Keluarga Yang Tak Dirindukan

Keluarga Yang Tak Dirindukan
Ketakutan


__ADS_3

"Mama kenapa? Kok nangis?" Adel tiba-tiba muncul diambang pintu kamar Rani, bocah kecil itu bertanya ketika melihat Rani yang tengah duduk di lantai sambil menangis sesenggukan.


Rani mendongak untuk melihat Adel sebelum menjawab, "Sini nak." Ucapnya sambil menyuruh Adel mendekat.


Adel kemudian mendekat dan langsung dipeluk oleh Rani.


"Mama nangis kenapa?" Tanya Adel lagi karena belum mendapat jawaban.


"Papa mu nak, Papa mu jahat sama Mama." Jawab Rani yang masih memeluk Adel.


"Papa jahat sama Mama? Emangnya Mama salah apa?" Adel terus bertanya dengan polosnya.


Rani kemudian melepaskan pelukannya sebelum berkata, "Papa mu mau berpisah dengan Mama. Dia sudah tidak mau lagi sama Mama."


"Sayang, kamu harus membenci Papa, karena dia sudah jahat!" Lanjut Rani.


Adel terkejut kemudian berdiri sebelum menjawab, "Kok Mama ngajarin Adel hal buruk? Itu kan nggak boleh."


"Pokoknya kamu harus menuruti Mama!" Kata Rani yang ikut berdiri.


"Nggak mau! Adel nggak mau jadi orang jahat!" Jawab bocah itu tak mau kalah.


"Turuti Mama sayang, kalau Papa saja tidak sayang sama Mama, dia juga nggak bakalan sayang sama Adel." Ucap Rani sambil memegangi kedua pundak Adel.


"Adel nggak mau Ma." Jawab Adel.


Rani merasa frustasi, dia menjambak rambutnya sendiri karena merasa putus asa.


"Sial!" Umpatnya dengan keras sampai membuat Adel tersentak dan mulai menangis ketakutan.


"Diam!" Bentak Rani kepada Adel dengan cukup kasar ketika mendengar bocah kecil itu menangis.


Bukannya diam Adel justru semakin menangis sejadi-jadinya.


Rani begitu frustasi karena akan diceraikan Rendra sehingga dia melampiaskan kemarahannya kepada Adel.

__ADS_1


***


"Mau sampai kapan Mama tidur? Ini sudah waktunya Mama bangun." Ucap Kaisar kepada Anika yang masih tak sadarkan diri.


Malam itu Kaisar terlihat tidak baik-baik saja, wajahnya begitu pucat dan badannya semakin kurus karena beberapa hari terakhir semenjak Anika dirawat, pemuda itu tak pernah menjaga pola makannya apalagi kepalanya dipenuhi pikiran-pikiran yang seharusnya tak dia pikirkan.


"Lusa Kai mulai ulangan kenaikan kelas Ma, Mama cepet sadar ya, Kai mau Mama marahin Kai kalau Kai nggak belajar." Ucap pemuda itu dengan tertawa kecil.


Kaisar mengusap-usap punggung tangan Anika sambil berkata, "Mama jangan khawatir, Kaisar kuat kok sekarang ada dokter Revan dan tante Elena yang memperhatikan Kai, jadi Kai nggak kesepian."


"Mama tahu? Papa udah tahu semuanya kalau Mama nggak bersalah, dan Papa hari ini datang kesini buat jengukin Mama."


"Kaisar nggak tahu harus bagaimana Ma, di satu sisi Kaisar seneng Papa udah nggak benci lagi sama Mama, tapi di sisi lain Kaisar nggak bisa menerima Papa lagi. Kasih tahu Kai dong Ma.


Kaisar mengehela nafas panjang sebelum melanjutkan bicaranya, "Tadi sore dokter Revan menasihati Kai, kalau Kai nggak boleh benci sama Papa dan harus bisa memaafkan Papa, kata dokter Revan karena dengan membenci keadaan tidak bisa berubah. Apa yang dikatakan dokter Revan emang bener sih, tapi kalau boleh jujur Kaisar nggak bisa melupakan dan memaafkan perbuatan Papa gitu aja. Kasih tahu Kai dong Ma, apa yang harus Kai lakukan?"


Kaisar meletakkan kepalanya di tempat tidur Anika dengan berbantalkan kedua tangannya sendiri.


"Apa salah kalau Kai benci sama Papa karena Papa sudah keterlaluan sama Mama?" Tanya Kaisar sambil memejamkan matanya.


"Mama?!" Ucap Kaisar terkejut ketika mengetahui Anika lah yang menyentuh kepalanya.


Anika terlihat tersenyum tipis namun masih cukup terlihat.


"Mama udah sadar?" Tanya Kaisar begitu antusias.


Anika tidak menjawab, wanita paruh baya itu hanya menganggukkan kepalanya pelan karena dia baru saja sadar dari masa kritisnya sehingga belum bisa banyak bergerak.


"Kai panggilkan dokter dulu Ma, tunggu sebentar!" Saat Kaisar sudah berdiri dan hendak melangkah pergi, tangannya ditahan oleh tangan Anika agar dia tidak pergi.


Kaisar kemudian menoleh sebelum bertanya, "Mama membutuhkan sesuatu?"


"Tetaplah disini, Mama ingin ngobrol sama kamu." Jawab Anika dengan suara yang lemah.


Kaisar menuruti permintaan Anika kemudian dia duduk kembali.

__ADS_1


"Maaf nak, selama ini Mama membuatmu khawatir dan merasa kesulitan." Kata Anika kemudian setelah Kaisar duduk.


"Mama ini ngomong apa sih? Kai nggak kesulitan apa-apa kok, banyak yang bantu Kai disini, ada tante Elena sama dokter Revan yang selalu membantu Kai."


"Syukurlah, tapi kenapa tubuhmu semakin kurus? Kamu makannya nggak teratur ya?"


Kaisar mengusap tengkuk lehernya dia mengalihkan pandangannya sebelum menjawab, "Hehe ya ini kan wajar Ma, soalnya nggak ada yang Masakin Kai sih..."


Anika memukul pelan tangan pemuda tersebut sehingga membuat Kaisar menoleh ke arahnya, "Alasan!" Ucap Anika.


"Pokoknya Mama nggak boleh sakit lagi, Mama harus sehat dan kita bisa hidup bahagia." Kata Kaisar yang mengalihkan pembicaraannya.


"Pasti!" Jawab Anika singkat.


Saat Kaisar sedang memainkan jari-jari tangan Anika, wanita paruh baya tersebut tiba-tiba berbicara yang membuat Kaisar seketika mematung, "Jangan terlalu membenci Papamu."


"Apa maksud Mama?" Tanya Kaisar kemudian menoleh ke arah Anika.


"Papa mu mungkin sudah melakukan kesalahan yang fatal, tapi dia sudah sadar dan berusaha memperbaiki kesalahannya."


"Udah deh Ma! Kalau Mama cuma mau ngomongin Papa, mending Kaisar pergi!" Jawab Kaisar.


"Mama sudah ikhlas nak, Mama ikhlas atas semua yang terjadi selama ini. Jika berpisah dari Papa mu membuatmu bahagia, pasti akan Mama lakukan. Karena tujuan Mama sekarang adalah kebahagiaan kamu." Anika sungguh-sungguh dengan ucapannya.


Bukannya senang, Kaisar justru semakin berat hati untuk membawa Anika pergi setelah mendengar perkataan dari Mamanya tersebut.


"Mama baru saja sadar, kita pikirkan itu nanti ya." Ucap Kaisar sambil tersenyum lembut.


Tapi Kaisar mendapati Mamanya hanya diam mematung, Anika bahkan tak berkedip sekalipun. Hal itu membuat Kaisar panik dan memanggil Anika berulang kali.


"Mama! Mama!" Panggil Kaisar histeris namun Anika tetap diam dan tak berkedip. Kaisar takut kalau pembicaranya barusan adalah pembicaraan yang terakhir kalinya dengan Anika.


"Mama!!" Kaisar membuka matanya ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa dirinya begitu terkejut.


Dengan peluh yang menetes diwajahnya, dia menoleh ke arah Anika, "Astaga cuma mimpi."

__ADS_1


"Mama... Cepatlah sadar, Kai takut mimpi tadi jadi kenyataan." Kata pemuda tersebut dengan lirih.


__ADS_2