Keluarga Yang Tak Dirindukan

Keluarga Yang Tak Dirindukan
Pertemuan Dua Wanita


__ADS_3

Terlihat dua orang perempuan paruh baya sedang duduk berhadap-hadapan di sebuah ruangan. Yang satu memakai seragam berwarna biru dongker, entah seragam apa itu sedangkan yang satu memakai pakaian biasa. Keduanya diam cukup lama sambil memandang mata masing-masing sebelum akhirnya salah satu perempuan berpakaian biasa membuka suara.


"Jadi... Kamu orang dibalik semua ini?" Tanya perempuan berpakaian biasa itu dengan dingin.


Sedangkan wanita berpakaian seragam biru dongker menatapnya dengan tatapan yang begitu dingin.


"Kenapa? Kenapa kamu melakukan semua ini, Rani?"


Rani hanya diam dan menatap dingin mata Anika sebelum Anika mengulangi pertanyaannya, "Kenapa? Jawab!"


"Karena aku membenci kamu, Ika! Aku membenci kalian semua!" Jawab Rani dengan suara yang cukup keras.


"Kenapa kamu membenciku? Apa salahku padamu?" Anika sungguh terkejut dan tak habis pikir dengan jawaban yang didengarnya. Apa kesalahannya? sampai Rani harus membencinya seperti itu.


Rani menatap Anika dengan tatapan tajam seolah bisa menebasnya saat itu juga, "Kalian itu kesalahan! Kalian adalah sumber masalah dalam kehidupanku!"


Anika menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum berkata, "Memang apa yang ku lakukan pada dirimu? Aku menganggapmu sebagai temanku sendiri, bahkan aku menganggapmu sebagai saudara karena kamu adalah istri Rendra. Tapi kenapa kamu tega Rani, kenapa?!"

__ADS_1


"Karena kalian keluargaku hancur! Orang tuaku meninggal karena kalian! Harusnya kamu juga harus meninggal Ika! Tapi kenapa kamu kembali dan muncul di hadapanku sekarang hah?!"


"Aku tidak habis pikir, wanita yang aku anggap sebagai saudaraku, ternyata musuhku yang sebenarnya." Anika sudah kehilangan kesabaran karena terus disalahkan oleh Rani.


"Kamu saja yang bodoh karena percaya dengan orang lain semudah itu! Aku bahkan miris melihat nasib pernikahanmu." Rani terus mengompori perasaan Anika.


"Suami yang kamu banggakan bahkan sampai mengkhianatimu, jika aku jadi dirimu mungkin aku memilih mati dari dulu." lanjut Rani.


"Aku yakin, setelah si Rendra yang bodoh itu mengetahui kebenarannya, dia pasti datang padamu dan meminta maaf serta memintamu kembali padanya bukan? Hahaha terima saja Ika, karena bodoh sama bodoh itu cocok." Rani tertawa lantang puas dengan apa yang dikatakannya.


Anika memilih tak menanggapi perkataan Rani, dia bangkit dari tempat duduknya lalu berkata, "Kamu memang pantas berada di tempat ini!"


Anika kembali menatap Rani sebelum berkata, "Jalani hukuman mu dengan baik Rani, tebuslah semua kesalahan-kesalahanmu. Dan hiduplah dengan baik." Selepas berkata demikian Anika langsung pergi meninggalkan Rani.


"Siapa kamu sampai berbicara seperti itu hah?!" Rani berteriak lantang namun Anika tidak menghiraukannya. Beberapa polisi datang untuk mengamankan Rani lalu dibawa kembali ke sel tahanan.


***

__ADS_1


Anika berjalan seorang diri sebuah taman, sore itu cuaca terlihat begitu cerah sehingga itu adalah waktu yang tepat untuk menenangkan diri di taman.


Anika duduk disalah satu bangku yang terletak di taman tersebut, "Apa aku tidak pantas bahagia?" Katanya pada diri sendiri.


"Kenapa orang-orang yang aku percaya semuanya mengkhianatiku? Dari teman, bahkan suamiku sendiri." Katanya lagi dengan tersenyum kecut.


Anika menghela nafas beberapa kali sebelum berkata, "Apa memang Tuhan menakdirkanku untuk hidup berdua saja bersama Kaisar tanpa pasangan yang menemani?"


Anika memandang ke arah depan matanya tak sengaja menatap sebuah keluarga yang sedang bermain di taman tersebut dengan tawa bahagia, tanpa dia sadari senyuman terukir indah di bibirnya.


"Keluarga yang bahagia..." Ucapnya lirih.


Ada perasaan iri menyelinap di hati Anika, jika dipikir kembali, Anika hanya merasakan kebahagiaan pernikahan beberapa tahun saja, selebihnya hanya sakit dan penderitaan yang diterimanya selama ini.


Anika memejamkan matanya cukup lama sambil menghirup udara segar disekitarnya. Pikiran Anika dipenuhi oleh Rendra dan Revan dimana kedua orang tersebut tengah menunggu jawabannya.


"Rendra, Revan."

__ADS_1


"Revan, Rendra." Anika terus mengulang-ulang kedua nama tersebut.


"Baik, sudah ku putuskan!" Ucapnya kemudian dia pergi meninggalkan taman tersebut.


__ADS_2