
Anika sedang memasak untuk makan malam saat tiba-tiba perutnya terasa amat sakit, dia hampir saja jatuh tersungkur jika saja tidak ada seseorang yang menolongnya.
"Hati-hati Ma, Mama sakit?" Kaisar dengan sigap menahan tubuh Anika yang hampir saja terjatuh.
"Perut Mama sakit banget Kai." Jelas Anika sambil berusaha mengambil keseimbangan lagi.
"Kenapa Ma? Asam lambung Mama kambuh kali." Kaisar mencoba mengira-ngira.
Anika geleng-geleng kepala wajahnya terlihat pucat, "Nggak tau nak, mungkin iya."
"Ya udah, Mama duduk dulu ya biar Kai bantu." Kaisar membantu Anika untuk duduk di kursi ruang makan, sebelumnya Kaisar mematikan kompor terlebih dahulu.
"Kai ambil obat dulu ya, Mama tunggu sini." Setelah memastikan Anika sudah duduk, Kai langsung pergi untuk mengambil obat.
Anika menundukkan kepalanya di atas meja makan, tangan kanannya menahan perut yang terasa sakit itu.
"Kenapa?" Tanya seseorang kepada Anika yang membuat wanita paruh baya itu mengangkat kepalanya.
"Mungkin asam lambungku kambuh." Jawab Anika sambil meringis kesakitan.
"Ah maaf aku belum menyelesaikan masakannya kamu pasti sudah lapar ya, aku selesaikan dulu masakanku." Anika berusaha berdiri meski sakit di perutnya belum hilang.
__ADS_1
"Tidak perlu." Jawab orang itu singkat.
"Kenapa? Apa kamu mau makan di..." Anika belum menyelesaikan perkataannya saat orang itu berjalan pergi ke arah dapur.
"Apa yang mau kamu lakukan?" Tanya Anika lagi, namun orang itu tidak menjawab. Dia justru menyalakan kompor dan melanjutkan pekerjaan Anika yang sempat tertunda tadi yaitu memasak.
"Hei tidak perlu, biar aku saja yang memasak." Anika berusaha mencegah dan hendak menghampiri orang itu namun dihalangi oleh Kaisar.
"Aduh Mama ini, duduk dulu biar sakitnya reda. Nih obatnya, diminum dulu Ma." Kaisar mendudukan Anika lagi kemudian mengeluarkan obat dari bungkusnya.
"Minumnya mana nak?" Tanya Anika setelah menerima obat dari Kaisar.
"Minum Ma!" Kaisar membantu Anika untuk minum, sementara itu aroma masakan mulai tercium menggelitik hidung penguhuni rumah tersebut.
"Ah enaknya." Celoteh Kaisar sambil memejamkan mata kala mencium aroma sedap masakan yang sudah mulai matang itu.
"Udah Pa masaknya?" Tanya Kaisar pada orang yang sedang memasak itu yang tidak lain adalah Rendra.
"Belum, sebentar lagi." Jawab Rendra sambil mengolah masakan di atas wajan.
"Oke selesai!" Lanjut Rendra kemudian dengan gerakan cepat dia segera menyiapkan masakan itu ke dalam piring gerakannya begitu lincah seperti sudah biasa dia memasak.
__ADS_1
"Kai bantu ya Pa." Kaisar menghampiri Rendra dan membantu menyiapkan makanan itu untuk disajikan di atas meja makan.
Rendra tersenyum ke arah Kaisar, sebelum dia ikut bergabung di meja makan, dia lebih dulu membereskan peralatan masak yang baru saja dipakainya kemudian dikumpulkan di tempat cuci piring. Tidak tidak, dia tidak langsung mencuci peralatan masak itu dia hanya mencuci tangannya sebelum makan bersama.
Kemudian Rendra menghampiri Anika dan juga Kaisar yang sudah duduk rapi di meja makan, Rendra tersenyum ke arah keduanya.
"Sudah mendingan?" Rendra bertanya kepada Anika sambil duduk disampingnya.
Anika tersenyum kemudian menjawab, "Iya, sudah mendingan. Kamu masih pintar memasak rupanya." Puji Anika tulus.
"Yah! Memasak adalah keahlian terpendamku." Jawabnya dengan menunjuk makanan yang sudah tersaji rapi di atas meja makan.
"Baiklah mari makan." Ucap Anika kemudian dia mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya itu kemudian dia mengambilkan juga untuk Kaisar.
"Wah rasanya enak sekali! Bahkan lebih enak dari masakanku sendiri!" Anika berkata setelah mencicipi satu suapan.
Rendra menyeringai, "Heh kamu baru sadar." Katanya yang langsung disambut tawa oleh ketiganya.
'Syukurlah mereka baik-baik saja. Setidaknya kekhawatiranku tadi tidak terjadi." Batin Kaisar sambil mengamati kedua orang tuanya yang duduk dihadapannya saling melempar candaan.
"Wah iya enak! Papa memang koki handal!" Timpal Kaisar, kemudian ketiganya makan bersama sambil ngobrol santai.
__ADS_1