya seperti dulu lagi.
__ADS_1
"Mustahil! Papa nggak mungkin meninggalkan kalian!" Rendra berkata dengan suara yang cukup keras.
Kaisar tersenyum sinis sebelum menjawab, "Kenapa mustahil? Bukankah Papa pernah melakukannya?"
Rendra hanya diam tidak menjawab karena apa yang dikatakan Kaisar memang benar adanya, mendengar langsung dari mulut putranya itu sungguh menyakitkan hati Rendra.
"Sekarang pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi!" Kaisar berkata dengan suara pelan namun masih terdengar oleh Rendra.
***
Selepas berdebat panjang dengan Rendra, Kaisar memilih menenangkan diri di taman rumah sakit. Dia mengingat kembali kejadian sebelumnya, dia berpikir apa dia sudah melewati batas dan keterlaluan berbicara begitu kasar kepada Rendra Papanya sendiri.
Kaisar memang ingin keluarganya kembali utuh seperti sebelumnya, tapi dia tidak bisa melupakan bagaimana Rendra dengan mudahnya mengkhianati dirinya, yang lebih parah mengkhianati dan menyakiti Anika sampai bertahun-tahun, itu bukanlah waktu yang sebentar dan tidak mudah untuk dilupakan.
Bagaimana jika Anika mau memaafkan Rendra dan mau kembali padanya, apa Kaisar bisa melakukan hal yang sama dan melupakan kesalahan Rendra begitu saja?
Kaisar tentu terkejut dan segera menoleh ke arah orang tersebut sebelum berkata, "Dokter Revan?!"
"Maaf membuatmu kaget. Ini minumlah!" Ucap Revan sambil tersenyum dan menyodorkan sebotol air mineral kepada Kaisar.
Kaisar menerima botol tersebut sebelum berkata, "Terima kasih dok."
"Sedang memikirkan apa?" Tanya Revan.
Kaisar menggeleng pelan sebelum menjawab, "Bukan apa-apa dok." Jawabnya dengan nada pelan.
__ADS_1
"Kamu bisa cerita sama saya kalau ada masalah, sebisa mungkin saya akan bantu." Jawab Revan sambil merangkul Kaisar.
Kaisar ragu akan bercerita atau tidak, tapi akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Revan. Kaisar mulai bercerita dari kembalinya Rendra kepada Kaisar dan Anika sampai Kaisar menyuruh Rendra untuk meninggalkan dirinya dan juga Anika.
"Apa tindakan saya salah dok?" Tanya Kaisar kemudian setelah selesai bercerita.
Revan menghela nafas panjang sebelum berkata, "Mungkin saya tidak berhak mencampuri urusan keluargamu, tapi sebagai orang dewasa saya akan memberikan sedikit saran."
"Apa yang dilakukan Papamu memang sudah kelewatan, tapi dia melakukan itu karena memang pada saat itu situasinya tidak terkendali dan memicu kemarahan Papamu." Lanjut Revan.
"Tapi dok, setidaknya Papa kan bisa mencari tahu kebenarannya kan?" Kata Kaisar, dia tidak membenarkan perkataan Revan.
"Saya tahu, tapi apa Papamu sama sekali tidak berusaha mencari tahu kebenarannya?" Tanya Revan, Kaisar diam memikirkan perkataan Revan sampai pada akhirnya dia teringat cerita Elena, bahwa Rendra pernah mencari tahu orang yang bersama Anika di foto itu.
"Pernah kan?" Ucap Revan dia seperti melihat apa yang dipikirkan oleh Kaisar dengan melihat Kaisar yang hanya diam tidak menjawab.
"Perlu kamu tahu, saya juga tidak setuju dengan tindakan Papamu. Tapi pikirkan lagi keputusan yang akan kamu ambil, karena ini tidak berdampak pada dirimu saja tapi juga Anika. Kamu memang berhak marah kepada Papamu tapi satu hal yang pasti, berilah dia kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
"Tapi Papa sudah keterlaluan dok, bagaimana bisa saya memaafkannya begitu saja dan menerimanya kembali?"
"Bisa, kamu bisa memaafkan Papamu. Tapi untuk menerima kembali atau tidak, itu keputusanmu dan juga Anika, saya tidak berhak memutuskan."
Revan menghela nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya, "Ini hanya saran saya saja Kai, boleh kamu terima ataupun tidak. Saya hanya tidak mau kamu menyesali tindakan yang akan kamu ambil, jadi pikiran baik-baik."
"Karena dengan membenci, tidak bisa mengembalikan sesuatu yang telah hilang dan mengurangi beban mu. Yang ada beban di hatimu akan semakin membesar dan membuatmu tumbuh menjadi orang yang tidak baik, saya tidak mau itu terjadi padamu. Jadi pikirkan baik-baik perkataan saya." Lanjut Revan sambil berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Kalau begitu saja pergi dulu ya, sampai nanti." Ucap Revan sambil menepuk pundak Kaisar lalu pergi meninggalkan Kaisar.
Kaisar hanya diam, dia bergelut dengan hati dan pikirannya. Karena hati dan pikirannya menginginkan dua hal yang berbeda.